Pendidikan Kritis di tengah pandemi Covid-19

PedomanBengkulu.com, Bengkulu – Momentum Hari Pendidikan, Cahaya Perempuan WCC yang merupakan anggota Konsorsium Permampu giat melaksanakan Pendidikan Kritis di tengah pandemi Covid-19.

Hal ini bertujuan untuk memfasilitasi perempuan akar rumput, rumah tangga mereka dan para pihak berpengaruh untuk memahami dan menyadari seluk beluk secara praktis, terapan, pencegahan penyebaran, penularan virus Corona/Covid-19.

Disampaikan oleh Direktur Eksekutif Cahaya Perempuan WCC Tini Rahayamu, mulai April sampai dengan Mei ini, sedang dilakukan pendidikan diskusi kritis untuk sekitar 800 kader, para pihak berkepentingan (stakeholder local) dan pengurus kelompok perempuan dampingan Permampu.

Pelaksanaannya sesuai dengan anjuran pemerintah yaitu physical distancing, atau menjaga jarak fisik dengan orang lain, peserta terbatas, menggunakan masker dan tersedianya tempat cuci tangan.

“Pendidikan kritis merupakan salah satu bentuk dari Pendidikan Seumur Hidup (Lifelong Learning). Terdapat 4 pilar yaitu, belajar untuk mengetahui dan menguasai sesuatu, melakukan atau menerapkan sesuatu, menjadi seseorang yang percaya diri dan mampu hidup bersama orang lain secara harmonis,” jelas Direktur Eksekutif Cahaya Perempuan WCC Tini Rahayamu, Sabtu (02/05/2020).

Pendidikan kritis ini, tambahnya upaya menyebar dalam kelompok kecil untuk menyadarkan, menyebar informasi yang benar untuk pengetahuan tentang Covid-19. Seperti menjelaskan istilah asing mulai dari Red Zone, Physical Distancing, Handsanitizer, Social Distancing, Disinfectant, Cluster. Serta akronim dari OTG, ODP, dan PDP.

Sedangkan Dokter dan perempuan akar rumput berbagi keterampilan membuat handsanitizer, disinfektan dan masker. Hal ini merupakan solusi atas kelangkaan dan harga yang tinggi dari barang tersebut dan sebagai usaha tanggap darurat kesehatan.

Dengan demikian Cahaya Perempuan WCC membangun gerakan mencegah penularan di 15 Kelompok dampingan di Kota Bengkulu, Kabupaten Rejang Lebong dan Kabupaten Seluma dengan cara mendata warga yang akan pulang dari Red Zone, menjelaskan alur isolasi mandiri serta membangun hotline rujukan puskemas atau pihak desa. kelompok ini juga memverifikasi dan memantau agar bantuan untuk warga miskin Covid-19 tepat sasaran.

Hal penting lainnya adalah sampai hari ini belum diketahui kapan pandemi Covid-19 akan berakhir di Indonesia, mungkin masih akan sampai Juli bahkan akhir Desember 2020, yang tentunya berimplikasi pada ekonomi.

“Lifelong Learning dapat mencegah Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT) dan bentuk kekerasan lainnya namun harus disadari oleh kesadaran kritis bukan hanya hafalan atau keyakinan buta semata,” ujar Direktur Eksekutif Cahaya Perempuan Wcc Tini Rahayu mejelaskan.

Konsorsium Permampu menyampaikan beberapa Rekomendasi sebagai berikut.

Pertama permampu adalah konsorsium dari 8 LSM Perempuan, yaitu Flower Aceh – Aceh, Pesada – SUMUT, PPSW Sumatra – Riau, LP2M – SUMBAR, APM – Jambi, Cahaya Perempuan WCC – Bengkulu, WCC Palembang – SUMSEL, DAMAR – Lampung) yang mengadvokasi Hak Kesehatan Seksual dan Reproduksi (HKSR) Perempuan di 8 propinsi di pulau Sumatera.

Kedua menjembatani agar layanan kesehatan di Puskesmas (Immunisasi, akses ke pemeriksaan kehamilan, akses ke kontrasepsi, gizi/stunting), dan pendidikan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) oleh para kader dan para pihak bisa terus berjalan dengan berbagai strategi sesuai protocol kesehatan.

Ketiga mengaktifkan hotline dan diskusi kritis untuk pengaduan, dan merespons cepat soal-soal HKSR dan kkekerasan terhadap perempuan, khususnya KDRT dan kekerasan seksual, termasuk melanjutkan pendidikan untuk anak dan keluarga mengenai HKSR di masa wabah Covid 19.

Keempat pengawalan data dan monitoring pelaksanaan jaringan pengaman sosial yang tepat sasaran, serta menghimbau untuk konsisten mengutamakan mereka yang terdampak langsung, khususnya perempuan dan kelompok miskin yang belum pernah mengakses berbagai bantuan sebelum wabah Covid-19. Di samping mendidik kelompok perempuan dan komunitas untuk secara aktif mengembangkan usaha-usaha mikro/kecil untuk penguatan ekonomi perempuan dan keluarga.

Kelima mengadvokasi peraturan dana desa dan kelurahan untuk menyesuaikan dengan kondisi masyarakat khususnya perempuan miskin di masa wabah Covid-19, termasuk mendorong dipersiapkannya sistem untuk menjamin ketersediaan pangan khususnya untuk masyarakat miskin terkena dampak Covid-19.

Dimasa apapun terjadi wabah Covid-19 lanjutnya, tidak mengorbankan kepentingan perempuan muda, perempuan miskin maupun kelompok rentan lainnya. Khususnya akses pendidikan bagi anak perempuan dan perempuan muda di usia sekolah. Perkawinan di usia anak dan usia dini harus terus dihindarkan.

“Konsorsium Permampu meyakini bahwa sosialisasi dalam bentuk pendidikan dan diskusi kritis untuk akar rumput harus tetap dilaksanakan dalam situasi bencana seperti wabah Covid-19, untuk perempuan akar rumput, dan untuk semua, di semua tempat” tutup Direktur Eksekutif Cahaya Perempuan WCC Tini Rahayamu. [Soprian]