Bagi umat Islam di seluruh belahan Bumi, hari raya Idul Adha merupakan salah satu hari raya besar. Selain hari raya Idul Fitri. Sebab, pada hari yang dianggap suci ini diperingati peristiwa kurban.

Yaitu, guna mengenang kisah Nabi Ibrahim yang bersedia mengorbankan putranya, Ismail untuk disemblih karena Allah. Kemudian, saat akan disemblihan Allah menukar Ismail dengan se-ekor domba.

Disamping itu, selalu ada fenomena menarik menjelang hari raya besar Islam itu di Kota Bengkulu. Seperti, dikawasan pasar-pasar yang bertebaran di Bumi Rafflesia.

Fenomena terbilang unik itu, bukan lain dari membludaknya pedagang lontong plastik, daun dan ketupat dadakan. Diseputaran area Pasar Minggu dan Pasar Panorama Bengkulu. Benar, fenomena itu tidak hanya terjadi ketika Idul Adha saja.

Namun, menjelang Idul Fitri tepatnya dipenghujung Ramadhan. Pedagang dadakan juga terlihat menjamur, ditepian jalan kawasan pasar tersebut.

Seperti seorang pedagang lontong dadakan, Zaki (28) yang ditemui pedomanbengkulu.com. Ketika, melakukan penelusuran di sekitar area Pasar Minggu Bengkulu.

Pria bertubuh tinggi itu, hanya berjualan lontong plastik ketika moment menjelang hari raya besar Islam saja. Seperti, H-1 menjelang hari raya Idul Adha 10 Zulhijah 1441 Hijriah.

“Tapi menjelang lebaran idul fitri saya jualan juga,” kata Zaki, dengan santai.

Lontong plastik yang dijajahkan pemuda itu, sangatlah murah. Hanya seharga seribu rupiah, perbungkusnya. Sedangkan ketupat jadi (masak) dan lontong daun, seharga Rp 3.000 per-biji.

Dalam satu hari yang juga dikenal dengan sebutan, menjelang Lebaran Haji. Pemuda berkulit langsat mampu menjual sebanyak seribu bungkus lontong plastik, di Pasar Minggu.

“Kalau lontong ketupat ini, gak banyak kita buat. Paling cuma 300 biji,” ucap Zaki.

Wajar, jika pemuda yang bertempat di Kelurahan Belakang Pondok Kecamatan Ratu Samban itu ketagihan, menjadi pedagang lontong dadakan. Bahkan, terbilang rutin berjualan menjelang hari raya besar Islam tersebut.

Lantaran, keuntungan yang bisa diraup dari berjualan lontong bisa lebih dari dua kali lipat. Dari modal awal yang telah dirogoh kocek, dalam proses pembuatannya.

“Misalnya modal awal Rp 500 ribu. Nah, untungnya bisa lebih dari satu juta,” tutup Zaki. [Alfi Kurnia]