Ilustrasi.

Sebelumnya, saya sudah menulis: “Dan, virus pembunuh yang bernama “CORONA atau COVID-19″ itupun sudah menyebar kemana-mana, kesemua negara di dunia. Ada yang sudah terjangkiti dan ada yang baru sebatas mendengar kabar penyebarannya. Dimulai dari Cina, lalu menyebar ke Timur Tengah dan Asia, serta bergerilya di benua Eropa, Amerika dan Afrika. Ya. Begitulah pola pergerakan virus corona. Kehadiran virus corona telah melahirkan dua hal, yakni kematian dan kepanikan.”

Berkaitan dengan respon atau tanggapan setiap negara, secara umum bisa dibilang sama. Yang membedakan hanyalah derajatnya saja. Apa respon tersebut?

MEMPROTEKSI DIRI. Cara setiap negara memproteksi diri berbeda-beda. Ada yang menutup perbatasan, ada yang melakukan lockdown (mengunci diri), dan ada yang memilih sistem buka-tutup. Semuanya tergantung pada kondisi internal masing-masing negara (pemerintahan) serta penyebaran wabah corona itu sendiri.

Suka tidak suka; terima tidak terima, munculnya virus corona telah menyebabkan terganggunya HUBUNGAN SOSIAL KEMASYARAKATAN. Virus biologis corona telah menciptakan virus sosial seperti Cinaphobia (benci atau takut dengan orang Cina), rasialisme, kecurigaan, aksi main untung orang kaya terhadap orang miskin, dan seterusnya.

Ambil contoh, sebagaimana aksi lockdown Arab Saudi terhadap Ka’bah di Mekah telah mengganggu hubungan sosial kemasyarakatan antara umat Islam di dunia, yang juga terganggunya komunikasi transedental antara manusia Islam dengan Tuhan. Selain itu, aksi lockdown ini juga telah mengganggu aliran pendapatan kapital atau modal para makelar agama (haji) dan pihak-pihak yang bergerak di bidang travelling. Contoh lainnya adalah seperti yang dilakukan oleh pemerintah Italia, Amerika Serikat dan lainnya.

Intinya adalah bahwa issu dan wabah virus corona telah mendorong psikologi manusia di masing-masing negara untuk “MENGASINGKAN DIRI” dari interaksinya dengan negara lain. Proses pengasingan diri inilah yang oleh Karl Marx disebut dengan istilah ALIENASI (keterasingan).

Berkaitan dengan hubungan sosial, Karl Marx menyatakan bahwa manusia (baca: rakyat pekerja atau yang bekerja), selain terasing dengan hal-hal yang bersangkut-paut dengan pekerjaannya juga terasing dengan kehidupan sosialnya.

Terlepas dari teori konspirasi yang beredar bahwasanya virus corona merupakan produk atau hasil dari model konsumsi manusia yang konsumtif. Ada kaitan antara konsumsi, kesehatan dan ekonomi. Dengan demikian, sebenarnya virus corona adalah produk manusia. Manusia yang telah melahirkan virus tersebut, dimana virus tersebut kemudian memaksa manusia untuk mengasingkan diri dari dunia luar (dunia dengan kehidupan materiil).

Kebijakan memilih opsi memproteksi diri (baca: lockdown) yang dilakukan oleh beberapa negara, jika tidak berhati-hati, hanya akan menjadi kebijakan yang mengaleinasi diri sendiri. Masyarakat sebuah negara akan menjadi tertutup. Pergerakan sosial dalam sebuah negara menjadi terbatas. Dan, sudah barang tentu ini sangat beresiko. Apa resikonya?

Alienasi pada akhirnya akan memicu terjadinya PERTENTANGAN KELAS antara kelas atas dengan kelas bawah. Bukan hanya itu saja, sesama kelas atas juga akan saling bersitegang karena keuntungan dan kenikmatan yang didapat sebelumnya telah “hilang” (kebangkrutan ekonomi). Sedangkan kelas bawah, sudah pasti akan semakin menderita.

Kebangkrutan ekonomi kelas atas dan penderitaan rakyat miskin, jika bertemu, maka akan menimbulkan gejolak sosial yang apabila tidak terbendung akan berujung pada gejolak politik. Bagaimana dengan Indonesia?

Indonesia, sebagaimana dikatakan oleh Menteri Keuangan, Sri Mulyani bahwa dampak virus corona bisa memicu lahirnya krisis ekonomi seperti tahun 2008. Istilah saya adalah “kebangkrutan ekonomi.” Bila hal tersebut benar-benar terjadi maka bisa dipastikan akan memicu timbulnya keretakan dan pertentangan sesama kelas borjuis atau pemilik modal.

Sementara itu, kehidupan rakyat bawah akan semakin terpuruk dan menderita, lebih-lebih dengan adanya Omnibus Law. Faktor kebangkrutan ekonomi nasional dan global akan dijadikan dasar materiil bagi (R)UU Cipta Kerja untuk dengan mudah digunakan sebagai sarana hukum dalam memecat kaum buruh. Atau, jika tidak dipecat, dengan alasan dampak virus corona maka pihak perusahaan bisa meliburkan para buruh tanpa gaji dengan waktu yang tidak tentu.

VA Safi’i