Sebuah grup WeChat beranggotakan para relawan untuk membantu wanita hamil bernama “Tim Darurat Wuhan” memiliki tugas utama yaitu membawa wanita hamil yang tak punya kendaraan ke rumah sakit. Dengan bantuan mereka, sejauh ini, 23 wanita hamil telah dikirim ke rumah sakit dan melahirkan anak-anak mereka dengan aman. (Xinhua/Xiao Yijiu)

Wabah virus corona yang baru saja menginfeksi dua orang warga negara Indonesia (WNI) yang telah dinyatakan positif, membuat sebagian masyarakat merasa khawatir akan penyebarannya. 

Banyak orang yang kebingungan membedakan gejala antara flu dengan Novel coronavirus (2019-nCoV). Keduanya memiliki gejala yang disebut sama sehingga sulit dibedakan.

Mengetahui perbedaan antara gejala infeksi virus corona, influenza, dan flu biasa, dapat menjadi solusi bagi masyarakat untuk dapat teredukasi dan juga mendeteksi diri.

Sementara itu, menurut dokter spesialis paru Agus Dwi Susanto mengungkapkan bahwa selesma, flu, maupun infeksi virus corona tetap memiliki perbedaan secara gejala infeksi.

“Biasanya flu lebih cepat. Kalau dia gejalanya cepat seperti demam, sakit kepala atau pinggang, bahkan nyeri-nyeri sendi, lemas, ini biasanya influenza,” kata Agus yang juga Ketua Umum Pengurus Pusat Perhimpunan Dokter Paru Indonesia (PP-PDPI), Selasa (3/3/2020).

Sedangkan untuk flu biasa gejala yang ditandai dengan adanya batuk, hidung tersumbat, bersin, dan tenggorokan sakit serta tidak nyaman. Biasanya, saat flu kebanyakan orang juga akan mengalami tenggorokan gatal, kemudian pilek dan akhirnya batuk.

Di sisi lain, untuk novel coronavirus, gejalanya hampir mirip, namun di sini ada satu gejala khas yaitu sesak napas.

“Nah, yang terbaru ini ada gejala disertai dengan diare. Kalau flu biasa jarang-jarang ada diare,” kata Agus. Yang pasti, gejala umum dari infeksi novel coronavirus adalah batuk, pilek, demam, dan sesak napas.

“Dan pada kasus yang lebih berat, lama-lama akan terjadi progresivitas infeksi masuk ke paru, terjadilah pneumonia,” ujarnya.

Jika dibandingkan dengan virus corona baru, selesma dan influenza jarang menyebabkan pneumonia dan bisa sembuh dengan sendirinya. Hanya infeksi novel coronavirus saja yang bisa berlanjut ke pneumonia.

“Sama seperti SARS, MERS-CoV, juga komplikasinya cepat yang berlanjut jadi pneumonia,” tandasnya.

Bagi orang yang diduga memiliki gejala virus corona, diperlunya pula untuk melakukan x ray pada paru-paru guna melihat seseorang terjangkit pneumonia atau tidak.

Untuk mencegah berbagai informasi bohong yang terkait dengan penyakit virus corona, Kementerian Kesehatan (Kemenkes) telah membuka hotline di nomor 0215210411 dan 081212123119. [Suci Kusuma]