Peristiwa Isra Mi’raj merupakan tonggak sejarah bagi proses penyempurnaan risalah yang diterima Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam. Isra Mi’raj merupakan perjalanan di malam hari yang dilakukan Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam ke Sidratul Muntaha di langit ke tujuh.

Perjalanan dari Masjidil Haram ke Masjid al-Aqsha dan dari bumi ke Sidratul Muntaha, itu terjadi riil melibatkan ruh sekaligus fisik Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam. Allah SWT berfirman dalam Al-Qur’an Surah Al-Isra Ayat 1 :

“Mahasuci Allah yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari  Masjidil Haram ke Masjid al-Aqsha yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia adalah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.”
(Q.S.Al-Isra : 1)

Dengan menunggangi Buraq dan ditemani malaikat Jibril, Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam naik ke langit hingga lapis ketujuh, yaitu Sidratul Muntaha. Ini dilakukan dalam waktu satu malam, tepatnya pada Senin  27 Rajab tahun 621 M.

Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam bertemu dengan para Nabi pendahulunya, sekaligus mendapatkan wahyu berupa perintah melaksanakan shalat lima waktu.

Perjalanan tersebut diawali dengan melakukan perjalanan dari Mekkah ke Madinah yang dikenal dengan istilah Isra, kemudian dilanjutkan perjalanan ke langit sampai pada langit ketujuh yang dikenal dengan istilah Miraj.

Hadiah paling istimewa yang diterima Rasulullah dalam peristiwa ini ialah risalah shalat lima waktu. Shalat adalah tiang agama dan menjadi rukun kedua setelah syahadat. Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam dengan tegas mengungkapkan bahwa ia adalah pembeda antara islam dan kekufuran, beliau bersabda:

“(Pembatas) antara seorang muslim dan kesyirikan serta kekufuran adalah meninggalkan shalat.” (HR. Muslim no. 257)

Isra Mi’raj seakan menyampaikan satu pesan utama bahwa solusi dan jalan keluar niscaya akan datang bagi Muslim yang senantiasa bersabar dan berusaha. Kekuatan doa untuk mendatangkan pertolongan dari Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Mengingat, perayaan Isra Miraj tahun ini sedikit berbeda dibandingkan tahun-tahun sebelumnya karena himbauan untuk isolasi diri di rumah untuk mencegah penyebaran virus corona (Covid-19).

Perayaan Isra Miraj biasanya diisi dengan amalan dan ibadah bersama di masjid atau bahkan lapangan. Kegiatan yang dilakukan mulai dari shalat bersama, berzikir, bersalawat, hingga ceramah untuk mengenang dan mengambil hikmah perjalan Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam saat Isra Miraj.

Di tengah ancaman penyebaran virus corona, perayaan Isra Miraj disarankan dilakukan secara sendiri-sendiri di rumah diganti dengan sejumlah amalan dan ibadah kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Sejumlah amalan dan ibadah yang dapat dilakukan adalah berzikir kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dan mengirimkan salawat kepada Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam.

Selain itu, terdapat hikmah yang bisa diambil dari peristiwa isra Mi’raj dalam kondisi dunia yang sedang dilanda wabah covid-19. Berikut hikmah Israj Miraj dilansir dari beberapa sumber :

1. Allah menyayangi hambanya

Isra Miraj terjadi pada tahun kesedihan saat Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam dilanda banyak cobaan dan ditinggal oleh orang terdekatnya. Isra Miraj merupakan bentuk penghiburan Allah Subhanahu wa Ta’ala kepada Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam.

Untuk menghibur Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam, Allah mengutus Malaikat Jibril membawa Nabi Muhammad melakukan perjalanan dari Makkah ke Masjidil Aqsa di Palestina dan diangkat ke Sidratul Muntaha dalam satu malam saja.

2. Keimanan meningkat setelah cobaan

Cobaan yang diberikan kepada Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam sebelum Isra Miraj merupakan ujian untuk meningkatkan keimanan.

Sama seperti wabah virus corona, sebaiknya dimaknai sebagai cobaan untuk meningkatkan kualitas keimanan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Orang yang dapat melalui cobaan dengan baik dan berpegang teguh pada syariat Islam akan mendapatkan karunia yang besar dari Allah Subhanahu wa Ta’ala.

3. Memperbaiki kualitas shalat

Peringatan Isra Miraj ini sebaiknya dimaknai untuk memperbaiki kualitas shalat yang sekaligus bakal memperbaiki hubungan dengan Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Shalat merupakan perintah dan sarana berkomunikasi dengan Allah Subhanahu wa Ta’ala, maka barangsiapa yang meninggalkannya berarti tidak mematuhi perintah, sedangkan kita semua adalah hamba-hambanya. Dan shalat sebagai sarana komunikasi seperti yang disabdakan oleh Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam:

“Keadaan yang paling dekat antara seorang hamba dengan Rabbnya adalah saat sujud, maka dari itu perbanyaklah berdoa (saat itu).” (H.R Muslim : 482)

4. Terjadi di malam hari

Malam hari merupakan waktu yang sepi dan Allah ingin melihat hambanya yang benar-benar beriman. Pada malam hari pula, mendekatkan diri kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala bakal lebih cepat dibandingkan waktu lainnya.

Di tengah wabah virus corona dan isolasi diri, umat Muslim disarankan untuk memperbanyak ibadah dan amalan di malam hari seperti shalat tahajud.

5. Mempercayai kekuasaan Allah

Isra Miraj mengajarkan bahwa Allah Maha Kuasa. Perjalanan yang seolah tak masuk akal dapat terjadi dengan kekuasaan Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Maka, kita perlu bersabar dalam kondisi wabah virus corona. Semua terjadi atas kehendak-Nya dan dengan kekuasaan-Nya pula wabah Corona mampu hilang bahkan tanpa adanya obat atau vaksin dari manusia. [Suci Kusuma]