Corak berlubang seringkali membuat orang tidak nyaman (Foto: kimdeyir.com)

Pernah mendengar istilah tryphobia? Kita akan coba menerangkan sedikit kemunculan istilah yang diklaim sebagai salah satu jenis phobia tersebut bermula. Coba lihat gambar di atas. Apakah gambar di atas membuatmu takut? Kondisi itulah yang kemudian dianggap sebagai tryphopobia saat ini.

Istilah trypophobia mulai muncul pada tahun 2005, istilah tersebut untuk menggambarkan kondisi ketakutan terhadap lubang, suatu kondisi seseorang yang bereaksi secara emosional saat melihat gambar berlubang yang sejatinya tidak berbahaya.

Pertanyaannya, benarkah trypophobia adalah salah satu jenis phobia? Jawabannya tidak! jika merujuk pengertian fobia, trypophobia tidak bisa dikatakan fobia. Fobia adalah gangguan kecemasan yang biasanya diperkirakan muncul karena belajar dari pengalaman atau trauma dari kejadian masa lalu, semisal gigitan anjing yang dapat menyebabkan rasa takut terhadap anjing atau karena mekanisme evolusi bawaan seperti yang mendasari rasa takut terhadap laba-laba dan ular. Namun, trypophobia nyatanya tidak demikian, trypophobia sama sekali tidak berasal dari dunia medis. Seperti dilansir laman ilfsains.com.

Lantas, bagaimana bisa istilah itu muncul ke permukaan dan diklaim banyak orang?. Baiklah, berdasarkan catatan peneliti yang mengamati fenomena tersebut, istilah itu pertama kali muncul di suatu forum internet pada tahun 2005. Banyak orang yang menceritakan ketidaknyamanan mereka terhadap gambar lubang-lubang atau gambar lesi kulit bercorak, atau seperti penyakit jamur dan sejenisnya. Darisanalah, kemudian muncul gagasan menyebut kecemasan tersebut sebagai fobia dan digunakanlah istilah trypophobia.

Jika ternyata trypophobia bukanlah salah satu kasus medis seperti fobia lainnya. Mengapa banyak orang merasa cemas dan takut dengan gambar lubang-lubang?

Matematika Menyakiti Otak

Menjawab hal tersebut, peneliti memperkirakan bahwa gangguan terhadap lubang muncul karena otak menyimpulkan bahwa gambar tersebut tidak nyaman dilihat. Mengapa? karena gambar tersebut memiliki sifat matematika yang tidak mudah diproses oleh otak. Sementara, otak menggunakan hampir 20 persen oksigen tubuh untuk dapat berfungsi normal.

Kondisi tersebut membuat otak memerlukan lebih banyak oksigen, sehingga tubuh kita bereaksi tidak nyaman dengan gambaran visual yang membuat otak memerlukan lebih banyak oksigen seperti gambar berlubang karena sifat matematisnya tersebut.

Faktor lainnya, yang juga menjelaskan mengapa banyak juga seseorang yang mengaku tidak takut dengan gambar berlubang, tapi tetap merasa tidak nyaman dengan gambar bercorak lubang yang muncul di kulit atau lesi kulit, kemudian gambar jamur dan gambar mirip lainnya? Jadi begini, bagaimanapun juga, gambar corak lubang di kulit manusia seperti penyakit kulit, pastilah membuat seseorang merasa jijik melihatnya. Tidak perlu mengaku fobia lubang untuk merasa jijik melihat corak aneh seperti penyakit kulit. Benar kan? [Ricky]