Kombinasi teh putih dan daun kelor signifikan turunkan kadar gula darah (Foto: 123rf.com)

Kadar gula darah tinggi atau hiperglikemia tentu menjadi masalah manusia. Kondisi yang umumnya terjadi pada penderita Diabetes Melitus. Namun orang sehat namun memiliki gaya hidup yang buruk, juga bisa mengalami hiperglikemia sehingga menyebabkan penyakit Diabetes melitus.

Berdasarkan standar World Health Organization, normalnya gula darah berkisar antara 70 – 150 mg/dL dan terkadang saat sesudah makan akan naik hingga 180 mg/dl. Tapi setelahnya akan turun kembali. Menjadi masalah jika gula darah selalu tinggi dalam waktu lama, sehingga menyebabkan komplikasi bahkan menyebabkan penyakit diabetes.

Berdasarkan data Sample Registrasion Survey 2014 diketahui bahwa penyakit diabetes adalah penyebab kematian nomor tiga di Indonesia setelah stroke dan jantung koroner.

Untuk mengatasi hal tersebut, umumnya, cara menurunkan kadar gula darah adalah dengan menggunakan obat sintesis yang memiliki efek samping terutama terhadap ginjal. Beberapa orang mungkin memilih mengkonsumsi obat alami. Masalahnya jarang sekali obat alami yang dapat membantu menurunkan kadar gula darah dengan cepat dan signifikan.

Penelitian dari Departemen Gizi Masyarakat, Fakultas Ekologi Manusia (FEMA), Institus Pertanian Bogor berhasil menunjukan bahwa kombinasi teh putih dan Kelor memiliki kemampuan yang signifikan menurunkan kadar gula darah.

Di kalangan masyarakat, beberapa jenis tanaman diyakini mampu menjadi obat alami untuk membantu menurunkan kadar gula darah, yang paling populer adalah teh hijau dan teh putih. Tanaman lain yang juga diyakini mempunyai efek yang sama, yakni kelor.

Pada penelitian kali ini, peneliti berhasil menunjukan bahwa kombinasi teh putih dan kelor mampu menurunkan kadar gula darah secara signifikan jika dibandingkan dengan konsumsi terpisah.

Penelitian dilakukan dengan memberikan seduhan teh putih dan kelor pada tikus yang telah diinduksi menjadi hiperglikemia atau memiliki kadar gula darah mencapai 390,53 mg/dl. Sebanyak 20 ekor tikus hiperglikemia itu kemudian dibagi secara acak dalam beberapa kelompok dengan berbeda perlakuan, yakni kelompok tanpa perlakuan, kelompok induksi teh putih, kelompok induksi teh hijau, kelompok induksi kelor dan terakhir kelompok induksi campuran teh putih dan kelor. Kemudian tikus uji tersebut diamati selama 21 hari.

Hasilnya, peneliti menemukan kelompok yang diinduksi dengan campuran teh putih dan kelor, secara signifikan mengalami penurunan kadar glukosa darah hingga 149,25 mg/dl, lebih baik dari konsumsi teh hijau dengan penurunan mencapai 145 mg/dl. Sementara kelompok yang diinduksi dengan teh putih saja hanya mengalami penurunan 53,3 mg/dl dan untuk yang diinduksi kelor saja hanya turun 80,25 mg/dl.

“Pemberian teh dilakukan setiap hari dengan dosis 100 mg per berat badan tikus, sekitar 2 cc air seduhan. Sebagian besar kadar gula darah mulai menurun pada hari ke-14 setelah diberi teh,” kata Amalia Rahma, SGz, MSi, penulis utama penelitian tersebut yang juga mahasiswa pascasarjana Departemen Gizi Masyarakat, Fakultas Ekologi Manusia (FEMA) Institut Pertanian Bogor.

Menurut Amalia, penelitian tersebut dilakukan untuk menunjukan bagaimana penggunaan teh hijau, teh putih dan kelor yang sebelumnya telah diteliti memiliki kemampuan anti hiperglikemia. Dengan demikian, masyarakat dapat membandingkan khasiatnya.

Kemudian, dengan hasil penelitian tersebut, Amalia melihatnya sebagai potensi untuk pengembangan obat alami untuk mengontrol kadar gula darah pada manusia yang selama ini sangat ketergantungan dengan obat sintesis.

“Sangat memungkinkan diterapkan pada manusia, mengingat bahan yang digunakan dapat digunakan tanpa proses pengolahan yang rumit dan dapat diperoleh dengan mudah,” katanya. [Ricky]