Emma Eckstein, psikoanalis perempuan pertama di dunia (Foto:gettyimages.com).

Sekitar tahun 1892, seorang wanita muda cantik berusia 27 tahun yang bernama Emma Eckstein mengunjungi seorang ahli neurologi atau ahli saraf bernama Sigmund Freud untuk mencari pengobatan dari gejala tidak jelas yang dia alami. Kunjungan tersebut adalah awal dari tahun-tahun panjang yang akan dialami Emma sebagai pelampiasan “hasrat” keilmuan Sigmund, hingga nasibnya berakhir tragis.

Kisah tersebut sangat aneh, bagaimana Sigmund membuat hipotesis tersebut dan yang paling aneh adalah mengapa Emma rela diperlakukan demikian. Menariknya, tindakan malpraktik medis paling aneh yang pernah terjadi lebih dari seratus tahun yang lalu itu terdokumentasikan dengan baik, dan bahkan dituliskan sendiri oleh Sigmund Freud, termasuk catatan korespondensinya dengan Flies. Catatan tersebut kemudian disitasi banyak penerbit ilmiah di kemudian hari.

Mengutip publikasi di Jurnal BMJ yang mensitasi catatan tersebut, dijelaskan bahwa sebenarnya Emma dan Sigmund adalah rekan. Sigmund adalah ahli neurologi Austria yang merupakan pendiri psikoanalisis, studi tentang fungsi dan perilaku psikologis manusia. Emma juga adalah seorang psikoanalis seperti Sigmund, bahkan Emma adalah psikoanalis perempuan pertama di dunia.

Emma yang lahir di Wina, Austria pada 28 Januari 1865 itu mengatakan kepada Sigmund bahwa ia mengalami gejala menstruasi menyakitkan, depresi ringan, kesulitan tidur dan gangguan pencernaan.

Sigmund kemudian mendiagnosa Emma mengalami histeria akibat kencanduan masturbasi yang menyebabkan Emma menderita “nasal reflex neurosis”, sebuah kondisi yang dideskripsikan oleh sahabat Sigmund bernama Wilhelm Fliess.

Wilhelm Fliess adalah seorang ahli bedah telinga, hidung dan tenggorokan yang sukes, yang berpraktik di Berlin pada akhir abad ke-19. Pada tahun 1892, Flies menerbitkan monograf yang mendeskripsikan kondisi “nasal reflex neurosis”, yaitu kondisi infeksi hidung atau perubahan fungsi vasomotor yang menyebabkan gangguan menstruasi, infertilitas dan keguguran.

Atas dasar diagnosa tersebut, Sigmund dan Flies kemudian memutuskan melakukan operasi hidung pada gadis cantik berusia 27 tahun itu. Mereka memutuskan bahwa perawatan terbaik untuk Emma adalah dengan mengangkat tulang turbinate yang membentuk tonjolan pada hidung.

Operasi itu adalah awal dari tahun-tahun panjang penderitaan Emma yang kemudian menjadi seperti kelinci percobaan dan hanya menjadi pelampiasan hasrat keilmuan Sigmund dan Flies. Emma adalah perempuan pertama yang mendapati perlakukan medis atas diagnosa “nasal reflex neurosis” yang baru dideskripsikan Flies tersebut, meskin mungkin ada dugaan banyak gadis-gadis muda lain juga mengalami perlakukan medis tersebut, namun tidak terungkap.

Setelah operasi tersebut, keadaan Emma justru makin memburuk. Emma mengalami komplikasi pasca operasi yang mengerikan, termasuk perdarahan, hidung Emma membusuk hingga keluarnya cairan dengan bau yang menusuk.

Meski kondisi Emma makin memburuk, Sigmund terus memberikan perlakukan perawatan psikologis kepada Emma, sementara Flies bertanggung jawab atau perawatan hidung Emma yang makin hari makin mengkhawatirkan. Sedangkan gejala awal yang membuat Emma mendapati perlakuan tersebut seperti pendarahan Menstruasi yang tidak normal tidak juga sembuh, yang menurut Sigmund adalah hasrat seksual yang tidak tersalurkan.

Dan entah bagaimana, Emma seperti pasrah mendapati berbagai macam perlakuan yang dilakukan Sigmund dan Flies kepada dirinya. Hingga pada tahun 1897, Emma kembali mengalami operasi mengerikan di hidungnya, separuh tulang pipi kirinya runtuh, hidungnya terpahat dan satu sisinya terbelah.

Wajah Emma yang dulunya cantik kemudian menjadi cacat. Dia hanya bisa menghabiskan seluruh hari-harinya berdiam diri di rumah dan hanya duduk di sofa, tidak bisa berjalan dan tidak pernah meninggalkan kamarnya. Sampai kemudian, Emma meninggal setelah terserang stroke pada tahun 1924, pada usia 59 tahun. [Ricky]