Ilustrasi kurang tidur (Sumber: freepik.com)

Gangguan tidur menjadi salah satu masalah di kehidupan modern saat ini. Banyak mereka yang sulit untuk mendapatkan tidur yang cukup paling tidak 8 jam sehari, beberapa bahkan hanya tidur 2-3 jam saja sebelum kemudian memulai aktivitas harian lagi di pagi hari.

Masalah tersebut membuat Profesor Psikologi Universitas Binghamton Meredith Coles dan mantan mahasiswa pascasarjana Jacob Nota melakukan penelitian terkait dampak yang mungkin timbul bagi mereka yang tidak mendapatkan kualitas tidur yang baik.

Melansir laman eurekalert.org, penelitian tersebut telah dipublikasikan di sciencedirect. Kesimpulannya, peneliti menilai bahwa waktu dan durasi tidur pada individu dengan tingkat sedang hingga tinggi memiliki pikiran negatif yang berulang, seperti kekhawatiran hingga ruminasi dan depresi berat.

Para peneliti mendeskripsikan bahwa gangguan tidur biasa dikaitkan dengan kesulitan mengalihkan perhatian seseorang dari informasi negatif hingga bahkan bisa mengganggu orang lain.

“Kami menemukan bahwa orang-orang dalam penelitian ini memiliki kecenderungan untuk memiliki pikiran yang terjebak di kepala mereka dan pemikiran tersebut meningkat dan membuat mereka sulit untuk melepaskan diri dari rangsangan negatif,” jelas Coles. “Sementara, orang lain dengan tidur yang cukup, mungkin bisa menerima informasi negatif, namun tetap bisa terus maju.”

Diketahui, bahwa masalah tersebut sangat relevan dengan beberapa gangguan berbeda, seperti kecemasan, depresi dan hal negatif lainnya.

Para peneliti mengeksplorasi lebih lanjut penemuan ini, mengevaluasi bagaimana waktu dan lama tidur juga dapat berkontribusi pada pengembangan atau pemeliharaan gangguan psikologis.

Jika teori mereka benar, penelitian mereka berpotensi memungkinkan psikolog untuk mengatasi kecemasan dan depresi dengan mengubah siklus tidur pasien menjadi waktu yang lebih sehat atau membuatnya lebih mungkin pasien akan tidur saat mereka tidur. [Ricky]