Ustaz Saeed Kamyabi saat memberikan muzakarah tentang jurnalis mubalig di Masjid Al-Hafizh Taman Bonsai Pantai Anggut Bawah, Sabtu (13/6/2020).

PedomanBengkulu.com, Bengkulu – Bertempat di Masjid Al Hafizh yang berlokasi di Taman Bonsai Pantai Anggut Bawah Kota Bengkulu, pelatihan tentang bagaimana menjadi seorang jurnalis sekaligus mubalig kembali digelar, Sabtu (13/6/2020).

Kali ini, Risma Agung At-Taqwa bersama media online Pedoman Bengkulu mengundang Ustaz Saeed Kamyabi dari Jakarta, seorang mubalig yang telah menempuh pelatihan lebih di 20 negara di dunia.

Menurut Ustaz Saeed Kamyabi, jurnalis mubalig harus memiliki sifat seperti lebah, bukan lalat. Kata dia, ada contoh nyata antara seorang jurnalis yang berdakwah dengan yang tidak berdakwah.

“Lebah ini singgahnya di tempat-tempat yang bersih, perbuatannya memberi manfaat, yang dihasilkannya madu yang sangat bagus untuk obat, hidupnya berjamaah dan sengatannya bisa berbahaya bila diganggu,” Ustaz Saeed menjelaskan.

Sementara lalat, lanjutnya, suka singgah di tempat-tempat yang jorok, perbuatannya memberi mudarat, kotoran yang dihasilkannya menimbulkan penyakit, tidak pernah berjamaah dan kalau hinggap di sesuatu tempat pasti langsung diusir.

“Jurnalis yang keren itu memviralkan kebaikan, menenggelamkan keburukan. Corona itu besar karena dibesar-besarkan media. Coba media membesarkan-besarkan tentang pentingnya salat, salat akan lebih populer ketimbang corona,” ujar Ustaz Saeed.

Namun pendiri Gerakan Makmurkan Satu Juta Masjid di Indonesia (Gemasajid) ini meningatkan, jangan sampai usaha untuk memviralkan kebaikan terjebak kepada sifat riya’ ketika mengangkat kebaikan yang dilakukannya.

“Kalau riya’ tinggalkan. Viralkan kebaikannya saja. Riya’ haram. Kebaikan halal. Makanya sifat ikhlas penting dimiliki oleh mubalig yang berprofesi sebagai jurnalis,” papar Ustaz Saeed.

Untuk diketahui, pelatihan ini merupakan kali kedua setelah sebelumnya juga digelar pada Sabtu, pekan lalu.

Kegiatan ini akan dilaksanakan secara rutin dengan mengundang para tokoh di Bengkulu. [Muhammad Qolbi]