PedomanBengkulu.com, Bengkulu – Dalam rangka meningkatkan pariwisata Bengkulu maka sangat dibutuhkan pemandu wisata yang handal dan profesional.

Anggota DPR RI Komisi X, Drh. H. Dewi Coryati, M.Si mengatakan, pemandu wisata adalah garda depan pariwisata dan setiap orang orang harus mempromosikan pariwisata.

Ia mencontohkan bagaimana besarnya dampak ketika seorang pemandu wisata profesional mempromosikan Benteng Marlborough yang merupakan benteng terbesar di Asia.

Eh ibu, kamu tahu Benteng Marlborough? Itu benteng terbesar di Asia. Disitu ada pintu ada pintu yang sangat original,” kata Dewi Coryati sambil dengan kreatif mencontohkan cara mempromosikan pariwisata saat ditemui di Hotel Refflesia, Rabu (11/3/2020).

Menurutnya, seorang pemandu wisata yang baik pasti mampu mengemas promosi sebuah kawasan wisata yang biasa menjadi luar biasa.

“Orang yang biasa-biasa saja, ketika mendengar maka ada ketertarikan sendiri untuk datang ke Bengkulu,” tambahnya.

Menurutnya, potensi wisata di Bengkulu sangatlah besar, hanya membutuhkan waktu dan keinginan berkaloborasi untuk meningkatkan setiap asek kepariwisataan.

“Kita hanya membutuhkan waktu dan mau berkolaborasi untuk meningkatkan pariwisata,” katanya.

Diketahui, Benteng Marlborough merupakan benteng peninggalan Inggris di kota Bengkulu. Benteng ini didirikan oleh East India Company (EIC) tahun 1714-1719 di bawah pimpinan gubernur Joseph Callet sebagai benteng pertahanan Inggris.

Benteng ini didirikan di atas bukit buatan, menghadap ke arah kota Bengkulu dan memunggungi samudera Hindia.

Marlborough masih berfungsi sebagai benteng pertahanan hingga masa Hindia Belanda tahun 1825-1942, Jepang tahun 1942-1945, dan pada perang kemerdekaan Indonesia.

Sejak Jepang kalah hingga tahun 1948, benteng itu manjadi markas Polri. Namun, pada tahun 1949-1950, benteng Marlborough diduduki kembali oleh Belanda.

Setelah Belanda pergi tahun 1950, benteng Marlborough menjadi markas TNI-AD. Hingga tahun 1977, benteng ini diserahkan kepada Depdikbud untuk dipugar dan dijadikan bangunan cagar budaya. [Medi Muamar]