Oleh: Ummu Ayesha

Pernyataan pemerintah tentang perbedaan mudik dan pulang kampung menimbulkan banyak kontoversi di tengah masyarakat.

Institute for Development of Economics and Finance (Indef) menilai pernyataan yang dilontarkan pemerintah mengenai perbedaan mudik dan pulang kampung dinilai tidak tegas dan justru menimbulkan kebingungan bagi publik serta risiko penyebaran Covid-19 yang meluas. Karena dua kalimat ini dinilai memiliki efek yang sama, yakni memobilisasi publik dalam jumlah besar.

Anggota Komisi V DPR Irwan menilai kalau langkah melarang mudik sudah tepat. Sayangnya, tindakan ini dinilai terlambat. Sebab, menurutnya banyak masyarakat yang justru sudah mudik sejak virus Covid-19 mencuat di tanah air.

“Karena Coronanya sudah keburu menyebar dari beberapa yang terbukti masuk golongan mudik, mudik duluan. Dan kemudian menjadi carrier di Pulau Jawa termasuk di luar Pulau Jawa karena yang positif di luar Pulau Jawa karena habis berkunjung dari Jakarta,” ujar Irwan.

Belum lama ini masyarakat kembali dibingungkan dengan aturan tentang larangan mudik yang maju mundur. Pemerintah berencana merevisi aturan tentang larangan mudik di tengah pandemi virus corona (Covid-19). Rencananya, aturan hasil revisi diumumkan dalam waktu dekat.

“Revisi berisi ketentuan soal aturan transportasi untuk bepergian nonmudik. Sedang disusun, ditunggu saja,” kata Juru Bicara Kementerian Perhubungan Adita Irawati.

Larangan mudik semakin menampakkan ketidak tegasan ketika pemerintah mengizinkan masyarakat mudik ke kampung halaman di tengah pandemi virus corona dengan alasan darurat. Misalnya jika ada keluarga sakit dan meninggal.

“Ada diskresi untuk situasi-situasi tertentu. Jadi bisa ke dinas perhubungan, polres, atau Gugus Tugas Covid-19 tingkat terendah,” kata Kepala Data dan Informasi BNPB Agus Wibowo, Rabu (29/4).

Melansir dari Kompas.com Pelaksana Tugas Menteri Perhubungan Luhut Binsar Pandjaitan bahkan menyatakan tidak ada pelarangan mudik resmi dari pemerintah.

“Diputuskan tidak ada pelarangan mudik resmi dari pemerintah,” kata Pelaksana Tugas Menteri Perhubungan Luhut Binsar Pandjaitan seusai rapat terbatas yang dipimpin langsung oleh Presiden Joko Widodo, Kamis (2/4/2020).

Saat menyetujui alasan pemerintah menghentikan Mudik, Luhut hanya menjawab singkat.

“Orang kalau dilarang, (tetap) mau mudik saja gitu.  Jadi kita enggak mau (larang),” ucap dia.

Kendati demikian, Luhut Binsar mengalihkan pemerintahan tetap mengimbau masyarakat tidak mudik demi mencegah penyebaran virus corona (Covid-19). Namun, jika mereka tetap ingin mudik, maka harus melakukan karantina secara mandiri selama 14 hari di kampung halamannya masing-masing.

Maju mundur kebijakan mudik yang tak jelas arah tentu membuat masyarakat menyangsikan keefektifannya dalam menekan penyebaran virus. Berbagai upaya telah dilakukan namun belum juga menunjukkan hasil yang maksimal. Alih-alih menolak kebijakan lockdown untuk menjaga stabilitas ekonomi mengakibatkan kasus terinfeksi berkembang dari yang mulanya hanya 2 kasus menjadi 13.112 kasus pada 8 mei 2020 (https://covid19.go.id/). Banyak dana yang digelontorkan untuk menangani wabah ini, tidak sedikit pula nyawa yang menjadi taruhannya.

Sebenarnya solusi terbaik permasalahan yang tengah kita hadapi saat ini adalah Islam. Islam telah lebih dulu dari masyarakat modern membangun ide karantina untuk mengatasi wabah penyakit menular.

Rasulullah SAW. pernah memperingatkan umatnya untuk jangan mendekati wilayah yang sedang terkena wabah. Sebaliknya, jika sedang berada di tempat yang terkena wabah, mereka dilarang untuk keluar. Beliau bersabda:

إِذَا سَمِعْتُمْ بِالطَّاعُونِ بِأَرْضٍ فَلاَ تَدْخُلُوهَا، وَإِذَا وَقَعَ بِأَرْضٍ وَأَنْتُمْ بِهَا فَلاَ تَخْرُجُوا مِنْهَا

Jika kalian mendengar wabah terjadi di suatu wilayah, janganlah kalian memasuki wilayah itu. Sebaliknya, jika wabah itu terjadi di tempat kalian tinggal, janganlah kalian meninginggalkan tempat itu (HR al-Bukhari).

Dikutip dalam buku berjudul, Rahasia Sehat Ala Rasulullah SAW.: Belajar Hidup Melalui Hadis-hadis Nabi karya Nabil Thawil, pada zaman Rasulullah saw., jika ada sebuah daerah atau komunitas terjangkit penyakit Tha’un, beliau memerintahkan untuk mengisolasi atau mengkarantina para penderitanya di tempat isolasi khusus. Jauh dari pemukiman penduduk. Ketika diisolasi, penderita diperiksa secara detail. Lalu dilakukan langkah-langkah pengobatan dengan pantauan ketat. Para penderita baru boleh meninggalkan ruang isolasi ketika dinyatakan sudah sembuh total.

Kita tunggu saja di mana akhir dari pandemic global ini. Salah satu upaya pelarangan mudik diantara sederet upaya lainnya hingga saat ini belum dapat memberikan perlindungan optimal kepada rakyat. Mungkinkah tanpa penerapan Metode isolasi atau karantina yang sekarang lebih dikenal dengan ‘lockdown’ seperti yang diterapkan di masa sahabat Nabi dapat membuat Indonesia terbebas dari virus corona.

WalLâhu a’lam bi ash-shawâb.