Rombongan Jamaah Tabliqh Bengkulu saat sedang tadarusan.

Assalamu’alaikum Warohmatullahi Wabarokatuh.

Hai, kawanmuda. Puji syukur Allah masih memberi kita kesehatan hingga dipertemukan dalam cerita ini. Apa kalian pernah dengar istilah tentang seorang yang diantarkan hidayah?.

Siapa yang tahu kapan hidayah (kemudahan) Allah, menghampiri seorang manusia. Sehingga, ada sebagian orang mesti sibuk mengejar dan mencari dengan bepergian ke penjuru tempat sakral. Namun, masih belum menemui jalan menuju ketaatan.

Ada juga, sebagian lagi memilih untuk menunggu hidayah mendatanginya. Tidak ada yang salah dari kedua jalan tersebut. Hanya, Allah saja yang maha tahu kapan hidayah itu harus diturunkan kepada umatnya.

Ya, sesuai dengan janjinya. Ia akan menurunkan berkah bagi yang ia kehendaki. Kendati demikian, siapa sangka disaat banyak umat Islam yang mencari dan menunggu hidayah. Allah malah mengantarkannya pada suatu umat.

Maha besar Allah dengan segala mukhjizat dan kasih sayangnya.

Masa iya sih ?. Kok aku gak ?. Mungkin sebagian kawanmuda sukar untuk mempercayainya. Tapi, hal itulah sedang terjadi di Dunia fana yang dirundung Virus Corona (Covid-19).

Ya, Allah bisa melakukan suatu hal apapun yang ia inginkan. Kun fayakun.

Seperti halnya yang dirasakan, Keluarga Jayanto (bukan nama sebenarnya) (43) yang berasal dari Kabupaten Kaur Provinsi Bengkulu. Tak tanggung-tanggung, hidayah itupun turut Allah turunkan kepada anak sulungnya, Satria (bukan nama sebenarnya) (18).

Hidayah yang diturunkan itu, berupa jalan untuk ber-ikhtiar dengan melakukan itikaf bersama Jamaah Tabliqh (JT) Bengkulu.

Alhamdulillah. Tanpa pikir panjang ia dan buah hati langsung mengikuti program dakwah, Jamaah Tabliqh (JT) yang sedang ber-‘itikaf’ di Mushollah Al-Asad Kelurahan Pengantungan.

Memang sih, hidayah itu tidak turun tanpa ada proses. Malah, sebelum memutuskan untuk ber-itikaf ia mesti merasakan goncangan sangat serius.

Dimana, ia harus menelan pil pahit akan musibah yang menimpa putra sulungnya. Sehingga, pemuda berkulit putih menjalani terapi ruqiah di mushollah pada Minggu (28/6/2020) ba’da Isya.

Maaf, dikarenakan melindungi privasi keluarga pria yang akrab disapa ‘pak’ oleh rombongan Jamaah Tabliqh, penulis enggan merincikan secara detail musibah yang menimpanya.

So, kawanmuda diharapkan mengerti dan tidak merasa kecewa. Ok, guys.

“Iya, ini pertama kali saya dan anak, melakukan itikaf di masjid,” ucap Sukanidi dengan nada yang sedikit lesu.

Memang benar, Jayanto tidak mengikuti program itikaf sejak awal bersama rombongan JT. Ia beserta anaknya, ikut bergabung setelah JT menjalani kegiatan dihari ke-dua. Pada Sabtu (27/6/2020) ba’da Isya.

“Alhamdulillah, Allah telah memberikan kemudahannya,” kata Jayanto.

Sedikit menceritakan, syukur-syukur bisa mengobati sedikit kekecewaan kawanmuda. Pertemuan rombongan JT dengan keluarga Sukanadi, tidak pernah terencana sama sekali.

Tapi, bukan suatu kebetulan juga kawanmuda. Pertemuan ini, mungkin sudah tertulis dalam ‘lauhul mahfudz’.

Pertemuan itu, berlangsung ketika rombongan JT tengah menjalani program itikaf. Yaitu, keluar menuju jalan Allah selama 3 hari. Dengan menghidupkan sunah-sunah rasul, taklim dan takwil di Mushollah Al-Asad.

Selain itu, JT juga melakukan adab Jaulah. Yaitu, bersilaturrahmi dari pintu ke pintu rumah warga setempat sembari berdakwah. Serta, mengajak para anak-anak, pemuda dan kepalakeluarga untuk ke masjid atau musholla melakukan sholat berjamaah.

Saat itu, Jayanto sedang berkunjung ke kediaman saudaranya. Hanya berjarak sekitar 30 meter, dari lokasi rombongan JT ber’itikaf.

Nah, cukup sampai disini aja ya kawanmuda. Hi, hi, hi. Jangan lupa untuk terus mengunjungi PedomanBengkulu.com yang insya allah, akan terus memanjakan kawanmuda dengan berita-berita aktual dan menarik.

Akhir kalam, kami ucapkan terimakasih. Wassalamu’alaikum warrohmatullahi wabarokatuh. [Alvi]