Oleh: Neni Citra Dewi

O-oh apa yang terjadi terjadilah yang dia tahu tuhan penyayang umat-Nya, O-oh apa yang terjadi terjadilah yang dia tahu hanyalah penyambung nyawa…

Sepenggal lirik lagu yang dipopulerkan oleh Titiek Puspa. Lirik yang amat dalam, sarat makna menyayat jiwa.Tembang yang luar biasa, menggambarkan perjuangan perempuan dalam memenuhi kebutuhan hidup, hingga rela menjadi seorang kupu-kupu malam. Menggelapkan mata hati ruh jiwa berharap kepada para pendosa. Arus kehidupan yang seperti ini menjadi problematika yang akut bagi perempuan. Tututan ekonomi dan materi sehingga membuat mereka menangis dibalik senyuman manis.

Tuntutan materi dan ekonomi mengubah peran perempuan dari tulang rusuk menjadi tulang punggung sehingga perempuan tidak lagi menjadi pengatur keperluan domestik keluarga. Menjadi tulang punggung adalah pilihan yang sangat sulit bagi kaum perempuan.

Melansir BBC bahkan ada satu desa TKI, 350 anak terlantar yang tidak diasuh orang tuanya. Berdasarkan penelitian Yayasan Tunas Alam Indonesia (Santai) tahun 2015, di desa Wanasaba Kabupaten Lombok Timur Nusa Tenggara Barat terdapat lebih dari 350 anak (0-18 tahun) yang ditinggal oleh ibu atau bapak dan bahkan keduanya untuk bekerja di negara-negara seperti Malaysia, Singapura, Hong Hong dan negara-negara Timur Tengah. Jumlah yang hampir sama juga ditemukan di desa tetangganya, Lenek Lauk.

Beberapa negara yang mempunyai peranan tertinggi dalam hal memberdayakan pekerja perempuan seperti Molawi, Mozambik, dan Burundi, dengan tenaga kerja perempuan lebih besar dari tenaga kerja laki-laki (Laporan Forum Ekonomi Dunia 2013). Namun, negara-negara ini tidak mampu menghapus kemiskinan.

Dalam penuntasan problematika tersebut FEMINISME dijadikan alibi, sehingga perempuan merasa setara dengan laki-laki. Perempuan bekerja layaknya laki-laki yang menjadi power dalam keluarga bak wonder women yang perkasa. sesungguhnya ini adalah sebuah kesalahan yang tidak dibenarkan dalam islam.

Islam tidak memberlakukan KESETARAAN GENDER antara perempuan dan laki-laki. Secara umum, Islam memandang laki-laki dan perempuan setara dalam kewajiban beribadah dan pahalanya. Setara dalam hal meraih kemuliaan di sisi Allah Subhana wa ta’ala, sama-sama mencari ridho Allah lewat taklif hukum yang berdasar dari Al-Quran dan Hadist, dimana perempun dan laki-laki saling bersinergi sesuai kodratnya.

Allah Subhana wa ta’ala berfirman, “Dan orang-orang yang beriman, lelaki dan perempuan, sebahagian mereka (adalah) menjadi penolong bagi sebahagian yang lain. Mereka menyuruh (mengerjakan) yang ma’ruf, mencegah dari yang munkar, mendirikan shalat, menunaikan zakat dan mereka taat pada Allah dan Rasul-Nya. Mereka itu akan diberi rahmat oleh Allah; sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” (QS. At-Taubah: 71).

Jadi menyetarakan laki-laki dan perempuan dalam semua peran, kedudukan, status sosial, pekerjaan, jenis kewajiban dan hak sama dengan melanggar kodrat. Terbukti jelas bahwa paham FEMINISME membuat perempuan menyimpang dari kodratnya. Islam memberi tanggung jawab dalam memenuhi tuntutan ekonomi dan materi keluarga kepada kaum laki-laki. Sebagaimana firman Allah:

“Kaum laki-laki menjadi pemimpin bagi kaum wanita, oleh karena Allah telah melebihkan sebagian mereka (laki-laki) atas sebagian yang lain (wanita) dan karena mereka (laki-laki) telah menafkahkan sebagian dari harta mereka…” (QS An-Nisa: 34)