PedomanBengkulu.com, Bengkulu – Tak terkecuali seluruh penjuru tanah air Indonesia, hari ini dunia bersama The United Nations Educational, Scientific and Cultural Organization (UNESCO) memperingati Hari Aksara Internasional atau International Literacy Day, Selasa (8/9/2020).

Anggota Dewan Perwakilan Daerah Republik Indonesia Hj Riri Damayanti John Latief mengungkapkan, pengajaran dan pembelajaran keaksaraan di tengah pandemi Covid-19 mendapatkan tantangan yang serius, terutama pada daerah tertinggal, terdepan, terluar (3T).

“Teknologi pun belum bisa menjawab tantangan untuk menjangkau 3T ini. Apalagi di Bengkulu. Masih banyak kawasan yang belum tersentuh internet. Saya berharap Kemendikbud bisa memasukkan semua daerah Bengkulu yang termasuk dalam 3T masuk dalam kluster yang mendapat perhatian agar bisa cepat dalam hal penuntasan buta aksara. Semoga target tahun 2023 tidak ada lagi wilayah yang buta aksara bisa tercapai,” kata Riri Damayanti.

Anggota MPR RI Periode 2019-2024 dengan perolehan suara 123.934 suara ini menjelaskan, selama di Indonesia masih ada buta huruf, maka usaha untuk memajukan masyarakat dalam setiap sendi kehidupan akan mengalami kesulitan.

“Harus ada upaya besar-besaran untuk meningkatkan literasi masyarakat dengan dukungan anggaran yang besar juga. Jangan hanya mahasiswa, libatkan semua kelompok terpelajar untuk masuk ke pelosok-pelosok agar bisa mengajar membaca dan menulis,” papar Riri Damayanti.

Mengutip hasil Survei Sosial Ekonomi Nasional (SUSENAS) BPS tahun 2019, jumlah penduduk buta aksara telah mengalami penurunan yang cukup signifikan dari 4,63 persen pada tahun 2011 turun menjadi 1,78 persen pada tahun 2019.

“Meski turun dan patut diapresiasi, tapi angka 1,78 persen masih cukup tinggi. Ini harus terus menerus disuarakan. Apalagi di daerah 3T tadi. Jadi jangan berpuas diri dulu sebelum semua penduduk benar-benar bebas buta huruf,” ujar Riri Damayanti.

Untuk diketahui, serangkaian kegiatan HAI tahun ini telah dimulai pada 24 Juli-28 Agustus 2020 untuk mendiskusikan tentang pengembangan literasi masyarakat di masa pandemi.

Sementara, Direktorat Pendidikan Masyarakat dan Pendidikan Khusus mengadakan Pekan Perayaan Literasi dengan mengusung tema “Pembelajaran Literasi di Masa Covid-19, Momentum Perubahan Paradigma Pendidikan” dalam bentuk pameran foto dan video literasi, diskusi literasi virtual, workshop pengelolaan Taman Bacaan Masyarakat; dan webinar literasi yang diselenggarakan pada tanggal 1-7 September 2020.

Sedangkan pada puncak peringatan HAI 2020 ini diberikan penghargaan kepada berbagai pihak yang telah berkonstribusi dalam bidang keaksaraan.

Hingga saat ini, beberapa daerah khususnya di wilayah 3T masih ada yang mengalami buta aksara. Tertinggi di wilayah Papua hingga mencapai 21,9 persen. [Muhammad Qolbi]