IST/Adegan dalam film MONSIEUR IBRAHIM et Les Fleurs du Coran.

Assalamualaikum Warohmatullahi Wabarokatuh

Hallo kawanmuda. Alhamdulillah, Allah masih mempertemukan kita dengan kondisi yang sehat wal’afiat. Sungguh nikmat, rezeki yang dicurahkannya hingga kita masih mendapat kesempatan untuk memperbaiki diri. Tentunya, di Dunia nan fana ini.

Kali ini, pedomanbengkulu.com menghidangkan sepenggal cerita yang memperlihatkan mukhjizat Allah. Dimana, Allah menyucurkan hidayahnya kepada seorang anak Yahudi. Allahu akbar.

Jad, adalah seorang bocah berusia 7 tahun di era tahun 1940 silam. Tinggal bersama keluarganya di salah satu apartemen pada sebuah kota di Prancis. Ia terlahir dari keluarga Yahudi yang taat dan berpendidikan tinggi. Ibunya salah seorang professor di universitas terkemuka di Perancis kala itu.

Di salah satu sudut lantai dasar apartemen, berdiri sebuah tok “serba ada” yang berukuran sederhana. Serta, merupakan pusat perbelanjaan bagi warga sekitar dalam memenuhi kebutuhan sehari-hari. Tak terkecuali keluarga Jad. Toko itu milik seorang berkebangsaan Turki, Ibrahim, 67 tahun. Seorang yang sangat sederhana, bukan dari kalangan berpendidikan tinggi.

Hampir setiap hari Jad kecil berbelanja di toko pria paruhbaya. Saat berbelanja, tanpa sepengetahuan Ibrahim, setidaknya begitu persangkaannya, diam-diam ia selalu menyelipkan sebuah permen coklat. Sampai suatu hari ia lupa mengambil (maaf : mencuri) coklat tersebut.

Ketika melangkah meninggalkan toko, Ibrahim memanggilnya dan berkata, “Jad, kamu lupa sesuatu, Nak.” Jad kecil memeriksa belanjaannya. Namun, tidak menemukan sesuatu yg terlupakan.

“Bukan itu,” kata Ibrahim. “Ini.” Sambil menyodorkan coklat yang biasa diambil Jad. Tentu saja Jad kaget. Sepintas mukanya memerah, menunduk seperti menahan rasa malu. Takut bila Ibrahim menyampaikan ‘hal memalukan’ tersebut ke orang tuanya. Reaksinya, bengong dan pucat.

“Tidak apa-apa, Nak. Mulai hari ini kau boleh mengambil sebuah coklat gratis setiap berbelanja sebagai hadiah. Tapi, berjanjilah untuk jujur mengatakannya,” cetus Ibrahim sambil tersenyum.

Sejak hari itu, Jad menjadi sahabat Ibrahim.
Ia tidak hanya datang menjumpai Ibrahim untuk berbelanja, tetapi juga menyertai cerita dan menumpahkan keluh kesahnya.

Ketika menghadapi suatu masalah, Ibrahim adalah orang pertama yang diajaknya berbicara. Namun, saat itu berlangsung, Ibrahim tidak pernah memberi jawaban langsung, melainkan menyuruh Jad untuk membuka halaman sebuah buku tebal yangg tersimpan di sebuah kotak kayu. Ibrahim akan membaca dua halaman tersebut tanpa suara, kemudian menjelaskan jawaban dari masalah yang dihadapi Jad.

Hal tersebut berlangsung selama lebih kurang 17 tahun. Sampai satu ketika, salah seorang anak Ibrahim mendatangi Jad dan memberikan kotak tersebut kepadanya. Sembari membawa berita menyedihkan bagi Jad yang saat itu, tumbuh sebagai pemuda. Ibrahim, sahabat sejatinya telah berpulang. Wafat.

Kotak berisi kitab itu diterimanya penuh haru. Jad memperlaku-kannya dengan takzim sebagai representasi dari Ibrahim.

Satu ketika, saat ia berhadapan dengan masalah pelik. Spontan, ia mengambil kotak dan membuka kitab yang ada di dalamnya, sebagaimana keseringannya bersama Ibrahim. Ketika tangannya telah membuka kitab itu, Jad sedikit kesulitan. Lantaran kitab tersebut bertuliskan huruf arab.

Sehingga, ia mesti mencari seorang teman. Guna membantu agar teman berkebangsaan Tunisia menjelaskan makna dari 2 halaman yang dipilihnya secara acak.

Tanpa paksaan, sang teman kemudian membacakan makna tulisan tersebut. Setelah mendengar penjelasan makna itu, seakan mendapat ilham (petunjuk). Jad, langsung mendapati jawaban dari masalah yang dihadapinya.

“Ini kitab apa..?” Ujar Jad, bertanya kepada sahabatnya. “Al-Qur’an, kitab suci Umat Islam.” Cetus sahabatnya, dengan sejuk.

Jad mendengar hal tersebut, spontan Jad kaget dan takjub. Kemudian, bertanya “Bagaimana syarat untuk menjadi seorang Muslim,”.

“Mudah, Syahadat dan berusaha menjalankan Syariah,” jawab pria Tunisia.

Hari itu Jad masuk Islam dan mengubah namanya menjadi ‘Jadullah Al-Qurani’. Dia berjanji untuk mempelajari Al-Quran dengan se-baik-baik dan semampunya.

Mendengar kabar mengejutkan. Tentu membuat keluarganya yang beragama Yahudi, terutama Ibunya yang profesor sulit menerima hal tersebut. Hingga, berusaha untuk mengembalikan Jad kepada keyakinannya semula.

Sang Ibu berjuang. Beribu akal pun mulai dilancarkan. Salah satunya, dengan mengajak teman-teman dari kalangan intelektual Yahudi untuk memberi pengertian pada Jad. Ini berlangsung cukup lama, selama tiga dekade atau 30 tahun. Namun, tidak membuahkan hasil.

Siapa sangka, pengaruh Ibrahim yang bersahaja, ternyata mengalahkan semua orang-orang pintar di sekitar Jad.

Jadullah pernah berkata:

“Saya menjadi Muslim di tangan seorang lelaki yang justru tidak pernah berbicara tentang agama,”. Tak pernah berkata, “kamu Yahudi. kamu Kafir. Belajarlah agama. Dan jadilah muslim,”.

Tapi, ia menyentuh saya dengan “akhlak”, sebaik-baiknya perilaku. Memperkenalkan kepada saya sebaik-baiknya kitab, yaitu Al-Qur’an.

Selanjutnya, Jadullah pun beristiqomah dan tawajuk mempelajari Al-Qur’an serta memahami isinya. Kemudian, berdakwah di Eropa hingga mengislamkan enam ribu Yahudi dan Nasrani.

Suatu hari, Jadullah membuka lembaran-lembaran Al-Qur’an hadiah dari Ibrahim. Tiba-tiba ia mendapati sebuah lembaran bergambarkan Peta Dunia. Pada saat matanya tertuju pada gambar benua afrika, nampak di atasnya tertera tanda tangan Ibrahim dan dibawah tanda tangan itu tertuliskan ayat :

((اُدْعُ إِلَى سَبِيلِ رَبِّكَ بِالْحِكْمَةِ وَالْمَوْعِظَةِ الْحَسَنَةِ…!!))

“Serulah (manusia) kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmah dan pelajaran yang baik!!…” (QS. An-Nahl; 125)

Bersama hl itu, Jad pun yakin bahwa ini adalah wasiat dari Ibrahim dan memutuskan untuk melaksanakannya.

Beberapa waktu kemudian, Jadullah meninggalkan Eropa dan pergi berdakwah ke negara-negara Afrika. Diantaranya, melintasi Kenya, Sudan Bagian Selatan (mayoritas penduduknya adalah Nasrani), Uganda serta negara-negara sekitarnya.

Dalam perjalanan Fisabilillah itu, Jadullah berhasil mengislamkan lebih dari 6.000.000 (enam juta) orang dari suku Zolo. Ini baru satu suku, belum dengan suku-suku lainnya.

Jadullah Al-Qur’ani meninggal di tahun 2003, dalam perjalanan hidupnya sebagai seorang Muslim Fisabilillah. Lebih dari 30 tahun, ia telah mengislamkan lebih dari 6 juta orang di Afrika.

Sementara Ibunya, masuk Islam di tahun 2005 tepatnya di usia 78 tahun. Dua tahun pasca meninggalnya sang anak, Jadullah Al-Qur’ani.

Terinspirasi akan cerita nyata ini, akhirnya sineas Francis mengangkat sebagian fragmen ke layar kaca. “MONSIEUR IBRAHIM et Les Fleurs du Coran‘ (Ibrahim dan Bunga-Bunga Quran) judul film yang disutradarai Francois Dupeyron.

Demikian, sepenggal cerita keagamaan yang dihadirkan untuk pembaca setia pedomanbengkulu.com. Semoga, dengan ridho Allah cerita ini membantu kawan-kawanmuda sekalian beristiqomah di jalan Allah, dalam ikhtiar menjalani kehidupan sementara ini.

Wassalamualaikum Warohmatullahi Wabarokatuh

Sumber : Indahnya Islam
Source #PecintaMajelisIlmu

Alfi Kurnia