Bunga Rafflesia (Foto: Pinterest.com).

Bunga rafflesia adalah bunga tunggal terbesar di dunia dengan diameter hingga 110 cm dan berat mencapai 10 kg untuk jenis Rafflesia arnoldii. Jelas sekali bunga tersebut telah menarik perhatian banyak orang, tapi sayangnya hingga saat ini Rafflesia menjadi entitas yang keindahan hanya dapat dinikmati secara terbatas, sangat langka.

Kamu tidak akan bisa mendapati Rafflesia tumbuh mekar di depan rumah, sembari makan kue dan menyeruput kopi untuk dapat menikmati keindahannya. Rafflesia telah sejak lama dan hingga kini menjadi misteri bagi ilmu pengetahuan dan membuat bingung banyak ilmuwan.

Berikut 5 misteri Rafflesia, bunga terbesar di dunia yang bikin ilmuwan pusing dan kebingungan:

1. Cara Berkembang Biak

Peneliti Rafflesia dari Universitas Bengkulu, Dr. Agus Susatya yang pernah menyelesaikan studi magisternya di Department of Botany and Plant pathology, Michigan State University, Amerika Serikat mengatakan bahwa hingga saat ini, belum ada satupun orang atau ilmuwan di seluruh dunia yang dapat menjelaskan dan memberikan bukti bagaimana Rafflesia berkembang biak.

Jika tumbuhan lainnya bisa bebas ditanam asal sesuai dengan habitatnya, tapi tidak dengan Rafflesia. Jangan tanya bagaimana cara menanam Rafflesia, karena cara Rafflesia berkembang biak saja tidak satupun orang yang tahu.

Menurut Sofi Mursidawati, peneliti bunga rafflesia dari Pusat Konservasi Tumbuhan Kebun Raya Bogor Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), ada karakter biologis yang belum sepenuhnya bisa diungkap dari berbagai spesies bunga rafflesia sehingga belum dapat ditemukan cara perkembangbiakannya, seperti dikutip dari laman lipi.go.id.

2. Habitat

Selain tidak seorang pun tahu bagaimana cara Rafflesia berkembang biak, tidak seorang pun juga yang tahu di mana Rafflesia akan tumbuh. Hingga saat ini, sejumlah dokumen penelitian dan literatur hanya dapat memperkirakan habitat dan sebaran Rafflesia, tempat di mana bunga tersebut tumbuh. Rafflesia pernah ditemukan di kawasan pegunungan bukit barisan, sedikit hutan di Jawa, dan semenanjung Malaya (Thailand selatan hingga Malaysia).

3. Masa Hidup

Rafflesia diperkirakan menyelesaikan siklus hidupnya sekitar 5 tahun dari mulai penyerbukan, atau setidaknya butuh waktu 3 tahun dari bentuk kopula atau putiknya hingga mekar sempurna.

Jadi, jika ada yang menemukan kopula atau putik Rafflesia, maka diperkirakan butuh waktu paling tidak 3 tahun lagi untuk dapat melihatnya mekar. Karena tidak dapat dikembangbiakan, maka satu-satunya yang dapat dilakukan para penggiat konservasi saat ini adalah menemukan kopula, menjaganya hingga mekar 3 tahun kemudian dan setelah mekar Rafflesia itu akan membusuk. Tidak ada yang dapat diperbuat dengan itu.

4. Mekar Sempurna

Setelah 3 tahun dari bentuk kopula, Rafflesia akan mekar sempurna. Tapi seperti seakan tidak sebanding dengan waktu 3 tahun penantian, Rafflesia hanya akan mekar sekitar 7 hari dan membusuk setelahnya. Rafflesia tersebut akan hilang dan entah kapan akan ditemukan lagi. Itupun kalau kopula atau putiknya yang hanya sebesar kelereng tidak terinjak hewan liar.

5. Tidak Bisa Dipindahkan

Rafflesia hanya ditemukan di sedikit tempat, dan hanya tumbuh di habitatnya. Katakanlah seseorang menemukan kopula Rafflesia di Provinsi Bengkulu, tempat paling banyak jenis rafflesia ditemukan dan kemudian dibawa ke wilayah lain berikut dengan tanah-tanahnya. Jangan harap ia akan tumbuh, dapat dipastikan kopula tersebut akan mati sebelum waktunya, Rafflesia hanya dapat tumbuh di habitat aslinya.

Menurut Dr. Agus Susatya, keunikan rafflesia itu merupakan tantangan para ahli botani di seluruh dunia untuk memecahkannya sehingga Rafflesia dapat dilestarikan agar suatu saat nanti, Rafflesia tidak hanya tinggal nama. [Ricky]