Sastra dalam Bahasa Sansekerta berasal dari kata sasi yang berarti mengarahkan, memberi pertunjuk atau intruksi, sedang tra berarti alat atau sarana (Teeuw, 1984: 23). Dalam pengertian Bahasa Melayu, sastra diartikan tulisan. Kemudian ditambah kata su berarti indah atau baik. Jadi susastra bermakna tulisan yang indah.

Makna sastra dalam Bahasa barat melingkupi makna sastra dalam Bahasa Inggris dikenal dengan istilah literature, Perancis litterature, Jerman literatur, dan Belanda letterkunde. Secara etimologis, kata-kata tersebut berasal dari Bahasa latin yaitu literature yang merupakan terjemahan dari kata gramatika yang mengandung makna tata bahasa dan puisi.

Secara mendasar teks sastra setidaknya harus mengandung 3 aspek utama yaitu, decore (memberikan sesuatu kepada pembaca), delectare (memberikan kenikmatan melalui unsur estetik ), dan movere (mampu menggerakkan kreativitas pembaca).

Deinisi sastra secara global dirumuskan sastra adalah karya fiksi yang merupakan hasil kreasi berdasarkan luapan emosi yang spontan yang mampu mengungkapkan aspek estetik baik yang didasarkan aspek kebahasaan maupun aspek puitik atau poetic unction (surface structure) sedang estetika makna dapat terungkap melalui aspek deep structure (Fananie, 2002: 3-6).

Dapat disebutkan sastra merupakan perpaduan dari berbagai macam system. System tersebut dapat berhubungan dengan system sastra itu sendiri, maupun system-sistem yang berada di luarnya. Kompleksitas berbagai macam system yang tertuang dalam karya tersebut, karena sastra itu sendiri merupakan refleksi di kehidupan masyarakat. Karena itu, berbagai macam dimensi yang ada didalam kehidupan masyarakat biasanya ikut masuk dalam karya sastra. Walaupun karya sastra merupakan satu bangunan yang berisi berbagai macam ilmu pengetahuan, secara universal tidak mungkin lepas dari system sastra yang ada. System tersebut meliputi beberapa hal diantaranya:

Konvensi Bahasa: Bahasa, jelas tidak dapat dilepaskan dari sastra, karena bahasa merupakan media utama karya sastra. Tentu saja terdapat perbedaan yang khas antar Bahasa sebagai media sastra dengan Bahasa sebagai media komunikasi yang lain. Semua orang mengakui bahwa justru kekhasan tersebut merupakan kekuatan karya sastra yang diciptakan oleh pengarang. Penonjolan kekhasan Bahasa tersebut, akan tampak jelas apabila kita menelaah karya sastra dalam bentuk puisi. Penyimpangan pemakaian Bahasa sering kita dapati, karena pemakaian Bahasa dalam karya puisi banyak yang bersifat abstrak, imajinatif, dan inkonvensional yang secara lahir seringkali sulit dimengerti. Pemakaian Bahasa dalam karya sastra ini semenjak abad kelima sudah sering dibicarakan kata art sekarang lebih dispesiffikasikan dengan literature, pada awalnya banyak mengundang perbedaan pendapat. Art pada awalnya mempunyai referensi gramatika dan retorika. Gramatika meliputi recte liquendi scientia, ilmu untuk berbicara secara tepat (dalam pengertian sekarang banyak dikaitkan dengan ilmu Bahasa atau tata Bahasa), dan poetrum enarratio, yaitu semacam teori sastra Teeuw, 1984: 71). (Fananie, 2002: 23-24).

Konvensi sastra: konvensi pada awalnya mengandung pengertian aturan-aturan sosial yang sudah disetujui oleh masyarakat. Konvensi tersebut kemudian masuk dalam bidang sastra pada abad ke-19. Adanya konvensi sastra menyebabkan timbulnya berbagai macam aturan yang harus dipenuhi oleh pengarang. Kita ambil contoh, seorang pengarang yang akan menulis pantun, maka dia terikat dengan konvensi seperti persajakan, jumlah baris, sampiran, dan isi.

Aliran sastra: aliran dalam sutau karya sastra biasanya berkembang dalam satuan waktu tertentu. Dalam setiap periode sastra, umumnya selalu diikuti oleh suatu aliran yang lagi menjadi mode pada waktu itu. Beberapa aliran sastra yang kita kenal yang pernah menjadi ciri khas anutan dan mode pengarang Indonesia diantaranya adalah aliran romantisme, romantis idealisme, romantis idealism, ekspresionisme, impresionisme, naturalism, imajisme.

Istilah sastra dipakai untuk menyebut gejala budaya yang dapat dijumpai pada semua masyarakat meskipun secara social, ekonomi, dan keagamaan keberadaannya tidak merupakan keharusan. Hal ini berarti bahwa sastra merupakan gejala yang universal. Namun, suatu fenomena bahwa gejala yang universal tidak mendapat konsep universal pula. Kriteria ke “sastra” an yang ada dalam suatu masyarakat tidak selalu cocok dengan kriteria ke”sastra”an yang ada pada masyarakat yang lain.

PROSES KREATIF KARYA SASTRA
a. Menyiapkan diri menjadi penulis
Menulis adalah persoalan pilihan eksistensi, yaitu kesadaran untuk berproses secara akti-kreatif yang terus menerus. Karena itu, yang dibutuhkan dalam keratiitas menulis bukanlah teknik yang instan, tetapi lebih pada semangat dan ikrar yang kuat, yang dimulai dari diri sendiri. Semangat untuk terus menulis dan hidup dengan menulis. Semangat adalah modal utama untuk menulis. Jika itu sudah kita punya maka kelolah semangat itu agar terus membara, bergejolak, dan membuat segala aktivitas kita memang diorientasikan untuk menulis.

Namun, memanajmen semangat bukan persoalan mudah dan gampang. Semangat persis sama dengan keimanan kita pada Tuhan. Sering naik, turun, bahkan bisa hilang entah ke mana jika tidak dijaga dengan baik. Oleh Karena itu, mengelola semangat lebih sulit dari pada menciptakan semangat sehingga perlu kiranya kita pandai mengelola semangat menulis itu.

Berikut tiga langkah memanajemen semangat menulis:

1) Jika sudah punya semangat ingin jadi penulis maka sangat perlu bergabung dengan komunitas penulis yang aktif atau menciptakan sendiri komunitas penulis itu. Hal ini penting karena, dengan adanya teman2 yang sehati dan sevisi, semangat itu akan terus dijaga dan dipacu secara kolektif.

2) Berguru atau aktif ke setiap acara kegiatan kepenulisan perlu rutin dilakukan. Tuuannya dengan momen itulah semangat untuk berkarya akan selalu ada. Dengan berdiskusi pada orang yang sudah lama menggeluti dunia kepenulisan maka kita akan memperoleh banyak pengalaman.

3) Aktif berinteraksi dengan media massa dan toko buku. Dalam kaitan ini, membaca media massa atau tamasya intelektual ke toko buku harus rutin dilakukan untuk meningkatkan semangat artikel, puisi, cerpen, dan esai pada salah satu media massa bahwa dipublish media massa terkenal, kemudian jutaan orang membaca tulisan kita.

Tri Dina Ariyanti, M.Pd Dosen Program Studi Manajemen Fakultas Ekonomi Universitas Dehasen Bengkulu

Daftar pustaka:
– Fananie, Zainuddin. 2002. Telaah Sastra. Surakarta: Muhammadiyah University Press.
– Jabrohim.2012. Teori Penelitian Sastra. Yogyakarta Pustaka Pelajar.