Hj Riri Damayanti John Latief

Senator Kembali Desak RUU PKS Disahkan

PedomanBengkulu.com, Bengkulu – Bengkulu kembali digegerkan dengan kasus pencabulan terhadap anak kandung oleh sang ayah sebagai tersangka yang terjadi di Kabupaten Lebong, belum lama ini. Tersangka telah dibekuk polisi untuk dimintai keterangan, Sabtu 8 Agustus 2020.

Anggota Dewan Perwakilan Daerah Republik Indonesia Hj Riri Damayanti John Latief mengutarakan, setelah ia cermati melalui berbagai media massa di Bengkulu, di masa pandemi kasus kekerasan dan pelecehan seksual terhadap perempuan dan anak semakin marak.

“Astagfirullah, kelakuan ayah cabuli anak kandung bejat. Kasus ini semakin meyakinkan saya bahwa UU PKS (Undang-Undang Penghapusan Kekerasan Seksual) semakin dibutuhkan karena undang-undang terbukti kurang efektif,” kata Riri Damayanti, Kamis (13/8/2020).

Alumni Psikologi dari Universitas Indonesia ini menegaskan, situasi yang kian memprihatinkan saat ini membutuhkan aturan main yang lengkap yang mengatur bukan hanya sanksi berat untuk pelaku, tapi juga untuk memulihkan psikis korban pasca kejadian.

“Juga tak kalah penting adalah bagaimana melibatkan peran serta seluruh masyarakat untuk ikut bertanggung jawab dalam mencegah kejadian-kejadian serupa. Jangan ada yang masa bodoh dengan lingkungannya kalau menyangkut kekerasan,” Riri Damayanti menegaskan.

Kakak Pembina Duta Generasi Berencana (GenRe) BKKBN Provinsi Bengkulu ini meminta kepada pemerintah dan parlemen untuk segera mengatasi kendala-kendala dalam pembahasan RUU PKS.

“Kalau memang nilai-nilainya dianggap liberal dan jauh dari norma agama, maka silahkan disesuaikan dengan nilai-nilai Pancasila, bukannya malah dicoret dari prioritas perundang-perundangan yang akan disahkan,” harap Riri Damayanti.

Untuk diketahui, berdasarkan data Sistem Informasi Online Perlindungan Perempuan dan Anak (SIMFONI PPA) sejak 1 Januari-31 Juli 2020, mencatat kasus kekerasan terhadap perempuan dewasa mencapai 3.179 kasus dengan 3.218 korban, sedangkan korban kekerasan seksual tercatat 459 kasus.

Sejak Januari hingga 17 Juli 2020, ada 3.928 kasus kekerasan anak dengan rentang usia korban 13 hingga 17 tahun. Jenis kasus kekerasan beragam, mulai dari kekerasan seksual, fisik, hingga emosional. Kekerasan seksual sendiri mendominasi hingga 55 persen dari data tersebut, baik dialami laki-laki maupun perempuan.

Sebelumnya terlansir, Kapolsek Lebong Selatan Iptu L Naibaho, berhasil meringkus pria berinisial RP (40) warga Kecamatan Bingin Kuning Kabupaten Lebong. RP merupakan terduga pelaku pencabulan anak kandung, berdasarkan laporan polisi oleh ibu kandung korban di Mapolda Bengkulu berdasarkan Laporan Polisi nomor LP–B/696/VII/2020/Bengkulu, tertanggal 29 Juli 2020.

Berdasarkan informasi yang didapatkan, RP dengan ibu korban saat ini sudah bercerai, selama ini korban tinggal bersama ibunya di Kota Bengkulu. Namun saat lebaran Idul Adha, korban dijemput oleh ayahnya untuk berlibur di Kabupaten Lebong. Diduga pencabulan dilakukan pelaku kepada anak kandungnya, disaat korban tinggal bersama pelaku.

Kapolda Bengkulu Irjen Pol Teguh Sarwono melalui Kanit PPA Polda Bengkulu AKP Nurul, mengatakan, terduga pelaku melakukan pencabulan terhadap korban sebanyak tiga kali saat korban sedang tidur

Saat ini, Komisi VIII DPR menargetkan RUU PKS akan mulai dibahas setelah pengesahan Revisi Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2007 tentang Penanggulangan Bencana.

DPR sudah mendapatkan surat dari Presiden Joko Widodo untuk membahas RUU tersebut bersama revisi Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2007 tentang Penanggulangan Bencana. Ditargetkan RUU PKS disahkan pada tahun depan. [Muhammad Qolbi]