Oleh: Ratna Sari (Mahasiswi Bengkulu)

Pada dasarnya kemiskinan, serta pengaruh materi dan ekonomi sering sekali menjadikan kaum perempuan turut serta dalam pencariannya, tak ayal tuntutan tersebut membuat kalangan ibu-ibu, hingga kalang remaja dituntut untung mencari pekerjaan demi memenuhi kebutuhan hidup.

Biasanya kalangan ibu rumah tangga yang seharusnya bertugas menjadi Ummu Wa Rabatul Bait, justru dijadikan tameng bagi kaum feminisme untuk meningkatkan partisipasi wanita di ranah publik, baik di lingkup pribadi, sosial, ekonomi dan politik. Narasi yang terus dibangun bahwasannya peran perempuan tidak hanya mengurus rumah tangga, melainkan juga setara dengan tugas laki-laki, baik dalam ranah publik hingga ranah politik.

Kemiskinan adalah fenomena yang sangat mudah dijumpai di mana-mana, ketidak mampuan untuk memenuhi kebutuhan sekunder dan perimer, dikarenakan seiring berkembang dan majunya produk-produk barang dan jasa. Kemiskinan di Indonesia terus meningkat bak jamur di musim hujan, di lansir dari Tirto.id bahwasannya Bappenas mencatat saat ini jumlah penduduk Indonesia yang berstatus miskin kronis atau sangat miskin mencapai 9,4 juta jiwa.

Seringkali kemiskinan membuat banyak orang berlomba-lomba mengundi nasib di kota orang, bahkan banyak dari kaum perempuan. Meninggalkan keluarga, dan sanak sudara, demi memperbaiki keadaan hidup nya, hingga membuat nya lupakan akan perannya sebagai ibu rumah tangga.

Tuntutan ekonomi menjadikan peran ibu terlupakan, menelantarkan anak sekaligus tidak berjalan nya tugas pokok seorang ibu sebagai Ummu Wa Rabatul Bait. Tuntunan ekonomi yang tidak cukup biasanya penyebab seorang perempuan keluar dari tugas pokok nya. Belum lagi untuk memenuhi kebutuhan hidup yang serba mahal, sehingga mengharuskannya bekerja.

Selain itu nafsu duniawi yang membuat wanita ingin dipandang dan ingin dihargai layaknya laki-laki, tanpa ada sekat jabatan yang membuat perempuan sering kali dipandang rendah, keinginan perempuan ingin menyetarakan dirinya agar sama kedudukan nya dengan lelaki, itulah gaungan yang sering dilontarkan para feminisme untuk mempengaruhi kaum perempuan, agar turut andil adalam pencarian ekonomi.

Para feminisme menghipnotis para wanita agar terjun dalam ranah fublik dan melupakan peran istri sekaligus ibu rumah tangga. Sistem kapitalis menuntuk prempuan untuk di eksploitasi, agar memberikan atau mendapatkan pundi-pundi uang. Dilansir dari News Indonesia, terdapat 40 anak usia sekolah, sebagian besar anak-anak yang ditinggalkan oleh ibu dan bapak untuk mencari nafkah di luar negeri sebagai tenaga kerja Indonesia (TKI).

Jika kita cermati perempuan nampak selalu menjadi sorotan utama untuk menjadi objek proyek-proyek kapitalisme, perempuan dianggap berpengaruh terhadap kualitas hidup dan dibutuhkannya partisipasi dalam kegiatan ekonomi dan pembangunan. Sehingga narasi feminisme sering kali diagung-agungkan oleh kapitalisme untuk mempengaruhi prempuan.

Pemerdayaan ekonomi perempuan keberadaan ya adalah untuk mempertahankan sistem kapitalisme yang saat ini mengalami krisis. Sistem yang menjadikan ekonomi sebagai pergerakan utama dalam pemerdayaan perempuan, sementara kampanye atau narasi yang dibangun adalah kesetaraan gender, digunakan untuk memperindah atau mempermanis program kapitalistik agar terlihat memihak kepada perempuan. Kapitalisme bak pengglima yang mengiringi jutaan prempuan muslimah pada jurang eksploitasi ekonomi alias perbudakan modern, dengan mengharuskan mereka menjadi pekerja dan melupakan peran utama ibu dan pendidik generasi, yang berakibat pada kerusakan multidimensi dan krisis generasi.

Sangat berbeda sekali dengana Islam, bahwa Islam tidak memandang perempuan sebagi pundi-pundi rupiah untuk menaikan ekonomi, melainkan sebagai manusia yang harus dilindungi, dan selalu difasilitasi kebutuhannya, baik dari kebutuhan primer hingga kebutuhan skunder, yang dipenuhi oleh suami, atau kerabat laki-laki mereka, ataupun Negara. Sehingga mereka bisa menjalankan peran nya sebagia istri, ibu, sekaligus pengurus rumah tangga, atau Ummu Wa Rabatul Bait.

Islam juga mengizinkan perempuan untuk bekerja sesuai dengan bidang keilmuannya, tapi terbebas dari tekanan ekonomi dan sosial. Bukan semata-mata ingin menyetarakan diri dengan laki-laki, tetapi ingin mengembalikan kedudukan dan peran perempuan dalam ranah yang semestinya.

Upaya untuk melindungi generasi agar tidak diterlantarkan dan juga kembali menjadi generasi pejuang Islam, tidak bisa dilakukan secara individual, dalam arti tidak hanya orang tua, melainkan harus dilakukan secara integral dan bersamaan, juga membutuhkan visi yang komprehensif yang akan memberi kekuatan yang besar dalam membentuk generasi, sitem itu tidak lain dan tidak bukan adalah Islam.

Dialah Khilafah Islamiyah merupakan subuah pemerintahan sejati yang akan membebaskan generasi dan juga membebaskan perempuan dari jeratan kapitalisme, berupa feminisme yang sering gencar di suarakan. Membebaskan generasi juga dari kemunduran akibat virus Sekulerisme, Liberalisme, dan juga Pragmatisme. Sebuah sistem yang menyajikan perubahan ekonomi secara menyeluruh, memberantaskan kemiskinan di muka bumi, memberikan dan menyajikan pendidikan yang jelas untuk membangun lahir nya generasi cemerlang dan generasi terbaik untuk bangsa. Wallahu’alam.