Dalam balutan seragam putih-merah, wajah polos itu kini mengembangkan senyuman. Tatapan mata yang sebelumnya kosong kini berbinar terang memancarkan kegembiraan. Gubuk yang sebelumnya tanpa simbol pendidikan, kini sudah berisi tas, sepatu, buku, pensil, penggaris, baju, dasi dan topi sekolah dasar.

Keisha. Ini bukan mimpi. Ini kenyataan. Walau kedua orangtuamu tak tahu di mana rimbanya, tapi Negara dalam wujud pemerintah hadir untuk menyekolahkanmu. Usiamu sudah wajib belajar. Wajib sekolah. Dan Negara wajib membiayai. Kau dan Keisha-Keisha yang lain adalah tunas-tunas bangsa.

Tulisan tentang Keisha yang dimuat sejumlah media di Bengkulu, mendapat respon dari banyak pihak. Mereka mengungkapkan rasa empati melihat nasib bocah perempuan malang tersebut. Di usia delapan tahun, tapi tidak bisa sekolah karena faktor ekonomi.

Dinas Pendidikan Kota Bengkulu langsung menurunkan tim beberapa jam setelah tulisan itu beredar. Kadis Pendidikan, Rosmayetti kirim pesan WA kepada saya meminta alamat lengkap Keisha. Hari itu juga tim sudah mendatangi gubuk Keisha. Uni Yet (panggilan Rosmayetti) ikut datang ke lokasi. Dia mendapat perintah langsung dari Walikota. Peralatan belajar dan seragam sekolah tadi adalah pemberian dari Dinas Pendidikan Kota.

Selain Dinas Pendidikan Kota, ada juga respon dari pihak-pihak lain. Seorang pengusaha dari Jakarta kirim pesan ke saya. Dia minta dibukakan rekening atas nama Keisha. Setelah membaca status saya tulisan tentang Keisha di facebook, pengusaha tersebut mengaku akan menyumbangkan uang perusahaannya untuk Keisha setiap bulan. “Karena perusahaan saya ada di Jakarta, akan lebih baik kalau dibuka rekening buat Keisha,” kata pengusaha tadi.

Subhanallah. Tuhan Maha Besar dan Maha Kaya. Kunjungan tim PWI Bengkulu membagikan paket sembako beberapa hari lalu, ternyata menjadi pembuka jalan bagi Keisha untuk bersekolah. Semoga ini diikuti Keisha-Keisha lainnya yang bernasib sama. Kurang beruntung, dibelenggu kemiskinan.

Selamat Keisha. Akhirnya kau bisa sekolah. Semoga kesuksesan mengiringi setiap langkahmu dalam mengarungi rimba kehidupan yang penuh semak belukar kesulitan. Salam cinta dari lubuk hati yang paling dalam untuk Keisha-Keisha di seluruh pelosok Indonesia.

Zacky Antony, penulis adalah wartawan senior yang juga Ketua PWI Provinsi Bengkulu