Foto istimewa

PedomanBengkulu.com, Bengkulu – Diprotes oleh Kerukunan Keluarga Tabut (KKT) Bengkulu, buku yang disponsori oleh Bank Bengkulu yang berjudul “Perayaan Tabot di Kota Bengkulu dalam Perspektif Struktural Fungsional” yang mana penulisnya Gubernur Bengkulu Dr H Rohidin Mersyah dan Dr H Herawansyah.

Dua nama penulis sebagaimana tercantum di sampul buku tersebut yakni Dr H Rohidin Mersyah selaku orang nomor satu di Provinsi Bengkulu dan ada juga Dr Herawansyah.

Dua sosok penulis yang tidak asing lagi, terutama Dr H Rohidin Mersyah, dia adalah Gubernur Bengkulu saat ini, sedangkan Dr Herawansyah adalah mantan Kepala Dinas PU Seluma, sekaligus youtuber dan penulis yang punya sederetan keahlian lainnya, pernah juga menjadi Ketua LPJK Bengkulu.

Buku tersebut, menurut Herawansyah sudah siap terbit dan dalam proses lay out. Namun, penggunaan kata “Tabot’ mengundang reaksi dari KKT.

Ahmad Sjafril, selaku Ketua KKT mengatakan, penggunaan kata “Tabot” akan mengacaukan dan membingungkan khalayak atau masyarakat. Sebab selama beberapa tahun ini, masyarakat sudah terbiasa dengan penggunaan kata “Tabut”.

Sebelumnya, kata “Tabot” juga sudah digunakan, namun kemudian disepakati diganti dengan kata “Tabut” dan sudah berlangsung selama beberapa tahun.

“Sudah jelas tabut yang betul, malah dirusak lagi. Tabot itu upacara kristiani jadi tidak Islami. Jika Tabut Islami karena upacara bertolak dari sejarah Islam,” protes Ketua KKT saat diwawancarai, pada Sabtu (20/6/2020).

Ditambahkan Sjafril, pihak penulis tidak ada sama sekali koordinasi.

“Jangan sampai membuat kekacauan baru. Tahun 2013, kan sempat kisruh heboh kemudian diselesaikan oleh Mabes Polri. Jangan sampai tulisan yang sudah basi sebelum 2013 dikumpulkan. Dampaknya akan menyudutkan pewaris tradisi Tabut. Cerita tabut ini sangat sensitif jika pemaknaannya dibelokkan perihal statement yang tidak sesuai dan asbun. Jangan sampai membuat tulisan keluar dari kesepakatan bersama yang ditanda tangani di Kapolda pada Tanggal 10 Desember 2013,” papar Sjafril.

Sementara itu, dari penulis, Herawansyah menyangkal bahwa penggunaan klausa yang benar adalah Tabot.

“Tabut itu Peti. Jaman Nabi Musa jadi tempat penyimpanan Taurat. Jaman Perang Karballa menjadi tempat meletakkan jenazah Husain bin Ali bin Abu Thalib. Menjadi ritual/tradisi. Reka ulang/dramatisasi peristiwa perang Karballa di Irak. Akulturasi Budaya Arab dengan Budaya India, sampai ke Bengkulu, akulturasi dengan budaya Bengkulu jadi. Tabot Sampai ke Minang Kabau, akulturasi dengan budaya, Minangkabau menjadi Tabuik,” jelas Herawan.

Saat ini, proses pembuatan buku itu sendiri telah sampai pada tahap lay out.

“Proses editing sudah selesai, sekarang lay out, target awal Agustus selesai. Agak lama karena hard cover dan kertas Art Paper,” terang Herawansyah.

Sama hal dengan Gubernur Rohidin, dirinya menjelaskan bahwa penulisan buku saat ini masih pada tahap penyempurnaan.

“Kita masih tahap penyempurnaan dan dukungan data yang valid,” kata Gubernur Rohidin. [Soprian Ardianto]