Hari itu, kita duduk di atas sebuah batu besar. Kau yang tampak takjub dengan lembayung, aku yang diam menatap ombak.

Sesekali mata kita beradu, seketika pula kita tampak malu-malu. Maklum, ini pertemuan pertama. Kita hanya belum terbiasa kontak fisik. Sebagaimana selama ini kita begitu semu.

Orang-orang berlalu lalang di tengah jalan, aku tak begitu memperhatikan. Sebab aku tak ingin ada senyummu yang terlewatkan, dan akibatnya tak bisa kulupakan.

Kalau tidak salah kau memakai kerudung biru, dan aku berjaket abu-abu. Walau tak begitu banyak bicara, paling tidak kita larut dalam beberapa cerita yang kembali kita ulik dari perbincangan dalam pesan-pesan tadi malam.

Hidup memang tidak pernah dapat di tebak. Kita sudah sejauh ini sekarang, tak sebagaimana cerita yang pernah kita karang. Kita sudah sangat jauh karena banyak hal. Kau perlahan berubah menjadi orang yang ingin dimengerti, aku juga berusaha berubah untuk tetap senang bisa kau repotkan.

Kau tahu?, kau sudah melekat dalam bait-bait ini, kau sudah mendarah daging dalam setiap kata-katanya. Menjadi bagian penutup dari setiap doa, menjadi mimpi dalam tidur, ku peluk sedalam kenangan. Sayangnya kau dan aku terlalu hipokrit untuk sekadar siapa dahulu menyapa.

[Febru eka Pratama, 2020]