IST/Salman Al Jugjawy

Assalamualaikum Warohmatullahi Wabarokatuh

Apa kabar kawanmuda. Alhamdulillah, Allah masih mempertemukan kita dalam kondisi sehat wal’afiat. So, sebagai makhluk wajib bagi hamba Allah seperti kita ini memanjatkan syukur, atas nafas yang masih diberikan sang khalik hingga detik ini.

Akhir pekan ini, pedomanbengkulu sengaja menghidangkan artikel keagamaan. Buka maksud untuk menggurui, kawanmuda. Malah sebaliknya, sebagai sesama manusia dan umat muslim diwajibkan untuk saling mengingatkan, dalam perkara sholat 5 waktu.

Kali ini, Allah mengantarkan pembaca setia mengintip sepenggal kisah hijrah Sakti, mantan personil Sheila On 7. Ya, itu kisah yang berlangsung sekitar 15 tahun silam.

Dimana, Allah memberikan hidayah melalui media buku kepada pria yang dikenal dengan nama hijrah, Salman Al Jugjawy. Begitulah Allah, ia berkehendak. Jika ia sudah berkehendak, hal yang sulit diterima akal sehat bisa tersaji di dunia nyata dan sementara ini.

Sebelum memutuskan hijrah, ternyata Sakti melewati berbagai ujian terlebih dahulu. Sampai pada satu titik, dia benar-benar sadar jika kehidupan ini hanya sementara.

Hatinya terketuk, ketika sedang asik-asiknya bersama Duta cs. Manggung dari satu kota ke kota lain. Nyaris tak pernah berhenti rutinitas keseharian yang dilalui.

Pada 2004 silam, seusai tour konser Soundrenaline di Surabaya, Salman pulang ke Yogyakarta. Setiba di kediamannya, dia sangat terkejut mendapati kabar bahwa sang ibunda mengalami sakit. Sehingga, mesti mendapat perawatan di salah satu rumah sakit.

Saat itu, ia merasa sangat bersalah karena terlalu sibuk dengan kariernya. Sang ibu terlihat begitu lemah berbaring di ranjang perawatan. Perasaannya campur aduk, hingga pikirannya bertanya-tanya, ‘sebenarnya apa yang dicari dalam hidup ini?’

Hati Salman semakin bergetar, ketika diberi majalah oleh tantenya yang menulis tentang kisah seorang yang mati suri. Dia pun semakin merenung tentang kematian. Kemudian, perlahan Salman mulai memperbaiki ibadahnya.

Belum berhenti sekitar 2004-2005, Salman kala itu hendak berangkat ke Malaysia bersama Eross untuk menghadiri sebuah penghargaan. Sambil menunggu penerbangan, Salman menyempatkan diri berkeliling di Bandara Adisucipto.

Akhirnya, langkah gitaris sheila itu berhenti di salah satu toko buku. Pandangannya, terpaku pada satu buku yang terpajang di toko tersebut.

“Judulnya cukup menggelisahkan hati saya saat itu: ‘Menjemput Sakratul Maut Bersama Rasulullah’,” ungkap Salman, dikutip dari merdeka.com dalam buku Markas Cahaya.

“Saya pandangi buku itu, terus saya ambil, saya bolak balik sampulnya lalu saya putuskan untuk membelinya,” lanjutnya.

Selama di Malaysia, buku itu dibaca sampai selesai oleh Salman. Hingga, Eross yang penasaran menyimpan banyak pertanyaan seputar buku tersebut. Sejak saat itu, Salman semakin rajin membeli buku-buku mengenai agama Islam.

Kisah lainnya, terjadi saat Salman sengaja terbang ke Bali untuk bertemu Abah Mahmud Zakariyya. Abah Mahmud adalah ayah angkat teman Salman, Abdurrahman Dodi. Salman begitu tergugah ingin bertemu beliau, lantaran mendengar bahwa sosok Mahmud sangat bersahaja.

Di sana Salman sempat berbicara dengan Abah Mahmud, mengenai cara mensyukuri nikmat Allah, tentang indahnya iman dan Islam. Lalu Salman juga diajak beritikaf selama tujuh puluh dua jam di masjid daerah Karangasem.

Setelah melalui itu semua, Salman pun akhirnya benar-benar hijrah. Dan terus beristiqomah hingga saat ini. Namun, mungkin cerita itu hanya sebagian, dari berbagai pengalaman lain yang membuat Sakti semakin mantap berada di jalur Allah subhanahu wa ta’ala.

“Saya merenung makin dalam, kali ini tentang kematian. Kita cuma dikasih kesempatan hidup di dunia ini sekali doang,” ujar Salman.

Demikian, artikel perjalanan hijrah yang dapat pedomanbengkulu.com persembahkan untuk kawanmuda dan pembaca setia. Dengan izin Allah, diharapkan cerita ini menjadi asbab (sebab) agar kawanmuda semakin menguatkan hatinya.

Agar tidak meninggalkan dan tetap menjaga sholat 5 waktu-nya. Serta, meneguhkan batin dan jiwanya bertasawuf di jalan Allah subhanahu wa ta’ala.

Sumber : Merdeka.com

Alfi Kurnia