Ilustrasi

Memasuki sepuluh hari terakhir bulan Ramadan, derajat pahala yang Allah berikan pada umatnya semakin tinggi. Artinya, semakin banyak melakukan ibadah dan beramal di hari-hari terakhir menjelang berakhirnya Ramadan, maka semakin banyak pula pahala yang akan diterima.

Salah satu amalan yang sangat dianjurkan dilakukan di sepuluh hari terakhir Ramadan adalah i’tikaf atau berdiam diri di masjid sambil melakukan kegiatan yang bernilai ibadah.

Dari Aisyah radhiyallahu ‘anha, ia berkata:

Sesungguhnya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa beri’tikaf di sepuluh hari terakhir dari bulan Ramadan hingga beliau diwafatkan oleh Allah. Lalu istri-istri beliau beri’tikaf setelah beliau wafat. Muttafaqun ‘alaih.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Berikut 5 keutamaan i’tikaf yang dilansir dari berbagai sumber.

1. Mencari malam Lailatul Qadar

Untuk bisa bertemu Lailatul Qadar, perlu memperbanyak ibadah di kala malam. Dengan melakukan i’tikaf, akan lebih bisa fokus melakukan banyak kegiatan ibadah tersebut, seperti membaca Alquran dan tafsirnya, berzikir, salat qiyamul lail, dan kegiatan bermanfaat lain.

Oleh sebab itu, beri’tikaf di sepuluh hari terakhir Ramadan, bisa lebih berpeluang berjumpa dengan malam Lailatul Qadar.

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

Sungguh saya beri’tikaf di di sepuluh hari awal Ramadhan untuk mencari malam kemuliaan, kemudian saya beri’tikaf di sepuluh hari pertengahan Ramadhan, kemudian Jibril mendatangiku dan memberitakan bahwa malam kemuliaan terdapat di sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan. Barangsiapa yang ingin beri’tikaf, hendaklah dia beri’tikaf (untuk mencari malam tersebut).

2. Terjaga dari perbuatan maksiat

Menjauh sejenak dari hiruk pikuk dunia, akan lebih terlindungi dari bermacam jenis perbuatan maksiat. I’tikaf bisa mencegah dari kebiasaan bergosip, atau urusan zuhud lainnya.

Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

Dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, ia berkata, “Dahulu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersungguh-sungguh di 10 terakhir di bulan Ramadhan lebih dari pada bersungguh-sungguhnya beliau di hari-hari lainnya.” (HR. Muslim dan Ahmad).

3. Salat menjadi lebih khusyuk

Habluminallah atau hubungan antara Allah dengan manusia bisa semakin terbentuk jika kamu melakukan i’tikaf. Karenanya, sembari berlatih agar ibadah salat bisa lebih khusyuk. Salat, terutama salat fardu, bukan semata-mata untuk menggugurkan kewajiban, melainkan sebagai kebutuhan hidup.

Dalam Al-Qur’an, Allah subahanahu wa ta’ala memuji hamba-hamba-Nya yang memiliki sifat khusyuk,

Sesungguhnya laki-laki dan perempuan yang muslim, laki-laki dan perempuan yang mu’min, laki-laki dan perempuan yang tetap dalam keta’atannya, laki-laki dan perempuan yang benar, laki-laki dan perempuan yang sabar, laki-laki dan perempuan yang khusyu’, laki-laki dan perempuan yang bersedekah, laki-laki dan perempuan yang berpuasa, laki-laki dan perempuan yang memelihara kehormatannya, laki-laki dan perempuan yang banyak menyebut (nama) Allah, Allah telah menyediakan untuk mereka ampunan dan pahala yang besar”. (Al-Ahzaaba ayat 35).

4. Memberi kesempatan untuk evaluasi diri

Manusia lebih mudah mengevalusi kesalahan orang lain ketimbang kesalahannya sendiri.

Momen beri’tikaf bisa memberi ruang dan kesempatan untuk melihat ke dalam diri sendiri tentang hal-hal negatif yang sudah dilakukan selama ini. Harapannya, setelah melakukan i’tikaf, bisa menjadi pribadi yang jauh dari perbuatan tercela.

Aisyah berkata, “Wahai Rasulullah, apa pendapatmu jika aku ketepatan mendapatkan malam lailatul qadar, apa yang harus aku ucapkan?”, beliau menjawab: “Ucapkanlah, Allahumma innaka ‘afuwwun tuhibbul ‘afwa fa’fu anna” (Ya Allah, sesungguhnya Engkau maha pemaaf mencintai kemaafan, maka maafkanlah aku).” (HR. Ibnu Majah, yang dishahihkan oleh Al Albani).

5. Mengajarkan berlaku sabar dalam menjalankan amal saleh

Selain menjauh dari perkara zuhud, beri’tikaf juga bisa mengajarkan sifat sabar selama menjalankan amal ibadah. Beri’tikaf dituntut tidak tergesa-gesa melaksanakan salat, membaca Quran, berzikir, membaca buku agama, dan amal saleh lainnya. I’tikaf bisa membuat lebih merasakan getaran hati saat melakukan ibadah-ibadah tersebut.

Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

“Perumpamaan orang yang berzikir kepada Tuhannya dengan orang yang tidak berzikir kepada Tuhannya adalah seperti orang yang hidup dengan orang yang mati.” (HR. al-Bukhari).

Itulah beberapa keutamaan dari i’tikaf. Apabila tidak sempat melakukan i’tikaf selama sepuluh hari penuh di akhir Ramadan, minimal bisa menyempatkan satu hari untuk beri’tikaf di masjid-masjid terdekat.

Akan tetapi, dalam situasi wabah saat ini, dianjurkan untuk memperbanyak ibadah di rumah. Apabila memungkinkan melakukan i’tikaf, haruslah mematuhi prosedur kesehatan yang telah ditetapkan. [Suci Kusuma]