Senja itu, Azan Ashar di Masjid At-Taubah di gerbang kawasan ekslokalisasi Pulau Baai dikumandangkan Deri.

Deri adalah jamaah Masjid Al-Manar Pasar Minggu yang baru pertama kali mengikuti program hijrah layaknya pesantren kilat selama 72 jam.

Setelah sholat sunnah dua rakaat sebelum wajib, Yansyah membacakan taklim tentang perkara hal yang dibenci dan disenangi Allah subhanahu wa ta’ala.

“Tempat-tempat yang dibenci Allah adalah pasar-pasar. Sedangkan, tempat-tempat yang disenangi Allah adalah masjid-masjid,” ujar Yansyah, membaca kitab hadits munthakhab, Sabtu (25/7/2020).

Selanjutnya, pasukan pemuda Masjid Al-Manar langsung melaksanakan sholat wajib Ashar empat rakaat. Selepas itu, para pemuda membentuk dua kelompok. Dan memantapkan hati, melangkah memasuki portal ekslokalisasi, tempat yang oleh warga Bengkulu terkenal sebagai pusat prostitusi.

Sembari menebar ‘Assalamualaikum‘, salah satu kelompok yang dipimpin Ubay bertandang ke rumah Marzan yang berada tepat disamping kanan portal masuk.

Waalaikumsalam warohmatullahi wabarokatuh,” sambut Marzan, dengan senyum ramah.

Dalam kunjungan pertama itu, pasukan pemuda hanya memperkenalkan diri. Sembari mengajak masyarakat sekitar, untuk mengunjungi masjid dan sholat berjamaah saat waktu maghrib.

Kemudian, langkah kaki yang menolak letih membawa pasukan menyusuri ekslokalisasi lebih intim.

Mahabesar Allah kembali mempertemukan para jamaah dengan dua pemuda yang sedang larut dalam obrolannya, ditepian jalan.

Tanpa banyak basa-basi, pasukan jamaah-pun langsung menghampiri.

Assalamualaikum,” kata seorang jamaah.

Waalaikumsalam,” jawab kedua pemuda, Dedi dan Ari serentak.

“Perkenalkan, kami rombongan jamaah Masjid Al-manar dari Pasar Minggu. Kami, mau ngajak abang-abang main ke masjid. Kita ngopi-ngopi bareng yuk, bang,” kata Alfi.

“Iya bang, insya Allah nanti kesana. Sekarang mau nunggu teman dulu,” jawab Dedi.

Bersyukur, atas ridho Allah program jaulah pertama pasukan jamaah berjalan sesuai harapan. Tak ada satupun diskriminasi ataupun intervensi yang dilakukan masyarakat tersebut.

Bahkan, bila dilihat dari mimik wajah masyarakat. Terlihat jelas, warga ekslokalisasi RT 08 menerima kehadiran pasukan jamaah dengan tangan terbuka.

Anak-anak bahkan menyambut dengan riang dan gembira sebagaimana gembiranya seseorang yang melihat hujan turun pertama kali ke bumi setelah musim kemarau panjang.

Bersambung..

Alfi