Wabah virus Corona di Indonesia semakin meluas, Pemerintah memberikan update penanganan virus Corona (COVID-19). Ada 686 kasus Corona di Indonesia per 24 Maret 2020.

Pemerintah menyebutkan bahwa total ada 30 pasien yang dinyatakan sembuh dan boleh pulang. Selain itu, ada 55 pasien yang meninggal dunia setelah dinyatakan mengidap Covid-19.

Penyebaran virus ini akan semakin cepat jika penderita covid 19 atau pengidap (pembawa virus) ada di tengah kerumunan orang banyak, seperti dalam shalat Jamaah dan Jum’at. Biasanya, orang yang tertular dan menderita covid 19 akan semakin bertambah.

Sebagaimana ulama telah bersepakat bahwa jika ada rasa takut atas jiwa, harta atau keluarga maka dibolehkan tidak melaksanakan shalat Jumat dan shalat jamaah di masjid.

Di riwayatkan dalam Hadits, dari Ibnu Abbas  Radhiyallahu ‘Anhu, ia berkata: Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam telah bersabda:

Barangsiapa yang mendengar azan dan tidak punya alasan sehingga tidak menjawabnya (mendatanginya)”. Para Sahabat bertanya: “Apakah alasan (udzhur) itu?” Beliau menjawab:” Takut atau sakit-, maka tidak diterima shalat yang dia kerjakan.” (HR. Abu Dawud)

Alasan lainnya, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam telah melarang orang yang mempunyai bau tidak sedap mendatangi masjid. Alasannya, baunya itu bisa mengganggu orang lain.

Jabir bin Abdillah Radhiyallahu ‘Anhu, bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda :

“Barangsiapa makan bawang putih atau bawang merah, maka hendaklah ia menjauhi kami atau menjauhi masjid kami; dan silahkan dia berada di rumahnya saja.” (HR. Al-Bukhari

Ketakutan sebagai dampak penyebaran virus Corona yang mematikan dan belum diketahui cara penanganannya yang cepat sampai sekarang menjadikan sebab bagi seorang Muslim mendapatkan keringanan untuk tidak melaksanakan shalat Jumat dan jamaah di masjid.

Dasar pertimbangan lainnya, hadits dari Abdurrahman bin ‘Auf, ia mendengar Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda :

Apabila kalian mendengar terjadi wabah penyakit (tha’un) di satu negeri janganlah kalian mendatanginya, dan jika terjadi di satu negeri yang kamu ada di dalamnya janganlah kamu keluar dari negeri itu.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim)

Inilah dalil-dali yang diutarakan oleh Kibar Ulama al-Azhar perihal bolehnya negara meniadakan sementara shalat Jum’at dan jamaah lima waktu, apabila ia menilai bahwa perkumpulan massa di aktifitas ibadah berjamaah itu akan menyebabkan penyebaran dan menularan virus corona lebih luas lagi.

Terkait hal tersebut, umat muslim yang akan memasuki bulan Ramadhan terhitung satu bulan ke depan. Di tengah situasi wabah virus corona ini, muncul kekhawatiran terkait pelaksanaan shalat Tarawih atau kegiatan buka puasa bersama.

Menanggapi hal ini, Sekretaris Komisi Fatwa MUI Asrorun Niam Sholeh mengatakan, bagi umat Muslim, kewajiban puasa tetap dijalankan seperti biasa. Namun, ia tetap mengingatkan agar umat memberikan perhatian secara khusus terhadap potensi penyebaran virus corona.

“Seluruh potensi yang menyebabkan penyebaran virus harus dicegah dan diminimalisasi. Kita semua memiliki tanggung jawab mencegah peredaran wabah ini, tidak bisa dibebankan hanya pada satu komunitas dan pemerintah saja tanpa kontribusi dan partisipasi publik secara keseluruhan,” kata Asrorun dalam konferensi pers secara daring di Graha BNPB, Jakarta, (19/3).

Asrorun memberikan imbauan soal aktivitas ibadah, seperti Tarawih berjamaah pada bulan Ramadhan nanti. Pada satu kawasan yang ada dalam zona merah, ia mengimbau aktivitas ibadah dibatasi di tempat-tempat yang bebas kerumunan fisik yang memiliki potensi penyebaran meluas.

Sementara itu, di daerah zona hijau, menurut dia, aktivitas bisa berjalan sebagai biasa, tetapi dengan mengurangi tensi konsentrasi massa. Di samping itu, ia mengingatkan agar masyarakat mengoptimalkan kesehatan dan kebersihan dengan rajin mencuci tangan, membersihkan tempat ibadah, meminimalisasi kontak fisik, dan membawa sajadah sendiri saat ke masjid.

“Ini bagian dari ikhtiar. Ketika ikhtiar sudah dilaksanakan, kita kuatkan dengan doa, munajat, dan qunut nazilah dalam setiap ibadah. Ini bagian ikhtiar dhahir dan batin yang ditempuh sebagai umat beragama,” ujarnya.

Sebelumnya, Majelis Ulama Indonesia (MUI) pun telah mengeluarkan fatwa yang tidak menganjurkan pelaksanaan shalat Jumat di masjid. Khususnya di daerah yang rawan penyebaran virus corona.

Sebagaimana bunyi Fatwa MUI Nomor 14 Tahun 2020 tentang Penyelenggaraan Ibadah dalam Situasi Terjadi Wabah Covid-19, orang yang terpapar virus corona juga diminta tak melaksanakan shalat jumat di tempat umum.

Imbauan ini diperuntukkan bagi wilayah-wilayah dengan tingkat penyebaran virus corona tinggi.

“Ketika berada di dalam satu kawasan yang wabah virus covid-19 tak terkendali di suatu kawasan tertentu, maka penyelenggaraan shalat Jumat dan ibadat yang sifatnya masif ini bisa dihentikan untuk sementara waktu sampai kondisi normal,” kata Asrorun saat dikonfirmasi, (20/3/2020).

Asrorun melanjutkan, untuk mereka yang tinggal di kawasan dengan tingkat penularan virus corona rendah, maka pelaksanaan ibadah dapat dilaksanakan sebagaimana biasanya.

Akan tetapi, kewaspadaan dengan menerapkan perilaku hidup bersih dan sehat harus ditingkatkan, supaya tidak terjadi penularan virus.

Sejumlah hal yang bisa dilakukan untuk mencegah penularan, seperti menjaga kebersihan tempat ibadah, mencuci tangan secara rutin, meminimalisir kontak secara fisik, hingga membawa sajadah sendiri ketika hendak melakukan ibadah berjamaah. [Suci Kusuma]