Gambar 1. Peta wilayah seismic gab di Indonesia, ditandai dengan kotak persegi panjang warna kuning.

Seismic gab merupakan wilayah yang memiliki aktivitas kegempaan tinggi, namun sudah lama sekali tidak menunjukkan aktivas gempa besar. Artinya, wilayah ini sebenarnya aktif, namun saat ini sedang ada kekosongan aktivitas gempa kuat.

Secara teori, wilayah seismic gab merupakan wilayah yang saat ini sedang mengumpulkan energi atau akumulasi tegangan yang sewaktu waktu dapat dilepaskan dalam bentuk gempa kuat (signifikan).

Di Indonesia, para peneliti telah memetakan wilayah-wilayah seismic gab antara lain di Kepulauan Mentawai, wilayah Selat Sunda, Selatan Bali, Pulau Maluku, dan Utara Papua.

Khusus di wilayah Kepulauan Mentawai, wilayah sismic gab ini diperkirakan menyimpan potensi gempa maksimum mencapai M 8,9. Jika terjadi gempa dengan kekuatan M 8,9 di wilayah Mentawai, dampaknya tidak hanya dirasakan di wilayah Mentawai, melainkan juga wilayah Bengkulu dan Sumatera Utara.

Selain getaran gempa yang kuat, dampak lain yaitu potensi tsunami juga akan sampai di wilayah Bengkulu. Berdasarkan pemodelan, ketinggian tsunami bisa mencapai ketinggian lebih dari tiga meter.

Seismic gab di Selat Sunda juga menyimpan potensi gempa yang tidak kalah besar dengan wilayah Mentawai. Siesmic gab Selat Sunda ini diperkirakan menyimpan potensi gempa kekuatan maksimum M 8,7. Jika terjadi gempa di selat sunda dengan kekuatan M8,7, maka dampaknya juga akan sampai ke wilayah Bengkulu.

Aktivitas Gempa  Seismic Gab

Sebelum gempa Aceh 26 desember 2004, para peneliti sudah memetakan bahwa wilayah Aceh masuk ke dalam salah satu wilayah seismic gab. Gempa terbaru yang terjadi di kawasan seismic gab adalah gempa di wilayah Oaxaca Mexico pada tanggal 23 Juni 2020 dengan kekuatan M7,5.

Gempa ini terjadi pada zona sumber gempa aktif tetapi sudah lama tidak terjadi gempa besar. Lokasi kekosongan terletak di antara pusat gempa besar masa lalu pada tahun 1957 dan 1979.

Zona Subduksi, Mitigasi Kita Masih Tertinggal

Sama hal nya seperti pada wilayah sesar darat, harus jujur dan mau mengakui bahwa pada wilayah pesisir pantai kegiatan mitigasi kita masih jauh tertinggal. Bandingkan saja dengan Chili. Chili boleh dilirik bila bicara mengenai persiapan mengantisipasi bencana. Negara di Amerika Selatan ini dihadapkan dengan kondisi alam yang mirip Indonesia : rawan bencana.

Seperti Indonesia pula, Chili dilewati “Cincin Api”. Kawasan Cincin Api tempat tumbuh gunung aktif. Pun lokasi subur gempa bumi dunia. Namun, berkat mitigasi terukur, Chili lebih siap menghadapi gempa bumi.

Misal saja pada 2014, gempa dengan kekuatan M=8,2 mengguncang pantai utara Chili dan memicu tsunami. Untungnya mereka sudah menyiapkan diri. Adanya deteksi dini tsunami membuat sekitar satu juta orang dipindahkan ke lokasi aman. Deteksi dini dan persiapan bencana itu merupakan pelajaran yang dipetik dari gempa 2010 dengan kekuatan M=8,8 dan tsunami yang mengikutinya.

Kemudian pada 2015, ketangguhan mitigasi Chili kembali diuji dengan gempa berkekuatan M=8,5 di daerah Coquimbo, gempa ini memicu tsunami dengan ketinggian 4,5 meter. Korban jiwa tetap ada, namun hanya 9 orang saja. Sangat sedikit jika dibandingkan dengan gempa Palu, Sulawesi Tengah 2018 lalu dengan kekuatan M=7,4 korban jiwa mencapai 2.045 orang serta ratusan orang dinyatakan hilang tersapu tsunmi (www.bbc.com).

Apa yang membedakan? Jawabannya adalah persiapan yang matang. Pada satu momen, tim penyelamatan dari Peru, El Savador, Amerika Serikat, dan Spanyol tergabung dalam simulasi bertajuk simex 2015 di Santiago, ibu kota Chili. Dalam latihan tersebut digelar pula simulasi jika Chili diguncang gempa dengan kekuatan M=9,0 berpusat di Santiago.

Dan itu bukan latihan sekali jalan. Dalam skala luas, warga dibiasakan melakukan simulasi (drill) evakuasi minimal enam atau tujuh kali dalam satu tahun. Di seluruh kawsan.

Di luar itu, pemerintah sudah siapkan sistem peringatan baru. Dalam kasus Coquimbo, beberapa menit setelah gempa, sirine meraung mengirim peringatan. Ambulans, pemadam kebakaran, polisi turun mengatur lalu lintas. Ada juga petugas khusus yang memaksa para penduduk yang masih bertahan di rumah untuk keluar dan berlari ke arah bukit.

Ihwal penting lainya adalah menetapkan standar kekuatan bangunan. Pemerintah membuat aturan ketat yang mensyaratkan bangunan baru untuk bisa bertahan dari gempa berkekuatan M=9,0.

Di Indonesia, zona rawan gempa dan tsunami sudah dipetakan, pertanyaanya sudah tersosialisasikah kepada masyarakat yang terpapar langsung? Sudah siapkah semua komponen menghadapinya? Sudah berapa kali kita melakukan simulasi (drill)? Jangan sampai ribuan nyawa kembali hilang, kemudian sibuk sesaat dan kembali lupa.

Sabar Ardiansyah, S.ST BMKG, Stasiun Geofisika Kepahiang-Bengkulu