Jamaah yang tengah beriktikaf di Masjid At-Taubah Ekslokalisasi Pulau Baai saat mengajak warga sekitar untuk ikut serta memakmurkan masjid, kemarin.

Cerita ini, mungkin akan menjadi penggalan penutup dari perjalanan wisata jamaah Masjid Al-Manar Kelurahan Belakang Pondok Kecamatan Ratu Samban Kota/Provinsi Bengkulu. Sebab, perjalanan dakwah di ekslokalisasi RT 08 Kelurahan Sumber Jaya Kecamatan Kampung Melayu berakhir saat matahari mulai menapakkan sinarnya, Senin (27/7/2020).

Alfi Kurnia, KOTA BENGKULU

Matahari mulai meredupkan cahayanya perlahan sewaktu para jamaah, selesai melaksanakan sholat Ashar. Beberapa dari mereka, tampak mulai risau. Menahan hati, hendak bergegas keluar dari Masjid At-Taubah.

Bukan karena enggan mendengarkan taklim rutin ba’da Ashar. Namun, mereka sudah tak kuasa menahan untuk mengetuk pintu hati, para penghuni pemukiman ekslokalisasi memakmurkan rumah Allah subhanahu wa ta’ala.

Waktu yang ditunggu pun, akhirnya menghampiri. “Siapa yang siap keluar untuk ber-jaulah,” kata Ustaz Yakub, disela taklim.

“Insya Allah,” jawab enam orang jamaah. “Dibentuk saja kelompok beranggotakan 2 orang, biar program kita lebih efektif,” ujar Ustaz Yakub, sebelum mempersilahkan keenam jamaah melangkah keluar masjid.

Seakan menjadi benih yang terhampar dihati, nasihat yang diucapkan Ustaz Yakub seakan tertanam direlung ketika menyampaikan bayan atau tausiah, Minggu (26/7/2020) sebelumnya.

“Tidak ada perkataan yang lebih baik dari pada orang yang mengajak taat kepada Allah subhanahu wa ta’ala,” kata pria bertubuh tinggi itu dalam bayannya.

Saat itu, udara terasa hangat menyamankan. Meskipun, ombak di lautan bergemuruh. Dengan semangat tinggi. Para jamaah yang telah berdoa, melangkah keluar dari pekarangan masjid.

Tampak, dua kelompok melewati gerbang masuk ekslokalisasi yang berdiri tepat, disamping Masjid At-Taubah. Setelah melewati portal masuk, berdamping semilir angin langkah kaki jamaah terasa kian pasti.

Namun, ketika langkah kaki jamaah bercokol dibilangan ke-lima puluhan. “Assalamualaikum, abang. Mampiri ke sini dong,” teriak penghuni salah satu rumah ekslokalisasi dari dalam.

“Walaikumsalam warohmatullahi wabarokatuh,” jawab satu kelompok tanpa menoleh dan menghiraukan tawaran tersebut.

Jarum waktu terus berputar. Jumlah langkah kaki dari jamaah pun tak terhitung lagi, ketika menapaki jalanan berpasir pantai padat di pemukiman tersebut.

Hingga tanpa sadar, keringat telah melembapi kaos dalam yang dikenakan jamaah dalam melancarkan program jaulah, sebuah program mengetuk pintu rumah warga untuk mengajaknya ikut memakmurkan masjid.

Tak terasa, sekitar 60 menit sudah berlalu. Tampak jingga dari sinar surya, membasahi awan putih di langit biru.

Tampak dua kelompok yang berdakwah dipemukiman warga berjumpa, dipersimpangan jalan. Langkah mereka seolah mengisyaratkan nada yang sama, kembali mengarah ke masjid.

Jamaah saat menyusuri jalan di ekslokalisasi untuk mengajak warga ikut serta memakmurkan masjid di kawasan tersebut.

Setibanya di masjid, satu persatu kelompok mulai melaporkan hasil perjalanan mencari hati hamba Allah. Saat itu, Ustaz Yakub sedang membacakan kitab hadits Muntakhab.

“Alhamdulillah, kita doakan bersama-sama. Semoga Allah mencurahkan hidayah kepada mereka,” ucap Ustaz Yakub setelah mendengar puluhan nama warga yang ditemui para jamaah.

Tanpa isyarat, seorang penghuni pemukiman mengutarakan kesan ketika menyaksikan kegiatan para jamaah, baik di dalam maupun di luar masjid At-Taubah.

“Kami sangat senang melihat abang-abang ustaz ada di sini. Ada yang mengingatkan untuk salat, dan membuat anak-anak kami semangat untuk ke masjid,” kata seorang ibu yang menghuni rumah di ekslokalisasi.

Seakan menjelma menjadi embun, perkataan perempuan berkulit langsat tersebut memberi hembusan sejuk dalam sanubari jamaah. Sehingga, spontan bibir menggoreskan senyum pada wajah.

Diresmikan Wali Kota Bengkulu Helmi Hasan pada tanggal 6 Januari 2014, Masjid At-Taubah di kawasan Ekslokalisasi Pulau Baai masih menjadi satu-satunya tempat dimana ajaran Allah disiarkan di kawasan itu.

Meski berada di kawasan prostitusi, namun berbagai ritual ibadah kepada Tuhan Yang Maha Penyanyang di tempat ini masih terus berlangsung, dari orang dewasa, hingga anak-anak.

Rawa-rawa mengelilingi tempat pelacuran yang bersebelahan dengan pelabuhan yang dikelola oleh PT Pelindo II Cabang Bengkulu ini.

Uniknya, masjid ini diusulkan oleh pekerja seks komersil (PSK), mereka yang menjajakan cintanya di kawasan gersang ini pada malam hari.

Jamaah Al-Manar berfoto bersama usai ikut serta program perbaikan diri selama tiga hari di Masjid At-Taubah ekslokalisasi Pulau Baai.

Demikian cerita wisata di jalan Allah yang dapat pedomanbengkulu.com hidangkan. Semoga, coretan ini bisa bermanfaat dan juga mengetuk pintu hati pembaca.

Agar terus menunaikan dan tidak melupakan perintah sang khalik. Yaitu, mendirikan sholat wajib lima waktu sehari-semalam. Tujuannya bukan lain untuk mengharapkan rida dan berkah dari Allah yang insya Allah banyak manfaat untuk kehidupan di dunia fana ini. [**]