Pedomanbengkulu.com, Bengkulu Utara – Menanggapi keluhan masyarakat mengenai mobil batu bara yang melintas di Jalan Desa Urai, Desa Serangai, Desa Air Lakok dan Desa Selolong. Camat Batiknau, perwakilan Kades, Kepolisian, TNI dan pihak perusahan batu bara mengadakan rapat koordinasi untuk membahas permasalahan tersebut, Rabu (26/2/2020) di Aula Kantor Kecamatan Batiknau.

Iptu Susilo selaku Kapolsek Batiknau mengatakan sebelum diadakan rapat ini masyarakat telah melaporkan keluhannya kepada dirinya tentang mobil batu bara yang selama ini meresahkan warga. Pihak pertambangan telah diundang tiga untuk menghadiri rapat tetapi belum mendapatkan respon dan masyarakat akan melakukan pemblokiran jalan di Jalan Lintas Urai, Selolong, dan Serangai apabila keluhan tersebut tidak tanggapi. Rapat ini diadakan untuk mencari solusi dari pihak pertambangan dan masyarakat.

“Mencari solusi antara perusahaan batu bara dengan masyarakat karena perusahaan terganggu dan masyarakat terganggu,” ungkap Kapolsek.

Kades Urai Nodi Haryanda menjelaskan bahwa masyarakat meminta pihak pertambangan untuk memperbaiki jalan tersebut, karena jika dilihat dari kondisi fisik jalan tersebut sudah tidak layak untuk dilewati, supir mobil yang ugal-ugalan dan apabila mobil angkutan batubara terus melewati jalan tersebut dengan muatan di atas rata-rata akan mengakibatkan jalan akan semakin rusak. Dilain sisi jalan lintas tersebut disebut jalan non status karena pemerintah Kabupaten dan provinsi tidak mengakui jalan tersebut sebagai jalan nasional.

“Sudah menghadap gubernur, bupati mengenai jalan ini, tetapi tidak diakui dan disebut jalan non status, pembangunan pun dari penggalangan bencana dan masyarakat resah karena sopir ugal-ugalan dan debu,” ungkap Kades.

Perwakilan pihak pertambangan batubara Amrizal dari PT Ocbama mengatakan dirinya siap membantu dan meminta pihak kecamatan untuk membuat Rancangan Anggaran Pembangunan (RAB) dan menunggu keputusan dari semua perusahaan yang melewati jalan tersebut. Dirinya juga mengatakan akan mematuhi peraturan hukum yang berlaku dan meminta untuk menegur supir apabila tetap lewat jalan tersebut.

“Belum dapat memberi kesimpulan karena menunggu perusahaan-perusahaan lain, bukan kami ngeles tentu setidak-tidaknya ada dua hal perusahaan transportasi yang menggunakan jalur tersebut dan akan mematuhi peraturan hukum yang berlaku ketika ada sopir yang menyalahi aturan di jalan raya,” ungkapnya.

Camat Batiknau Sabani mengharapkan pihak batubara untuk memperbaiki jalan dengan melibatkan perusahaan, terpal penutup batubara diperbaharui dan dilakukan penyiraman. Jika tidak ada solusi, mobil batubara tidak boleh melintasi jalan tersebut dan dirinya akan memperbaiki sendiri.

“Mobil batu bara tidak boleh melewati jalan tersebut sebelum ada kejelasan dari perusahaan dan saya minta perusahaan untuk berkoordinasi dengan perusahaan lain untuk melakukan musyawarah mengenai permasalahan ini,” pungkasnya. [Sugeng]