Hampir semua negara-negara di dunia menghadapi ancaman virus Covid-19, yang sangat mengancam keberlangsungan hidup manusia saat ini. Kondisi ini membuat semua sektor tatanan kehidupan masyarakat suatu bangsa menjadi tidak menentu akibat penularan virus yang sangat cepat. Tidak terkecuali dunia pendidikan, hampir seluruh kampus di dunia tidak bisa menjalankan aktivitas perkuliahan seperti biasa, sekolah-sekolah mulai dari PAUD, TK, SD, SMP, SMA tidak bisa menjalankan pembelajarannya di dalam ruang kelas .

Berbagai metode pembelajaran ditawarkan agar proses perkuliahan dan pembelajaran bisa tetap berjalan, ditengah pandemi Covid-19 ini. Namun hingga saat ini belum ada metode yang memadai, dalam menjalankan aktivitas pembelajaran yang efektif, efisien untuk keberlangsuangan pendidikan yang berkualitas. Bahkan sudah hampir 3 bulan terakhir, para siswa belajar secara daring/online. Bagi guru-guru dan siswa diperkotaan, mungkin ini tidak terlalu mengalami kendala dalam menerapkan proses Kegiatan Belajar Mengajar (KBM) melalui daring/online. Akan tetapi bagi sekolah yang berada di pelosok-pelosok, tentunya KBM secara daring ini banyak kendala, terutama akses internet dan fasilitas pembelajaran lainnya.
Karena sistem pembelajaran secara online ini menuntut siswa belajar secara mandiri serta membutuhkan fasilitas dan sumberdaya yang memadai, tidak sedikit sekolah yang tidak bisa menjalankan metode pembelajaran jarak jauh tersebut dengan maksimal.

Semua sekolah meliburkan proses pembelajaran selama wabah covid-19 ini. Walaupun para orang tua sangat berharap anak-anaknya bisa menjalankan aktivitas belajar seperti sedia kala. Namun disisi lain, ada kekawatiran mereka terhadap penyebaran virus ini ke anak-anak mereka. Disinilah peran para orang tua dituntut, untuk menjadi mentor yang baik bagi anak-anak mereka dirumah. Hal ini mungkin bisa turut membantu suksesnya pembelajaran secara daring, namun persolannya tidak semua orang tua punya kafasitas dan waktu untuk membantu anak-anaknya belajar.

Entah apa yang akan terjadi nanti terhadap pendidikan kita, pemerintah dituntut untuk bisa mencari formula bagaimana dunia pendidikan kita bisa berjalan dengan baik dan berkualitas.
Memang Proses pembelajaran PJJ (pembelajaran jarak jauh) bisa menjadi solusi, meskipun masih dipandang kurang efektif dan ada konsekuensi bagi orang tua yang berpenghasilan menengah kebawah. Karena PJJ ini harus didukung dengan fasilitas berbasis internet, seperti HP android atau laptop. Belum lagi harus mengeluarkan biaya akses internet yang harus dipertimbangkan. Belum lagi daerah-daerah pelosok yang akses internetnya belum terjangkau, sudah tentu menjadi tantangan PJJ itu juga sendiri.
Agar tidak adanya ketimpangan antara sekolah yang berada di perkotaan dan di pedesaan, ini semua harus menjadi pertimbangan yang mesti diperhatikan oleh pemerintah. Kalaupun PJJ masih diberlakukan, semua ini harus dilakukan dengan cermat dan dengan catatan kurikulum yang jelas serta perlu penyederhanaan kurikulum pendidikannya.

Sebenarnya guru lebih cenderung mengajar bertatap muka, dari pada secara daring. Karena kebiasaan selama ini yang mereka lakukan belajar dengan tatap muka, baik dikelas maupun di luar ruang kelas, sangat tidak mungkin institusi pendidikan bisa menciptakan karakter siswanya jika pembelajaran tidak dengan bertatap muka. Sementara konsep pembelajaran secara daring ini, masih dipandang baru oleh sebagian para guru. Tentunya juga para guru banyak mengalami kendala, terkhususnya bagi sekolah-sekolah yang berada di pelosok, pembelajaran secara Online ini sangat tidak efektif.
Bahkan dibeberapa daerah pembelajaran secara daring ini tidak bisa diterapkan sama sekali, guru menggantikan pembelajaran dengan memberikan tugas kepada siswa perminggunya, sungguh sesuatu yang berat harus dikerjakan guru, karena harus mengantarkan lembaran tugas kerumah siswa untuk dikerjakan di rumah.

Harapan kita semua adalah jangan sampai nasib pendidkan generasi bangsa diabaikan dimasa pandemi covid 19 ini, karena pendidikan sama pentingnya juga dengan kesehatan dan ekonomi. Kesemuanya berdampak pada kesejahteraan masa depan anak dan kelangsungan generasi kedepannya. Selanjutnya perlu juga kita fikirkan dampak psikis bagi anak, ketika proses belajar dirumah terus menerus.

Jika nanti sekolah-sekolah dibuka oleh pemerintah, maka harus ada kematangan Kesiapan sekolah melaksanakan New Normal dengan protokol kesehatan, karena membuka sekolah dimasa pandemi covid 19 saat ini adalah pertaruhan besar bagi kita semua. Dan jika harus belajar secara daring, maka hal-hal seperti fasilitas akses internet, biaya penggunaan data internet harus menjadi pertimbangan bagi pemerintah.

Walau bagaimanapun kondisinya, reformasi pendidikan memang harus dilakukan di tengah pandemi covid 19 ini, karena ini menyangkut persoalan kualitas pendidikan serta hak untuk mendapatkan pendidikan yang layak bagi anak bangsa. Sebagaimana telah dimandatkan dalam UUD 1945. Semoga Covid 19 ini secepatnya bisa teratasi oleh bangsa kita.

Sukamdani, M.Pd I Ketua Pendidikan dan Kaderisasi Pimpinan Wilayah Pemuda Muhammadiyah Bengkulu

Saat ini Penulis Kepsek MTs Dzikir Fikir Kabupaten Lebong. Penulis juga Peraih Penghargaan DAAI Inspiration Award Bidang Pendidikan 2018 dan Peraih Penghargaan Pemuda Inspirasi Bidang Pendidikan 2019 oleh Bengkulu Youth Forum.