Oleh: Neni Citra Dewi, S.T

Di tengah wabah Covid-19, ternyata kaum perempuan di bawah sistem kapitalis tidak banyak mendapat perlindungan. Setelah Covid-19 masuk ke Indonesia membawa dampak yang sangat besar terhadap perempuan, dimana kesehatan bahkan nyawa perempuan dipertaruhkan karena mereka masih harus bekerja hanya untuk memenuhi kebutuhan hidup.

Tidak menjauhkan kemungkinan perempuan terpapar langsung dalam persebaran virus Covid-19 yang beresiko besar menjadi carrier virus di keluarganya.

Saat kembali ke rumah, perempuan sebagai ibu harus mampu menjadi pendidik bagi anaknya, setelah adanya kebijakan pemerintah bahwa anak-anak belajar di rumah selama pandemi. Tidak sedikit perempuan gagap dalam mendidik anaknya sendiri. Belum lagi kurangnya kepercayaan si anak terhadap ibunya dalam penguasaan materi di sekolah sehingga menambah kelimpungan para ibu menghadapi anak-anaknya. Begitu berat peranan perempuan dalam keluarga.

Beragam problematika yang komplek dalam keluarga membuat perempuan terbebani tanggung jawab yang ekstra sehingga menimbulkan konflik dalam keluarga. Di rumah tidak sedikit perempuan yang mengalami kekerasan dalam rumah tangga. Tidak adanya keadilan dalam mendapat kebahagiaan dan pemenuhan nafkah. Di tengah pandemi Covid-19 perempuan yang lebih besar terkena dampak atas tekanan sosial dan ekonomi. Sehingga menjadi kelompok yang paling terancam dengan situasi ini.

Dilansir dari VOA (5/4/2020) Sekjen PBB Antonio Gutters menyatakan bahwa meningkatnya tekanan sosial dan ekonomi akibat pandemi virus corona telah menyebabkan meningkatnya kasus Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT) pada wanita dan anak-anak perempuan. Pemerintah Australia turut melaporkan bahwa pencarian online terhadap layanan bantuan KDRT meningkat sebesar 75 persen.

Di samping itu pekerjaan perempuan yang berprofesi sebagai tenaga kesehatan di musim pandemi ini berada di garis terdepan. Menurut Badan Kesehatan Dunia( WHO), sekitar 70 persen pekerja di sektor kesehatan dan sosial berasal dari kaum perempuan seperti perawat.

Di sisi lain walaupun Dinas Tenaga Kerja telah menerbitkan surat edaran tentang himbauan bekerja di rumah (Work From Home), tetapi faktanya hingga hari ini masih banyak kaum perempuan yang bekerja di tengah pandemi Covid-19. Banyaknya industri atau perusahaan yang masih beroperasi di tengah pandemi yang mempekerjakan para buruh atau pegawai pabrik yang sebagian besarnya adalah kaum perempuan. Bahkan masih ada yang mempekerjakan wanita hamil dengan alasan karyawan masih sehat. Aktivitas pekerjaan dari para buruh atau pegawai pabrik ini tentunya sangat rentan sekali terkena wabah Corona.

Negara seharusnya mengambil alih semua peran, sehingga tidak akan ada satupun perusahaan yang beroperasi. Para perempuan dibebaskan hadir secara fisik ke perusahaan atau kantor dan tetap bekerja WFH, dengan demikian perempuan dapat mengurus keluarganya di tengah pandemi. Sejalan dengan kebijakan pemerintah, siswa belajar di rumah, perempuan selaku ibu dapat mendampingi anak-anaknya belajar dalam memenuhi kewajibannya sebagai pendidik untuk anak-anaknya. Berperan sebagai ibu generasi yang akan mencetak generasi cerdas.

Sangat jelas sekali di tengah pandemi ini, kesehatan perempuan diabaikan. Kesulitan yang yang dialami perempuan di musim pandemi ini membuat kesehatan perempuan semakin terancam di bawah sistem kapitalis. Semestinya perempuan diberikan hak untuk dilindungi kesehatan dan keselamatannya serta jaminan ekonomi oleh negara. Peran negara sangat penting dalam hal perlindungan terhadap perempuan karena sejatinya negara adalah pelindung rakyat.

Terbukti sistem kapitalis tidak mampu memuliakan perempuan. Islam telah memberi perlindungan secara detail dan menyeluruh terhadap perempuan baik dalam tindakan kekerasan di rumah maupun di ranah publik. Di rumah, islam telah mengatur hak dan kewajiban antara suami dan istri dengan syariat Islam, seorang suami menjadi tanggung jawab nafkah dalam keluarga dan istri menjadi pengatur urusan rumah tangga. begitu juga ketika perempuan berkiprah di publik Islam telah mengatur agar perempuan tidak dijadikan sebagai komoditi.

Satu-satunya sistem yang dapat menjamin ketentraman hidup dan mampu mengatur hubungan antara pria dan wanita dengan pengaturan yang alamiah hanyalah sistem Islam. Sehingga tidak terjadi kekerasan atas perempuan dan terjaga kesehatannya. Sistem pergaualan dalam Islam lah yang menjadikan aspek ruhani sebagai asas dan hukum-hukum syariah sebagai tolak ukur dengan hukum-hukum yang mampu menciptakan nilai-nilai akhlak yang luhur.