Suasana di ekslokalisasi Pulau Baai pada sore hari, belum lama ini.

Kawasan Pelabuhan Pulau Baai merupakan kawasan yang berada di bawah naungan Pemerintah Provinsi Bengkulu dengan pengelola PT Pelindo Cabang II Bengkulu. Sebuah kawasan di daerah ini dahulu dikenal sebagai kawasan lokalisasi prostitusi sebelum akhirnya dibubarkan oleh Pemerintah Kota Bengkulu sehingga berganti nama menjadi ekslokalisasi tanpa menghilangkan aktifitas prostitusi di dalamnya.

Alfi Kurnia, KOTA BENGKULU

Pandemi tak membuat kondisi yang tengah menyelimuti warga ekslokalisasi RT. 08 Kelurahan Sumber Jaya Kecamatan Kampung Melayu banyak berubah.

Penelusuran pedomanbengkulu.com, tampak cafe-cafe yang berdiri di pemukiman eksprostitusi masih beroperasi, ketika waktu memasuki malam hari.

Terlihat jelas, para wanita atau pekerja seks komersial (PSK) yang bekerja di cafe-cafe tersebut masih menjajahkan diri kepada lelaki hidupbelang, ditengah pandemi ini.

Dengan pakaian super seksi nan menggoda dan tata rias wajah yang mempesona, tampak para wanita itu duduk di halaman cafe tersebut.

“Kemana bang, mampir kesini dong,” ucap sekelompok wanita tak bermasker, beberapa waktu yang lalu.

Ironisnya, tak terlihat satupun cafe-cafe di pemukiman itu menyediakan air, sabun atau hand sanitizer di halamannya.

Sementara, para pria pencari jasa pemuas birahi lalu-lalang silih berganti masuk ke lokasi tersebut tak ubahnya masa sebelum pandemi.

Perhimpunan Remaja Masjid (Prima) Dewan Masjid Indonesia (DMI) Provinsi Bengkulu pernah meminta agar Pemerintah Provinsi Bengkulu ikut turun tangan mengatasi kemaksiatan di kawasan ini, tapi tampaknya sampai saat ini belum ada aksi apapun dari Gubernur H Rohidin Mersyah.

Sementara Walikota Bengkulu H Helmi Hasan telah mendirikan masjid di kawasan pintu gerbang ekslokalisasi tersebut. Di awal pandemi, Helmi bahkan sempat menutup sementara kawasan tersebut untuk menghindari aktifitas yang merugikan kesehatan warganya.

Saat ini, Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) mulai memasuki tahap-tahap intim. Lantas itu, Gubernur Bengkulu yang telah memastikan diri masuk dalam pertarungan akhir-akhir ini terlihat begitu fokus, mempersiapkan strategi politik.

Sehingga, masyarakat yang sangat membutuhkan perhatian khusus dalam kondisi pandemi covid-19/corona, merasa cemburu. Perhatian yang kurang dari Pemerintah Provinsi (Pemprov) itu membuat masyarakat serasa kehilangan induk, dalam menghadapi pandemi.

Menanggapi hal itu, anggota Komisi III DPRD Provinsi Bengkulu, Dempo Xler M.Ap pun naik pitam. Ia mengatakan, masyarakat Bengkulu sudah kehilangan pemimpin.

“Saya sudah menyarankan agar Gubernur agar melakukan karantina wilayah. Tapi tidak ditanggapi. Jadi, Masyarakat harus sadar jika hari ini sudah kehilangan induk,” ucap Dempo.

Oleh karena itu, mantan demonstran jalanan ini menyarankan agar Gubernur, Rohidin Mersyah untuk vakum memikirkan Pilkada pada 09 Desember 2020 mendatang. Namun, fokuslah memikirkan kepentingan rakyat pada masa pandemi yang melanda Bumi Rafflesia.

“Berhentilah mengurusi Pilkada ini, ayo kita urusin rakyat dulu ditengah covid ini,” tutup Dempo. [**]