PedomanBengkulu.com, Bengkulu – Meringatan Hari Perempuan Internasional yang bertepatan pada 8 Maret 2020, program Mampu di Bengkulu, Cahaya Perempuan WCC, yayasan PUPA dan Koalisi Perempuan Indonesia (KPI) melaksanakan Jambore Remaja Anti Perkawinan Anak dan Kekerasan Seksual dengan tema ‘Berjaya melalui Karya’, di Hotel Santika, Minggu (08/03/2020).

“Jambore remaja anti perkawinan anak dan kekerasan seksual mengangkat tema ‘berjaya melalui Karya’ dengan penayangan karya terbaik remaja melalui media kampanye digital Melalui Vidio, Infografis, Flayer, Visual Story Telling, Photo Voice,” jelas Direktur Yayasan PUPA Susi Handayani, SP,. MSi,

Menambahkan, dalam merayakan hari perempuan Internasional untuk dunia yang adil bagi seluruh manusia, cahaya perempuan WCC merilis catatan kekerasan terhadap perempuan cahaya perempuan WCC tahun 2019 mencatat ada 386 kasus kekerasan yang dialami perempuan dan anak perempuan di provinsi Bengkulu.

“Dari data tersebut tercatat sebesar 67,35% kasus kekerasan seksual dan 32,64% kasus non kekerasan seksual yakni kekerasan fisik, psikologis dan ekonomi terhadap istri (KTI). Data dampingan perempuan korban kekerasan cahaya perempuan WCC mencatat ada 73 kasus, sebesar 54,79% (37 kasus) perempuan mengalami kekerasan non seksual dan sebesar 45,20% (33 kasus) perempuan mengalami kekerasan seksual,” ungkapnya.

Sedangkan data dari media lokal Bengkulu mencatat kasus kekerasan seksual tertinggi yaitu pencabulan sebanyak 110 kasus, perkosaan 39 kasus, incest 27 kasus, kekerasan dalam pacaran/KDP 16 kasus dan lainnya dari total 313 kasus,” pungkasnya.

Ditambahkan oleh Direktur Eksekutif Cahaya Perubahan WCC Tini Rahayu, dari keseluruhan jenis kasus kekerasan terhadap perempuan yang terjadi, KDRT (Kekerasan Terhadap Istri/KTI) merupakan jenis kasus tertinggi sepanjang tahun 2019 yakni sebesar 115 kasus dari total 386 kasus.

“Pengadilan Tinggi Agama (PTA) provinsi Bengkulu mencatat data perceraian di tahun 2019 sebanyak 3.293 kasus; 873 cerai talak aduan suami dan 2.420 cerai gugat aduan istri. Jika dibandingkan data PTA tahun 2018 kasus perceraian yang terjadi sebanyak 2.850 kasus; 746 cerai talak aduan suami dan 2.104 cerai gugat aduan istri, artinya terjadi peningkatan angka perceraian sekitar 15,54% (443 kasus),” Jelasnya.

Sambungnya, penyebab terjadinya perceraian yang didominasi karena cerai gugat aduan istri di tahun 2019.

“Pertama, perselisihan dan pertengkaran terus menerus sebanyak 2.608 kasus, kedua, pasangan (sebagian besar suami) meninggalkan istri sebanyak 460 kasus, ketiga, persoalan ekonomi (termasuk penelantaran ekonomi terhadap istri) sebanyak 160 kasus, keempat, KDRT (psikologis, fisik, seksual) sebanyak 22 kasus, kelima, poligami sebanyak 7 kasus, keenam, perzinaan sebanyak 5 kasus, ketujuh dan lainnya: Suami mabuk, madat, judi dan dipenjara,” pungkasnya.

Tambahnya, sepanjang tahun 2019 tercatat ada 9 bentuk Kekerasan Seksual terhadap perempuan dan anak perempuan terdiri dari.

“Pemaksaan hubungan seksual dalam perkawinan (Marital Rape), incest, kekerasan seksual dalam pacaran, pelecehan seksual, percobaan perkosaan, perkosaan, pencabulan, percobaan pencabulan, dan perkawinan anak (ada unsur pemaksaan perkawinan terhadap anak) karena mengalami kehamilan tak diinginkan/KTD),” katanya.

Tidak itu saja, menurut data dari pengadilan tinggi agama provinsi Bengkulu mencatat telah terjadi 285 kasus Perkawinan Anak sepanjang tahun 2019. Jika dibandingkan data tahun 2018, kasus Perkawinan Anak tercatat sebanyak 206 kasus.

“Dalam satu tahun saja telah terjadi peningkatan angka perkawinan anak sekitar 38% di Bengkulu. Faktor penyebabnya adalah akibat KTD baik karena kekerasan seksual (perkosaan), melakukan hubungan seks tanpa unsur pemaksaan serta karena faktor kemiskinan dan masih ditemui budaya kawin usia anak jika tidak dianggap perawan tua dan menjadi budaya dalam klan keluarga tertentu seperti di desa dampingan cahaya perempuan WCC di kabupaten Rejang Lebong,” katanya.

Diketahui peserta jambore hari perempuan Internasional yang bertepatan pada 8-9 Maret 2020 ini diikuti oleh dari tingkat pelajar sampai mahasiswa sejati Provinsi Bengkulu. [Soprian]