Ilustrasi

Mengalah adalah salah satu sifat terpuji yang semestinya diperhatikan oleh umat muslim. Selain itu mengalah bukan berarti kalah.

Dalam hal mengajak kebaikan pun, sangat penting untuk bersikap mengalah, sebagaimana Allah Subhanahu wata’ala berfirman:

“Maka dengan rahmat Allah kamu berlaku lembut kepada mereka. Bila kamu berlaku kasar dan berhati keras, maka pastilah mereka akan menghindar dari sisimu, maka maafkan mereka.” (QS. Ali Imran/3: 159).

Mengalah bukan ketika salah saja, tapi juga benar. Karena persoalannya bukan pada salah atau benar, namun mengalah itu menunjukkan ketinggian akhlak.

Sebagaimama Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Barangsiapa memperbaiki akhlaknya, maka akan dibangunkan untuknya sebuah rumah pada tempat tertinggi di surga.” (HR. Ibnu Majah).

Hal itulah yang membuat akhlak adalah kunci untuk meraih surga pada tempat tertinggi. Menurut Ibnu Miskawaih dalam Tahdzib al-Akhlaq, akhlak adalah respons spontan. Artinya, akhlak adalah perilaku jiwa yang mendorong raga untuk melakukan kebaikan tanpa melibatkan pikiran terlebih dahulu.

Dalam Adab al-Syafi’i wa Manaqibuhu, Imam Abdurrahman al-Razi mengutip pernyataan Imam Syafi’i, “Aku mendebat seseorang untuk memberi nasihat.” Pernyataan ini adalah refleksi, “Serulah (manusia) kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik.” (QS. al-Nahl/16:125).

Terkait pahala mengalah yang berhadiah surga itu tidak hanya perdebatan seperti yang diuraikan di atas, tapi juga dalam kehidupan berumah tangga. Perbedaan pendapat yang tipis kerap menjadi perselisihan antara suami dan isteri apabila tidak ada yang mau mengalah. Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Maukah kalian aku beritahu tentang istri-istri kalian yang termasuk ahli surga?”

Inilah jawaban Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam, “Mereka yang besar kasih sayangnya, subur (banyak anak), mudah minta maaf kepada suaminya, yang apabila bersalah atau disakiti dia segera mendatangi suaminya dan memegang tangannya seraya berkata, ‘Demi Allah aku tidak akan memejamkan mata hingga kamu ridha (memaafkan aku).” (HR. Nasa’i).

Di pihak lain, sang suami juga harus bersedia mengalah. Allah Subhanahu wata’ala memberi nasihat, “Dan bergaullah dengan mereka secara patut. Kemudian jika kamu tidak menyukai mereka, (maka bersabarlah) karena mungkin kamu tidak menyukai sesuatu, padahal Allah menjadikan padanya kebaikan yang banyak.” (QS. al-Nisa/4: 19).

Itulah salah satu cara Allah untuk senantiasa mengatur kehidupan, sehingga memberikan kenyamanan bagi setiap makhluk yang ada di bumi.[Suci Kusuma]