Septa Hidayat

Banyak cara yang dilakukan musuh musuh Islam untuk menghancurkan ajaran Islam dan umatnya. Salah satu cara yang ditempuh adalah dengan melemparkan tuduhan bahwa Islam identik dengan terorisme dan kekerasan (anarkisme).

Semua tuduhan-tuduhan semacam itu tidak hanya merusak citra Islam semata, namun juga menimbulkan keraguan di kalangan kaum muslim akan kebenaran agamanya sendiri, sehingga sewaktu-waktu keyakinannya mudah goyah.

Dengan adanya tuduhan-tuduhan semacam itu, musuh-musuh Islam terus saja menyebarkan fitnah bahwa seluruh kekerasan dan aksi terorisme yang mengatasnamakan Islam benar-benar bersumber dari ajaran Islam.

Situasi tersebut makin diperburuk bahwa pelaku pemboman yang berhasil ditangkap keseluruhannya beragama Islam, setidaknya menurut pengakuan atau data identitas mereka masing-masing.

Kejadian ini meninggalkan bekas luka yang sangat mendalam bagi umat Islam sendiri, seperti pada peristiwa pengeboman menara World Trade Center (WTC) di Amerika Serikat, dan beberapa peristiwa pengeboman di Indonesia seperti dua kali pemboman di Hotel JW Marriot, Kedutaan Australia, dan dua kali pemboman di Bali dan pemboman-pemboman yang lain. Seluruhnya mengidentikkan Islam adalah sebagai pihak yang bertanggung jawab atas kejadian-kejadian tersebut.

Hal-hal yang perlu diperhatikan saat ini adalah kemunduran umat islam yang diakibatkan oleh “perang” yang mungkin lebih hebat dari peperangan fisik, yakni peperangan dalam pemikiran (ghazwul fikry) dan peperangan dalam penguasaan ekonomi (gazwul iqtisady).

Berjuang atas nama Islam dengan menebar teror bom secara membabi buta, yang targetnya mungkin saja orang awan yang tidak tahu apa-apa, bahkan kaum muslim itu sendiri, jelas tidak sesuai dengan tuntunan ajaran Islam yang tercantum dalam Al-Quran dan Hadits. Walaupun si pelaku merupakan orang Islam dan mengatasnamakan Islam atas aksi-aksi yang dilakukannya.

Kemajuan ilmu dan teknologi sekarang ini praktis dikuasai oleh Negara-negara barat yang rata-rata non muslim, begitupun dalam penguasaan ekonomi. Dengan tertinggalnya dalam kedua bidang ini menyebabkan umat islam selalu terkucil dan lemah dalam penentuan kebijakan internasional.

Ketertinggalan Islam tersebut hanya bisa diperbaiki dengan memperbaiki dan meningkatkan pendidikan terhadap umat. Agar kemampuan ekonomi meningkat dan mampu mengembangkan ilmu dan teknologi yang maju.

Apabila perekonomian Negara-negara Islam maju, tentu akan memudahkan umat Islam berbicara di percaturan di dunia Internasional. Tidak seperti sekarang ini, umat Islam terpecah belah, dianggap lemah, dan hanya menjadi obyek imperialisme gaya baru, seperti yang kita lihat di Palestina, Lebanon, Irak, Afghanistan, dan di Negara-negara Afrika muslim lainnya.

Semua itu sudah menjadi tugas kita semua untuk membuktikan bahwa ajaran Islam itu tidak mendukung terorisme dan kekerasan, tetapi lebih mengutamakan kasih sayang, toleransi, dan kerukunan antar umat beragama. Akan tetapi kita semua sebagai umat Islam menyadari kelemahan-kelemahan internal yang masih menjadi pengganjal untuk kemajuan Islam itu sendiri.

Septa Hidayat, Mahasiswa IAIN Bengkulu