Ilustrasi

Pemilihan Gubernur (Pilgub) Bengkulu 23 September 2020 telah dipastikan tanpa pasangan jalur perseorangan atau independen setelah KPU Provinsi Bengkulu secara resmi menutup pendaftaran di jalur tersebut, Kamis 20 Februari 2020 yang lalu.

Sementara dengan mempertimbangkan basis dukungan dan jumlah suara di parlemen, konstelasi partai-partai politik di Pilgub Bengkulu 2020 tampaknya hanya akan mengerucut kepada dua atau tiga pasangan calon.

Siapa yang akan menang?

Sejumlah jajak pendapat dari lembaga-lembaga kredibel telah menyimpulkan beberapa kriteria kekinian yang disukai rakyat untuk dipilih dalam sebuah pemilihan kepala daerah.

Pertama, sosok pemenang akan ditentukan dari seberapa banyak kandidat berbaur di tengah-tengah rakyat. Dia adalah sosok yang menyentuh kehidupan rakyat ketika sakit, memberikan bantuan ketika hidupnya susah, menolong rumah tangganya ketika retak, atau memberikan jajan kepada anak-anak ketika orang tua mereka telah tiada.

Singkatnya, rakyat lebih suka kepada pemimpin yang turun melihat kehidupan mereka, bertatap muka dan berdialog langsung, tidak berjarak.

Kedua, faktor figur lebih menonjol ketimbang faktor partai politik. Ini sebenarnya warisan lama dalam praktik demokrasi pemilihan kepala daerah langsung di Bengkulu. Faktor partai hanya dominan saat pemilihan umum legislatif.

Tidak ada partai politik yang benar-benar dominan di Bengkulu. Panggung politik selalu dipenuhi oleh kandidat berkantong tebal. Angka suara golput cenderung meningkat seiring makin acuhnya rakyat terhadap politik dan partai politik.

Di tangan elit-elit partai, program-program kerakyatan acapkali hanya menjadi pemanis bibir, tanpa bukti nyata. Banyak partai yang juga gagal melakukan kaderisasi. Harapan rakyat selalu terombang-ambing dalam pasang surut gelombang bagi-bagi jatah kekuasaan.

Ketiga, sosok pemenang juga akan ditentukan dari kemampuan kandidat dalam mengeksplorasi visi dan gagasannya dalam membangun kepada publik. Kandidat yang memiliki gagasan saat ini jauh lebih disukai ketimbang mereka yang hanya menjual jargon-jargon politik lugu yang menjelaskan bahwa sang kandidat jujur, bersih dan sebagainya.

Visi dan gagasan dalam politik kontemporer bahkan lebih disenangi ketimbang kampanye yang mengipas-ngipas persoalan Suku, Agama, dan Ras (SARA) seiring meningkatnya kesadaran masyarakat untuk mengamalkan nilai-nilai yang terkandung di dalam Pancasila.

Sampai di sini, apakah seseorang itu asli pribumi atau tidak menjadi tidak relevan lagi selama ia dianggap mampu mendatangkan kenyamanan dan kegembiraan bagi warganya.

Keempat, sosok pemenang juga akan mampu diraih oleh pasangan yang mampu mengoptimalkan daya cipta kreatifnya dalam berkampanye. Meme, komik, jingle, poster, dan sebagainya terbukti efektif menyeret pemilih millenial yang selama ini cuek dengan politik untuk ikut mengkampanyekan program kandidat kepada publik.

Kreatifitas kampanye itu bahkan jauh lebih efektif ketimbang menjadikan “pasukan nasi bungkus” sebagai garda depan pemenangan, apalagi ketika kampanye itu didukung dengan aksi-aksi nyata dalam kebijakan pembangunan yang dilakukannya ketika menjadi pejabat publik. Perbedaan antara pencitraan dan kerja nyata kini sudah nampak terang benderang.

Terakhir, pemenang Pilgub Bengkulu 2020 juga sangat ditentukan oleh kemampuan kandidat dalam merumuskan platform politik yang dapat diterima oleh setiap kalangan.

Bukan dia yang dikendalikan oleh syahwat berkuasa, melainkan dia yang pasrah pada kehendak Allah subhanahu wa ta’ala, pada kehendak rakyat, sosok yang dianggap akan mampu melahirkan perubahan besar, mampu menjawab kebutuhan mayoritas rakyat yang merindukan kenyamanan dan kegembiraan atas daerahnya yang kaya raya.