Pecahnya Pemberontakan PKI

Kisah kepahlawanan Suwarno dimulai pada tahun 1961 silam. Saat itu, nurani memanggil pria kelahiran Jawa Tengah, 23 Juli 1937 itu mengabdikan diri untuk Tentara Negara Indonesia (TNI).

Setelah menjalani pendidikan kurang lebih satu tahun, ia bersama rekan seangkatannya mendapat mandat dari panglima perang. Mereka, diperintahkan untuk mengatasi pemberontakan DI TII di tanah jawa.

Penuh kebanggan, Suwarno muda melangkah. Meninggalkan pangkalan. Mempertaruhkan nyawa diujung peluru senapan.

Kala itu, pemberontakan DI TII telah mencakup keseluruhan tanah jawa. Baik masyarakat Jawa Tengah, Timur dan Barat, hidup dalam kewaspadaan yang teramat menekan.

Lantaran itu, gerakan pemberontakan wajib diredam. Nyaris, setiap hari dalam perjalanan menyusuri daratan pulau jawa pasukan TNI tak pernah melewatkannya, tanpa pertempuran.

“Waktu itu, setiap harinya kita pasti ada melakukan kontak senjata dengan musuh,” kata Suwarno, sembari mengingat perjalanannya sewaktu muda.

Saat itu, bagi serdadu muda masuk dalam barisan angkatan TNI merupakan jalan yang tepat dalam hidupnya. Agar dapat membantu, membersihkan tanah air tercinta dari gerakan pemberontakan yang meresahkan.

Pemberontakan yang dilakukan DI TII, saat itu berlangsung cukup lama. Sekitar tiga tahun. Dalam kurun waktu itu, banyak teman seangkatan Suwarno gugur dalam mempertahankan kemerdekaan RI.

“Setelah tiga tahun pemberontakan DI TII, baru dapat dihentikan dengan musyawarah,” ungkap Suwarno.

Ternyata, setelah berhentinya pemberontakan DI TII pada tahun 1964. Suwarno dan rekan seangkatan kembali dihadapi, oleh konflik perang saudara. Kali ini, gerakan yang mengerikan itu dilakukan Partai Komunis Indonesia (PKI).

“Sekitar setahun setelah DI TII, pemberontakan PKI pecah,” ujar Suwarno.

Ironisnya, pemberontakan gerakan Partai Politik (Parpol) ini jauh lebih kejam dari sebelumnya. Pembantaian terhadap jenderal-jendral, anggota TNI maupun rakyat biasa terjadi di mana-mana.

Baca juga: Pesan Bung Karno untuk Pembenci Komunis

Jelas situasi dan kondisi pada masa pemberontakan PKI, sangat mengiris hati. Bahkan, perilaku tak manusiawi dari para kelompok palu-arit sangat membekas dibenak para serdadu.

“Kekejian orang-orang komunis itu tidak dapat saya lupakan sampai sekarang,” kata Suwarno.

Bersambung…

Penulis : Alfi