Istimewa/Ustaz Jefri Buchori

Assalamualaikum Warohmatullahi Wabarokatuh

Apa kabar kawanmuda? Alhamdulillah, Mahabesar Allah yang masih memberi kesehatan untuk kita semua. Sehingga, bisa menikmati Hari Raya Idul Adha 1441 Hijriah atau 2020 Masehi dengan keberkahan dari daging qurban yang telah dikonsumsi.

Dalam moment ini, pedomanbengkulu.com sengaja menghadirkan artikel-artikel seputar kehidupan beragama. Bukan maksud menggurui, kawanmuda.

Hanya mengingatkan bahwa nafas yang berhembus sejuk pada tubuh, adalah rezeki yang diberikan Allah. So, jangan lupa bersyukur dengan menunaikan sholat lima waktu, ya.

Tujuh tahun sudah berlalu, pasca meninggalnya ustad atau pendakwah kondang bernama lengkap Muhammad Jefri Al-Buchori. Pada 26 April 2013 silam, seusai mengalami kecelakaan tunggal di Jalan Gedong Hijau 7, Jakarta.

Saat itu, puluhan ribu masyarakat Indonesia bersedih mendengar kepergian pendakwah yang tenar, dengan sebutan ustad gaul tersebut. Bahkan, banyak masyarakat dari berbagai penjuru Bumi Pertiwi rela memadati kediamannya.

Di Perumahan Bukit Mas, Jalan Narmada III Blok I No II, Rempoa, Bintaro, Tangerang, bukan lain untuk datang melayat dan andil mengantarnya menuju peristirahatan terakhir. Deraian airmata ribuan masyarakat tak terbendung, ketika osong-osong ustad beken itu diarak mengarah pusaran-nya.

Dibalik itu, ingatkah kalian bagaimana perjalanan dan pengorbanannya mencapai kesuksesan yang direngkuh, sebelum menghembuskan nafas terakhir diusia ke-40 tahun. Ya, tidak mudah.

Seperti yang pernah difilmkan beberapa tahun lalu, sangat dahsyat dan berliku. Namun, tidak sedikit masyarakat menjadi sadar dan hijrah asbab (sebab) pencerahan dari ustad yang juga tenar, dengan sapaan Uje tersebut.

Ketika mulai beranjak remaja, kenakalan darahmuda mulai terlihat dalam kesehariannya yang telah menginjak SMA. Masa inilah, Uje remaja mulai mengenal kehidupan dunia malam dan narkotika.

Saat itu, tahun 1990 Uje mulai mengenal dunia per-filman. Hingga Uje mengikuti casting. Dan untuk pertama kalinya, ia bermain dalam sinetron Pendekar Halilintar.

Mengetahui hal itu, ayahnya, Ismail Moda Dra mati-matian menentangnya. Mendapati halangan itu, lantas tak membuatnya surut untuk berhenti bermain peran.

Malah, hati Uje yang saat itu masih dibalut ego nekat meninggalkan kediaman orangtuanya. Hanya untuk, hidup sebagai seorang aktor.

Hingga suatu hari di tahun 1992, ayahnya meninggal dunia dikarenakan sakit. Mendapati kabar duka ternyata belum membuka matanya. Malah, kesombongan Jefri justru meluap dari sebelumnya.

Saat itu, uang, prestasi dan popularitas seakan menutup mata dan telinganya. Tak satupun nasihat teman, kerabat dan suadara kandung yang membesit hatinya. Ia makin tenggelam sebagai pecandu narkoba.

Jalan Allah-pun semakin jauh, ia tinggalkan. Kejahatan demi kejahatan moral mulai biasa dilakukannya. Bahkan, larangan agama dengan ringan ia terjang.

Hingga pada suatu hari, Uje bermimpi melihat jasadnya terbungkus dalam kain kafan di ruang tamu kediaman orangtuanya. Mengerikannya lagi, Uje kerap mengalami penyiksaan yang menyeramkan dalam mimpi tersebut.

Sehingga, perlahan ketakutannya akan kematian mulai menyadarkan Uje. Rasa takut mati itulah yang akhirnya membuatnya sadar, bahwa Allah tidak meninggalkanya dalam keadaan tersebut.

Seiring berjalannya waktu, pelan tapi pasti keadaan Uje membaik. Kesadaran-kesadaran tentang agama mulai menghampiri. Hingga berbuntut, ia menemui sang ibunda yang telah merindukan sosoknya.

Setiba dihadapan wanita yang melahirkannya itu, spontan Uje bersimpuh meminta maaf atas semua dosanya. Melihat arah positif dari sang anak, ibunya pun langsung mengajak Uje umrah.

Dengan kondisi yang masih terbilang labil dan rapuh, Jefri berangkat ke Tanah Suci. Di sana, ia mengalami beberapa peristiwa yang membuatnya sadar akan dosa-dosa yanh telah diperbuatnya.

Bak sebuah film yang diputar, semua dosa yang pernah dilakukan pria berkulit putih terbayang jelas di pelupuk mata. Silih-berganti, mulai dari dosa terkecil sampai yang besar.

Terbayang akan hal itu, secara frontal mulutnya mengeluarkan kalimat permintaan ampunan kepada sang khalik. Di Mekkah, ia merapatkan barisan badan pada dinding Ka’bah.

Sembari bersandar, Uje menengadahkan kedua tangan memohon ampun atas dosa-dosanya kepada Allah. “Seandainya sepulang dari Tanah Suci ini melakukan dosa lagi, aku minta pada Allah untuk mencabut saja nyawaku. Namun, seandainya punya manfaat untuk orang lain, aku minta disembuhkan.” pinta Uje, dalam doa-nya seperti dikutip dari laman SyamilQuran.

Hingga akhirnya, pada awal tahun 2000 perubahan besar pun terjadi. Saat itu, Fathul Hayat, kakak keduanya tiba-tiba meminta Jefri menggantikannya mengisi khotbah Jumat di Mangga Dua.

Dari sini lah, kisah kepiawan Jefri sebagai ustad mulai terlihat. Selanjutnya, sang kakak mantap memintanya mulai menjadi seorang ustad tetap.

Kemudian, seolah dunia berputar 360 derajat Jefri mulai berceramah diberbagai masjid. Tak hanya itu, Uje pun kerap mendapat undangan sebagai narasumber dalam seminar narkoba di berbagai tempat.

Waktu terus berlalu, ceramah Uje perlahan mulai diterima masyarakat luas. Ia, mulai dilirik per-televisian dan makin dikenal sebagai ustad yang mengikuti perkembangan zaman.

Namun, Allah subhanahu wa ta’ala berkehendak lain. Jumat dini hari, Allah memanggil pria kelahiran Jakarta 12 April 1973 tersebut. Ia, mengalami kecelakaan ketika tengah mengendarai motorgede pabrikan Kawasaki berwarna hijau kesayangannya.

Kendati demikian, petuah, pesan dan kesan yang menjadi pelajaran hidup dari Uje masih ditertanam dibenak para hamba Allah. Semoga Allah subhanahu wa ta’ala mengampuni dosa-dosanya dan menempatkannya di tempat yang terbaik.

Demikian, sepenggal kisah hijrah Ustaz Muhammad Jefri Al-Buchori dapat pedomanbengkulu.com hadirkan. Semoga cerita ini, bisa menjadi pengingat bahwa betapa besarnya anugrah dari sang maha kuasa.

Dan diharapkan, cerita ini bisa menjadi penyebab Allah mencurahkan hidayah kepada pembaca setia pedomanbengkulu.com.

Wassalamualaikum Warohmatullahi Wabarokatuh.

Alfi Kurnia