Ilustrasi. [Foto Thinkstock]
Sudah berbulan-bulan Corona jadi trending topic dunia. Namanya dibicarakan dimana-mana, mengalahkan pembicaraan akan Allah subhanahu wa ta’ala, Tuhan Semesta Alam. Saking seringnya dibicarakan, setiap orang kini takut dengan Corona. Tapi anehnya tetap berani meninggalkan perintah Allah subhanahu wa ta’ala. Lalu kini muncul istilah baru menggeser Corona, yakni New Normal.

New Normal atau Kenormalan Baru, atau Kewajaran Baru, sebenarnya bukan istilah baru. Istilah ini sudah ada sejak berakhirnya krisis keuangan pada tahun 2008 silam dengan makna menganggap normal hal yang sebelumnya abnormal. Menganggap wajar sesuatu yang tadinya tidak wajar.

Pemerintah telah mengumumkan kemungkinan diterapkannya New Normal itu dalam kehidupan rakyat Indonesia di tengah Pandemi Corona. Namun sementara, kebijakan ini diberlakukan terbatas pada sejumlah kabupaten/kota. Kebijakan itu dinilai menjadi satu-satunya jalan keluar agar selamat dari kubangan krisis ekonomi sebelum ditemukannya vaksin Covid-19.

Dengan kebijakan tersebut, penggunaan masker, cuci tangan, tak bersalaman, dan semua protokol kesehatan pencegahan penyebaran Corona menjadi budaya baru di tengah-tengah masyarakat saat menjalankan hidup dan kehidupan yang harus berlaku. Konon setiap pelanggaran akan diberi sanksi.

Tapi benarkah dengan New Normal masalah pandemi Covid-19 dan krisis ekonomi berakhir? Belum tentu. Saat ini justru banyak pengamat yang menilai bahwa New Normal hanya akan mengerem bangkrutnya ekonomi kapitalisme neoliberal yang telah mendominasi tatanan kehidupan manusia sejak beberapa dekade terakhir, bukan menghentikannya.

Ibarat rumah yang atapnya bocor ketika hujan. Saat air menetes, sang pemilik rumah hanya menampung tetesan air dengan ember. Ketika hujan berhenti, ember ditarik. Hujan lagi, tampung lagi dengan ember. Begitu terus. New Normal adalah ember untuk menahan laju krisis yang ditimbulkan Covid-19, bukan untuk mengenyahkan Covid-19 itu sendiri.

Padahal langkah yang tepat seharusnya adalah dengan menambal atap yang bocor.

Maksudnya, kalau krisis kesehatan dan ekonomi dampak Covid-19 merupakan percikan murka Allah subhanahu wa ta’ala karena kebiadaban cara hidup kapitalisme neoliberal yang menindas, cabul, dan brengsek, maka seharusnya solusinya adalah dengan menggantikannya dengan cara hidup baru, yang mendekatkan setiap orang kepada Allah.

Nabi Muhammad shalallahu ‘alaihi wa sallam meneladaninya dengan sosialisme Islam, menjadikan ekonomi berorientasi kepada masyarakat sebagai poros perabadan, bukan uang atau kapital. Bebaskan negara dari cengkraman kaum cukong dan boneka-bonekanya. Seluruh kekayaan alam harus dimiliki negara, dikelola untuk sebesar–besarnya kemakmuran rakyat.

Agar terbebas dari segala macam virus dan kemaksiatan, wajibkan rakyat menjaga wudhu 24 jam dalam sehari sebagai ganti cuci tangan, kenakan cadar bagi perempuan agar auratnya tertutup dengan sempurna sebagai ganti masker, tutup mulut saat bersin, hidupkan ribuan sunah Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam yang telah nyata dan teruji mampu menyelamatkan kehidupan manusia dari jutaan virus dan penyakit.

Jadikan rumah-rumah ibadah sebagai pusat penyelesaian masalah. Seluruh laki-laki dewasa harus terlibat dalam satu usaha mengajak sesama kepada kebaikan. Singkatnya, kerjakan apa yang Allah subhanahu wa ta’ala inginkan kepada makhluk ciptaan-Nya. Inilah kehidupan normal yang sebenarnya. Inilah cara menyelesaikan masalah Covid-19 hingga ke akarnya.

Itulah hukum Allah subhanahu wa ta’ala yang bekerja sejak manusia ada di dunia hingga saat ini. Manusia diberi banyak nikmat, kemudian menjadi lupa dan ingkar, lantas Allah kirim utusan untuk memberikan peringatan. Ketika peringatan itu diindahkan, manusia selamat. Namun jika tidak, bersiap-siaplah dengan bencana yang lebih dahsyat.