Akhir-akhir ini di media sosial berseliweran foto-foto masyarakat yang berkunjung ke Danau di Kecamatan Pinang Belapis Kabupaten Lebong, yang biasa disebut Danau Korea. Entah darimana asal nama tersebut, mungkin karena sebelumnya lokasi tersebut adalah lokasi tambang batu bara, yang dikelola oleh perusahaan yang dipimpin orang Korea.

Jika dilihat, danau ini adalah danau yang memang terbentuk karena bekas galian tambang batu bara. Tetapi berubah menjadi danau indah, ditambah masih hijaunya hutan yang juga menjadi background foto yang instagramabel. Bahkan membuat rasa penasaran masyarakat untuk melihat dan tentunya mengabadikan momen dilokasi tersebut.

Ada beberapa contoh bekas tambang di Indonesia, seperti di bekas tambang timah di Bangka Belitung, kemudian di Kutai Kalimantan Timur juga banyak bekas lokasi tambang batu bara.

Setiap tambang pasti memiliki dampak terhadap lingkungan baik positif maupun negatif. Terlebih tambang terbuka yang nyata akan mengubah bentang alam, seperti bukit, sungai, hutan, mata air, danau dan pantai. Termasuk juga mempengaruhi bentang sosial seperti pemukiman, lahan pertanian, serta hubungan sosial masyarakat disekitar lokasi tambang.

Disisi lain, hasil tambang ini juga memberikan manfaat kepada manusia, seperti timah berguna bagi industri untuk solder, alumunium dan sebagainya. Batu bara dibutuhkan sebagai bahan bakar utama industri dan bahan dasar industri kimia.

Kembali ke Danau Korea, banyaknya minat pengunjung ke Danau di Desa Ketenong II ini, tentu saja menjadi prospek pariwisata. Yang mana bila dikembangkan lagi, bisa menjadi salah satu sumber pendapatan masyarakat sekitar dan juga bagi daerah tentunya. Terutama bila dibangun sarana penunjang ditempat wisata tersebut.

Bayangkan, jika kita bandingan jarak tempuh menuju ke lokasi tersebut tentu lumayan memakan waktu. Jadi Masyarakat bukan hanya sekedar foto-foto terus pulang, tetapi juga bisa menjadi lokasi refreshing, istirahat sambil menikmati pemandangan disekitar lokasi tersebut. Apalagi kalau ada fasilitas tambahan, sejenis tempat pengunjung untuk istirahat sambil menikmati kuliner yang dijual masyarakat. Dipastikan akan menjadi pertimbangan pengunjung untuk betah berlama-lama di seputar lokasi Danau Korea.

Bekas tambang terbuka bisa diadakan reklamasi menjadi Ekowisata, tidak dibiarkan sebagai “wilayah mati” yang ditinggalkan begitu saja, tetapi masyarakat lokal bisa dilibatkan sebagai penggiat yang menggerakkan wisata bekas tambang ini.

Seperti contoh kota Ballarat, terkenal sebagai kota wisata bekas tambang emas di dunia. Lokasinya berada sekitar 90 km dari Melbourne.

Sejarahnya, kota Ballarat berkembang karena adanya pertambangan emas besar-besaran sekitar tahun 1851. Kini kota Ballarat sudah bertransformasi menjadi destinasi wisata ikonik di Australia. Disana para wisatawan bisa menapak tilas proses dan suasana tambang emas, seperti di masa kejayaannya dulu. Dialam terbuka seluas 25 hektar tersebut, menyajikan kondisi semirip mungkin dengan pertambangan emas masa lalu.

Wisatawanjuga bisa menyaksikan bangunan bersejarah lengkap, dengan volunteer yang seolah tampil sebagai pekerja tambang dan warga kota tambang. Bekas tambang emas di Ballarat telah menjadi wisata edukasi, yang menjembatani sejarah perkembangan tambang dengan manfaat kepada masyarakat umum.

Begitu pun di Danau Korea, masyarakat bisa melihat nyata dilapangan bahwa tambang harus memperhatikan aspek ekologi terhadap lingkungan.

Saya optimis kedepan Danau Korea di Desa Ketenong II ini, pun bisa menjadi ikonik destinasi wisata yang baru di Kabupaten Lebong Provinsi Bengkulu. Dan kita juga berharap, adanya komitmen dari Kepala Daerah yang baru nanti, terkait kepedulian terhadap lingkungan dalam pembangunan yang mensejahterakan masyarakat.

Henny Apriyanti S.Sos M.Si
Penulis adalalah salah satu ASN Pemkab Lebong.