Tidur bersama bayi ternyata berbahaya (Foto: www.verywellfamily.com)

Bagi sebagian besar orang Asia, tidur bersama bayi mungkin masih menjadi kebiasaan yang masih umum dilakukan. Terutama bagi ibu-ibu muda dengan anak pertama mereka seolah sangat sulit untuk dipisahkan dengan buah hatinya, meski saat tidur sekalipun.

Tapi tahukan kamu, ternyata tidak hanya berbahaya bagi sang bayi, namun tidur bersama dengan bayi juga tidak baik bagi si ibu. Risiko kematian mendadak pada bayi atau dikenal dengan istilah Sudden Infant Death Syndrome dan penelitian terbaru mengungkapkan risiko gangguan mental atau depresi bagi si ibu

Penelitian yang dilakukan oleh Penn State University dengan dukungan National Institute of Child and Human Development ini menganalisis pola tidur dan perasaan 103 ibu tentang tidur bersama bayi selama tahun pertama.

Seperti diketahui, kematian mendadak pada bayi ternyata sebanyak 69 persenya terjadi saat bayi tidur bersama dengan keluarganya. Meski jumlah tersebut lebih sedikit terjadi pada keluarga di Asia yang mungkin terjadi karena pengaruh budaya dan lingkungan yang berbeda.

Beberapa faktor negatif saat bayi tidur bersama dengan keluarganya adalah, bayi tidak menghirup udara yang sehat karena besar kemungkinan menghirup udara sisa dari pernafasan orang dewasa di dekatnya, tersedak saat menyusui atau faktor risiko lainnya yang tidak disadari saat tidur dan akhirnya tingginya angka kematian bayi karena tidur bersama ibu yang diungkapkan penelitian sebelumnya telah menimbulkan kekhawatiran atas perilaku tersebut.

Selain itu, saat tidur bersama dengan bayi, ibu akan memiliki kecenderungan kekhawatiran atas apa yang dilakukannya, takut disalahkan dan khawatir dengan tidur bayi mereka.

Peneliti menemukan, bahwa sekitar 73 persen keluarga tidur bersama pada 1 bulan pertama kelahiran, kemudian turun menjadi sekitar 50 persen pada tiga bulan berikutnya dan 25 persen setelah enam bulan dan mulai memindahkan bayinya pada ranjang yang berbeda atau kamar yang berbeda.

Rata-rata, ibu yang masih tidur bersama setelah enam bulan melaporkan perasaan sekitar 76 persen lebih tertekan daripada ibu yang telah memindahkan bayi mereka ke ruangan terpisah. Mereka juga dilaporkan merasa sekitar 16 persen lebih dikritik atau dinilai karena kebiasaan tidur mereka dan mengalami depresi.

Douglas Teti, kepala departemen dan profesor pengembangan manusia dan studi keluarga, Penn State, mengatakan bahwa terlepas dari tren mengasuh anak saat ini, penting untuk menemukan pengaturan tidur yang sesuai untuk semua orang dalam keluarga. [Ricky]