PedomanBengkulu.com, Bengkulu — Kepolisian Sektor (Polsek) Gading Cempaka Kota Bengkulu melaksanakan razia di panti pijat dan warung remang-remang yang ada di Kawasan Lapangan Golf Kota Bengkulu, Jumat malam (28/2/2020).

Dalam razia tersebut, petugas menemukan puluhan liter Minuman Keras (Miras) tradisional jenis tuak yang kemudian Miras tersebut langsung dimusnahkan dengan cara dibuang di lokasi. Namun setelah selesai melaksanakan razia, polisi terpaksa kembali lagi di lokasi panti pijat dan warem karena diduga telah terjadi keributan antara pemilik panti pijat dan Warem dengan warga yang tinggal di sekitaran panti pijat dan warem itu.

Usut punya usut, keributan dipicu oleh pemilik panti pijat dan warem yang diduga melempari rumah warga, karena diduga pemilik tempat maksiat tersebut menganggap warga telah menjadi provokator atas razia yang dilaksanakan anggota kepolisian dan Satpol PP Kota Bengkulu beberapa waku lalu. Karena merasa geram dengan aksi pelemparan yang dilakukan pemilik warem dan panti pijat, warga kemudian berbondong-bondong mendatangi lokasi panti pijat dan warem. Setelah tiba di lokasi, warga dan pemilik tempat maksiat itu pun terlibat adu mulut bahkan nyaris adu jotos.

Liya, salah satu warga sekitar panti pijat dan warem menegaskan, pelemparan terhadap rumah sebelumnya telah terjadi saat panti pijat dan warem tersebut selesai di razia. Dan pelemparan yang menyebabkan atap rumah jebol kembali terjadi pasca tempat tersebut dirazia, selain melakukan pelemparan pemilik warem dan panti pijat diduga sempat melakukan pengancaman terhadap warga.

“Jadi razia, disangkanya aku yang melaporkan, jadi yang dilempar rumah aku, dari malam dulu sama malam ini tadi, jadi atap rumahku jebol, jadi kami tidak senang. Aku diancam habis melempar tadi mau di kapak, mau dibakar katanya juga rumahnya. Jadi banyak keributan, malam kemaren mereka-mereka ini mendatangi puri nirwana dan malam ini rumah kami itu,” kata Liya.

Liya mengungkapkan, warem dan panti pijat tersebut telah beraktifitas sejak 2014. Pemilik tempat maksiat itu sempat berjanji akan menutup usahanya pada tahun 2017 namun hingga kini penutupan tidak dilaksanakan dan justru tempat maksiat di kawasan itu semakin bertambah. Jika panti pijat dan warem di kawasan tersebut tetap dibiarkan oleh Pemerintah Kota (Pemkot) Bengkulu dampak kedepannya sangat negatif baik bagi warga sekitar, terutama bagi kaula muda.

“Kepada bapak Walikota Bengkulu kami mohon dengan sangat, kami warga meminta agar tempat tersebut kalau tidak bisa diberhentikan paling tidak dipindahkan, kalau bisa harus berhenti, itu yang kami harap karena dampaknya itu pasti, kayak tadi suami aku mau di kapak tadi kan, setidaknya kalau mereka-mereka dekat rumah aku mau ngapak kita juga bagaimana kata kita, pasti aja kita balas, kalau sudah berceceran, sudah berpotongan tadi bagaimana lagi, makanya kayak pasar tadi,” terang Liya.

Terkait dengan hal ini, maka dapat disimpulkan bahwa Pemkot Bengkulu harus bertindak jangan sampai hal serupa kembali terjadi. Selain itu, dengan adanya tempat seperti itu tentunya bertentangan dengan program Walikota Bengkulu untuk menjadikan Kota Bengkulu religius dan bahagia. [Anto]