Kepala UPTD DP3A&PPKB Provinsi Bengkulu, Ainul Mardianti.

PedomanBengkulu.com, Provinsi Bengkulu – Terungkapnya pembunuhan terhadap Yusuf Hariadi (27) yang awalnya, diduga bunuhdiri saat ditemukan pada pekan lalu, Kamis (6/8/2020) siang lalu. Menggemparkan masyarakat Bengkulu Tengah, terutama warga Desa Pagar Besi Kecamatan Merigi Sakti.

Pasalnya, tersangka pembunuhan kejam itu adalah orang yang hidup seatap bersama-nya, EY (25). Sontak hal itu, menjadi pukulan keras terhadap keluarga suaminya tersebut. Kalimat tak terkontrol, hingga sumpah-sepahpun keluar dari bibir pihak keluarga.

Prihatin akan kondisi yang mengguncang EY, Kepala Unit Pelayanan Terpadu Daerah (UPTD) DP3A&PPKB Provinsi Bengkulu, Ainul Mardiati S.Psi angkat bicara. Peristiwa itu, seutuhnya bukan kesalahan sang istri meskipun menghabisi nyawa Yusuf.

“Kesalahan ini, adalah kesalahan mereka berdua karena tidak menjalani komunikasi dengan baik,” kata wanita berdarah minang, Rabu (12/8/2020).

Seharusnya, masalah itu dipecahkan bersama-sama dengan melibatkan keluarga kedua belah pihak. Memang faktor ekonomi kerap menjadi pemicu dalam keretakan bahtera rumahtangga. Tak jarang, kekerasan dalam tali pernikahan menjadi pelampiasan.

“Tidak seutuhnya kesalahan istri, seharusnya suami membicarakan baik-baik jika tidak bisa menafkahi istri,” ujar Ainul.

Namun, Ainul menjelaskan satu sisi perbuatan EY memang tidak bisa dibenarkan. Meskipun ada sebab dan mushabab-nya yang merasa, tidak dinafkahi dan dicurangi sehingga memunculkan imajinasi kecurigaan pada wanita.

“Kecurigaan dia ini kan muncul, dia berbohong terus. Akhirnya, pikiran istri ini tadi kan yang tidak kita duga,” ungkapnya. [Alfi]