Kusmito Gunawan

PedomanBengkulu.com, Bengkulu – Penafsiran Surat Edaran (SE) No.420/9.19/1.D.DIK/2020 tertanggal 12 Juli 2020 Walikota Bengkulu Helmi Hasan Perihal Sistem Belajar Mengajar ditengah pandemi corona virus (covid-19) tak menyurutkan Sekolah untuk membuat regulasi sendiri atas SE tersebut.

Padahal SE tersebut dimana materinya mempertegas bahwa sistem belajar mengajar sekolah ditingkat TK/PAUD/PKBM/SD/MI/SMP/MTs tetap menggunakan metode daring walaupun saat ini sudah new normal.

Dikatakan oleh Kusmito Gunawan selaku Ketua Fraksi Partai Amanat Nasional (PAN) Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kota Bengkulu, pada prinsipnya Walikota Bengkulu sadar benar bahwa pademi civid-19 ini masih belum berakhir.

“Karenanya aktivitas anak-anak di Sekolah wajib pemerintah menjaga dan mengawasi, sebagai tugas dan amanah dari rakyat,” ujarnya Senin (13/7/2020).

Kendati demikian, Kusmito mengatakan, pihaknya masih mendapat info bahwa ada beberapa sekolah yg membuat tafsir baru dan menerbitkan aturan yang berbeda.

“Aturan tersebut misal mengharuskan anak datang ke sekolah, daftar ulang, belajar di kelas, dan lain sebagainya,” ungkapnya.

Kusmito menilai hal tersebut tentunya sangat keliru, ada yang belum pas dari sosialisasi atas SE tersebut tentunya ini menjadi tanggungjawab kepala dinas Dikbud Kota Bengkulu dan pejabat dilingkunganya.

“Ketidakberesan ini tentunya mejadi bahan evaluasi kinerja dinas oleh walikota,” tegasnya.

Kusmito sebagai Perwakilan Rakyat sangat percaya 1000 persen atas data pemerintah yang disampaikan oleh tim gugus tugas nasional dan daerah.

“Faktanya per Munggu 12 Juli 2020 kasus positif covid berjumlah 75.699 dan positif Provinsi Bengkulu berjumlah 163, terbanyak ada di Kota Bengkulu,” sampainya.

Merujuk pada fakta ini kata Kusmito, jelas sekolah jangan jemawa, jangan lengah, jangan sok-sokan.

“Selamatkan anak-anak kita dengan kekuasaan dan kemampuan yang ada,” imbuhnya.

“Saya juga tidak sepakat jika new normal diterapkan pada tingkat pendidikan. Tujuan new normal dalam surat mentri kesehatan (Menkes) beberapa bulan lalu adalah untuk dunia usaha, kerja dan industri,” katanya.

“Tambah keliru jika ada orang tua yang menyamakan dengan aktivitas di pasar, mall, tempat hiburan, jajanan, masjid, dan lain-lain. Jelas, itu aktivitas untuk orang dewasa yang sudah mengerti tentang covid-19 dan ilmunya,” sambungnya.

“Lah anak-anak yang masih kecil, umur kecil, ilmu kecil disamakan, anak-anak itu dunia bermain, dan sangat rentan jika tidak menerapkan protokol kesehatan,” lanjutnya.

“Kita sangat percaya dan harus sabar, serta yakin tidak akan bodoh dan tertinggal anak-anak kita ketika tetap untuk sementara ini belajar secara daring, yang penting metode dan pembaharuan cara belajarnya harus menjadi perhatian kita bersama,” pungkasnya. [Soprian]