Oleh: Arie Vatresia, Ph.D1, Dosen Informatika, Fakultas Teknik, Universitas Bengkulu

Akhirnya Indonesia menetapkan status bencana nasional setelah salah seorang menteri di kabinet baru positif terkena virus Corona. Tamparan yang lumayan keras, membuat pemerintahan Jokowi babak belur di tahun pertama di pemerintahan periode ke dua ini. Setelah menafikkan surat dari WHO yang menginstruksikan Indonesia untuk sadar Corona, akhirnya mereka menyerah dengan kesombongannya bahwa Indonesia bebas dari Corona.

Negeri ini memang lucu, penyakit yang
dianggap serius di seluruh dunia masih menjadi bahan lawakan dari kaum proletral sampai kaum elit di atas sana, bahkan banyak menteri di kabinet Republik ini menyatakan bahwa Corona tidak perlu
dikhawatirkan dan tidak perlu lebay. Alhasil, Indonesia sekarang memiliki persentase tertinggi pada kematian di banding seluruh dunia, yang seharusnya hanya 2% menjadi 8% dari jumlah kasus terjangkit.

Ada apa dengan Indonesia? Di samping meng-underestimated jumlah korban yang terjangkit, hal lain yang perlu kita sadari adalah minimnya standar kesehatan di masyarakat Indonesia saat ini.

Bagaimana tidak? Hanya sebagian kecil saja masyarakat yang peduli dengan penyakit Corona ini dibandingkan dengan negara lain. Hal ini karena minimnya sosialisasi dini terkait bencana virus Corona ini. Akibatnya ketidakwaspadaan warna Indonesia menjadi corong utama penularan yang tinggi saat
ini. Contohnya dari kasus perhelatan akbar di Malaysia saja, terdapat 600 orang jamaah Indonesia yang mengikuti kegiatan tersebut namun yang melapor ke faskes hanya 1 orang saja yang notabene akhirnya dinyatakan positif terjangkit Corona.

Hal ini tentu sangat disayangkan. Lebih jauh lagi, ternyata fasilitas kesehatan di Indonesia tidak mencukupi untuk menampung semua aspirasi rakyat yang perduli dengan Corona, lebih lanjut lagi pemerintah juga belum memiliki standard operasional procedure yang jelas ketika seorang merasa bahwa dirinya terjangkit Corona.

Lockdown?

Dalam hal ini Pemerintah terkesan lamban dan setengah setengah, hal ini diungkapkan pada media Kompas: “Boleh jadi, meski tidak kita harapkan, Virus Corona juga bisa menjangkau negeri ini. Apalagi di Singapura, seorang WNI positif terjangkit Virus Corona,” (Kompas.com, 4/2/2020).

Dapat dilihat bahwa gejala penyakit ini telah terlihat pada awal Februari 2019 namun Pemerintah baru mengeluarkan fatwanya pada 15 Maret 2019.

Tentu saja, kebijakan lamban pemerintah terhadap mewabahnya Covid-19 ini, menjadi salah satu penyebab masuknya virus corona di Nusantara. Sejak awal, pemerintah harusnya melakukan langkah tegas. Seharusnya pemerintah menutup kran ekspor- impor barang masuk dari negara-negara terdampak, menutup sementara masuknya wisatawan asing
terutama dari negara yang terkena wabah dan tidak lagi memasukan imigran atau TKA dari China.

Pemerintah harusnya serius melindungi warganya dari ancaman virus corona.
Kebijakan ini juga dinilai setengah-setengah dikarenakan pemerintah khawatir apabila Indonesia di lockdown secara total, kemungkinan perekonomian Indonesia akan ikut lockdown. Hal ini sudah dapat
tergambar dengan kebijakan semi lockdown saat ini telah mampu membuat nilai rupiah tembus 16,000 terhadap dollar US.

Sungguh peristiwa yang sangat menyedihkan, babak belur dikeroyok Corona dan perekonomian Kapitalis yang menggigit. Masyarakat akhirnya antihesis, alhasil, di kota kota seluruh Indonesia, aktivitas luar rumah tetap dijalankan, kata orang pasar, nanti gara gara Corona malah mati kelaparan bukan karena terjangkit penyakit.

Negara Peran Sentral

Islam selalu menunjukkan keunggulannya sebagai agama sekaligus ideologi yang lengkap. Islam mengatur semua hal dan memberikan solusi atas segenap persoalan. Islam telah lebih dulu dari masyarakat modern membangun ide karantina untuk mengatasi wabah penyakit menular.

Dalam sejarah, wabah penyakit menular pernah terjadi pada masa Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam Wabah itu ialah kusta yang menular dan mematikan sebelum diketahui obatnya.

Untuk mengatasi wabah tersebut, salah satu upaya Rasulullah adalah menerapkan karantina atau isolasi terhadap penderita.

Ketika itu Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam memerintahkan untuk tidak dekat-dekat atau melihat para penderita kusta tersebut. Beliau bersabda: Janganlah kalian terus-menerus melihat orang yang mengidap penyakit kusta (HR al-Bukhari).

Dengan demikian, metode karantina sudah diterapkan sejak zaman Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam untuk mencegah wabah penyakit menular menjalar ke wilayah lain.

Untuk memastikan perintah tersebut dilaksanakan, Rasul Shallallahu’alaihi wasallam membangun tembok di sekitar daerah yang terjangkit wabah. Peringatan kehati-hatian pada penyakit kusta juga dikenal luas pada masa hidup Rasulullah. Abu Hurairah ra. menuturkan bahwa Rasulullah bersabda,

“Jauhilah orang yang terkena kusta, seperti
kamu menjauhi singa.” (HR al-Bukhari).
Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam. juga pernah memperingatkan umatnya untuk jangan mendekati wilayah yang sedang terkena wabah. Sebaliknya, jika sedang berada di tempat yang terkena wabah, mereka dilarang untuk keluar.

Beliau bersabda: Jika kalian mendengar wabah terjadi di suatu wilayah, janganlah kalian memasuki wilayah itu. Sebaliknya, jika wabah itu terjadi di tempat kalian tinggal, janganlah kalian meninggalkan tempat itu. (HR al-Bukhari).

Pada zaman Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam, jika ada sebuah daerah atau komunitas terjangkit penyakit Tha’un, beliau memerintahkan untuk mengisolasi atau mengkarantina para penderitanya di tempat isolasi khusus. Jauh dari pemukiman penduduk. Ketika diisolasi, penderita diperiksa secara detail. Lalu dilakukan langkah-langkah pengobatan dengan pantauan ketat. Para penderita baru boleh meninggalkan ruang isolasi ketika dinyatakan sudah sembuh total.

Pada masa Kekhalifahan Umar bin al-Khaththab juga pernah terjadi wabah penyakit menular. Diriwayatkan: Khalifah Umar pernah keluar untuk melakukan perjalanan menuju Syam. Saat sampai di wilayah bernama Sargh, beliau mendapat kabar adanya wabah di wilayah Syam.

Abdurrahman bin Auf kemudian mengabari Umar bahwa Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam pernah bersabda, “Jika kalian mendengar wabah terjadi di suatu wilayah, janganlah kalian
memasuki wilayah itu. Sebaliknya, jika wabah terjadi di tempat kalian tinggal, janganlah kalian meningggalkan
tempat itu.” (HR al-Bukhari).

Hal ini terjadi ketika wabah Tha’un yang melanda seluruh negeri Syam, wabah ini telah memakan korban 25.000
jiwa lebih. Bahkan di antara para sahabat ada yang terkena wabah ini. Mereka adalah Abu Ubaidah bin Jarrah, al-Harits bin Hisyam, Syarahbil bin Hasanah, Fadhl bin Abbas, Muadz bin Jabal, Yazid bin Abi Sufyan dan Abu Jandal bin Suhail.
Islam pun memerintahkan umatnya untuk senantiasa menjaga kebersihan diri maupun lingkungan sekitar.

Untuk itulah Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam pun misalnya, senang berwudhu, bersiwak, memakai wewangian, menggunting kuku dan membersihkan lingkungannya. Namun demikian, penguasa pun punya peran sentral untuk menjaga kesehatan warganya.

Apalagi saat terjadi wabah penyakit menular. Tentu rakyat butuh perlindungan optimal dari penguasanya. Penguasa tidak boleh abai. Para penguasa Muslim pada masa lalu, seperti Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam dan Khalifah
Umar bin al-Khaththab ra., sebagaimana riwayat di atas, telah mencontohkan bagaimana seharusnya penguasa bertanggung jawab atas segala persoalan yang mendera rakyatnya, di antaranya dalam menghadapi wabah penyakit menular.

Wallahua’lam bi showab.