PedomanBengkulu.com, Rejang Lebong – Penyebaran Covid-19 di Rejang Lebong hingga Jumat (27/9/2020) sudah tinggi. Berdasarkan data yang dirilis oleh Tim Gugus Tugas Penaggulangan Covid-19 RL tercatat telah menginfeksi 74 warga. Namun masih ada saja warga yang tidak percaya terhadap penyebaran Virus yang awalnya terjadi di Wilayah Wuhan Provinsi Hubei Repoblik Rakyat Tiongkok (China). Ketidak percayaan sebagain warga ini akan berimbas terhadap pengabaian protokol kesehatan.

Curahan hati salah seorang pasein Covid-19 Rejang Lebong melalui akun media sosial Facebook atas nama Novrita Iskandar bisa menjadi pelajaran bagi Warga Rejang Lebong. Bahwa Covid 19 benar benar ada dan bisa menginfeksi siapa saja.

Berikut curahan Pasien Covid-19 yang tengah berjuang melawan virus tersebut.

Assalamu’alaykum sahabat semua, Apa kabar?? Lama sekali rasanya kita tak jumpa di FB ya. Semoga kalian semuanya dalam keadaan sehat wal afiat. Hari ini aku akan berbagi cerita kepada sahabat semuanya, tentang aku, tentang kisahku yang pada hari ini, Minggu 27 September 2020 dinyatakan sebagai salah satu orang yang terkonfirmasi POSITIF COVID-19 di Kabupaten Rejang Lebong.

Lama tak berkabar, sekalinya berkabar, kabarnya buruk begini ya teman-teman? Heheheee. Tapi tak apa, aku sengaja ingin membagi kisahku, dengan harapan agar kita semua dapat mengambil pelajaran dan hikmah dari apa yg aku hadapi saat ini bahwa virus Covid ini memang ada, dapat menyerang siapa saja, dimana saja, kapan saja, tak perduli jenis kelamin, tak peduli umur, tak peduli setatus sosial dan tak peduli status ekonomi.

Sekalian menjawab pertanyaan dan rasa penasaran sanak keluarga, sahabat-sahabat dan jiran tetangga, yang melelahkan juga kalo di jawab satu-satu lewat WA. Sebagian besar orang mungkin malu, takut atau justru tak ingin org lain tau kalau dirinya terkonfirmasi COVID-19, tapi tidak denganku, aku dengan senang hati akan membagikannya kepada kawan-kawan semua.

Aku tak peduli, mungkin kemudian orang akan mengejekku, memandang sebelah mata padaku atau bahkan akan mengucilkanku dan keluargaku. Tak mengapa, demi sebuah edukasi kepada masyarakat umum bahwa bagi penderita covid-19 bukanlah penyakitnya yang menakutkan tapi yg paling menakutkan adalah stigma negatif masyarakat umum kepada penderita covid-19 itu sendiri.

Aku yakin sekali, mereka bisa melawan dan menghadapi virus ini dengan baik hanya dengan dukungan moril dan semangat dari orang-orang disekitarnya, tapi akan sulit bagi mereka untuk cepat sembuh apabila ketika menghadapi sikap dan pandangan negatif masyarakat terhadap penderita bahkan bagi mereka yang tak kuat mental covid ini benar-benar dapat membunuhnya terutama kepada mereka yg memiliki riwayat penyakit penyerta.

Oke baiklah, aku akan memulai ceritaku ketika pertama kali merasakan bahwa tubuhku tidak sehat dan tidak dalam keadaan baik-baik saja. Oh ya, hari ini sebenarnya kondisiku sudah sangat jauh lebih baik dan boleh dikatakan hanya tinggal pemulihan saja, makanya aku bisa menulis ini dengan santai dan dengan sedikit candaan dan sesekali ketawa sendiri.

Aku mulai ceritanya ya, Aku mulai merasakan ada keluhan itu kira-kira tgl 13 September 2020, diare selama 1 hari, badan terasa lemas sekali, kepala terasa sakit terutama di sekitar mata dan pelipis, lambung terasa perih, selalu ngantuk dan kehilangan nafsu makan, dada terasa ngilu ketika bernafas, kuatasi sendiri dengan minum Paracetamol dan pereda nyeri lambung ditambah dg vitamin B kompleks, dan cukup membantu, sakit kepalaku hilang.

Tanggal 14 September, masih ke kantor seperti biasanya walaupun badan kurang sehat. Di kantor aku lebih banyak menyendiri di meja kerjaku, sesekali tertidur dimeja dan pas sholat zuhur, aku tidur di atas sejadahku (ini sebelumnya tak pernah kulakukan), seharian tak ada yang bisa kukerjakan kecuali sebatas menandatangani legalisir berkas, paraf surat-surat atau beberapa dokumen dari Puskesmas, tapi untuk tugas-tugas yang mengharuskan aku berfikir, aku tinggalkan.

Kepalaku sakit dan tubuhku terasa tak nyaman. Tetap minum obat utk mengurangi keluhan. Tgl 15 September, aku putuskan untuk tidak masuk kantor karena kondisi badan memang makin tak bersahabat, terutama pada lambung, perih dan mual tapi tak sampai muntah, nafaskupun mulai terasa sesak dan pendek, tapi aku tetap mengisi perutku dengan bubur walau dengan terpaksa karena mulutku sebenarnya menolak utk diisi makanan.

Mengapa tak ke dokter? Aku takut ke dokter dengan situasi sekarang (takut disuruh rapidtest atau swab). Tapi karena kondisi badan tak juga membaik, nafas agak sesak, ibuku marah, dan memaksaku agar berobat ke dokter, maka pada tgl 16 berangkat juga aku berobat ke salah satu klinik.

Berdasarkan pemeriksaan, menurut dokter semua keluhanku berawal dari masalah di lambung. Tgl 17 September, karena merasa belum sanggup bekerja, aku mengirimkan pesan WA kepada Bapak Kepala Dinas bahwa aku belum bisa masuk kerja seperti biasanya dan tak lama berselang, pak Kadis membalas WAku : “Iyo Ta, tapi saran aku kau di swab ajo krn pak Y*** (nama atasanku) positif covid”.

Tentu saja balasan beliau ini membuat jantungku serasa berhenti berdetak, kepala tiba-tiba terasa panas dan tanganku gemetar. Ya Allaah bagaimana ini? Kemudian beberapa kawan kantor menelponku, menyampaikan berita yg mengejutkan ini, mereka bertangisan, panik dan kebingungan, kemudian mereka juga melaporkan “ayuk, anak buah ayuk yg di umum tu demam galo”, aku betul-betul panik tapi tak bisa berbuat apa-apa, sementara aku sendiri dalam kecemasan.

Hari itu juga teman-teman dikantor melakukan pemeriksaan rapid test dan sebagian lagi langsung di swab.. Bagaimana dengan aku? Karena sedang tidak ngantor dan tinggal di Curup, maka pihak Dinkes Kepahiang berkoordinasi dengan Dinkes Rejang Lebong untuk swabku. Benar saja, menjelang sore, petugas kesehatan dari Puskesmas Curup Timur menghubungiku, setelah melalui wawancara melalui sambungan telpon dan menyampaikan data-data yang diminta oleh pihak Puskesmas / Dinas Kesehatan sebagai kelengkapan administrasi, maka diputuskan bahwa aku akan melakukan swab pada tgl 19 September, beserta seluruh anggota keluargaku.

Dengan kesadaran sendiri aku mulai melakukan isolasi mandiri secara ketat di rumah, aku anggap kalo aku sudah positif terkonfirmasi covid demi keluargaku terutama orang tuaku. Aku tak lg mengikuti kebiasaan keluargaku utk sholat berjamaah dan makan bersama. Aku tak lagi masuk dapur dan ruangan-ruangan lain, selain kamarku, aku hanya keluar untuk berjemur. Tgl 18 September, Aku merasa nafasku makin sesak, badanku lemas sekali, mual dan perih sangat membuatku tak nyaman, kondisiku makin buruk.

Namun tetap berusaha tenang dan ingat pesan para tenaga kesehatan bhw aku harus menjaga imun tubuhku. Tgl 19 September keluhanku tak sedikitpun berkurang, Ya Allah… Makin curiga, jangan-jangan…Ah sudahlah…Aku tak boleh terlalu jauh berfikir yang tidak-tidak. Tapi tetap saja kepikiran, dan yang paling berat adalah memikirkan kedua orang tuaku yang sudah diatas 70 tahun… Allahku… Lindungi mereka.., begitu selalu doaku.. Tak sanggup membayangkannya… Ya Allah…. Jauhkan mereka dari wabah ini.., Tak hentinya aku berdoa dan meminta kepada Allah.

Tangal 19 September 2020, Kami menjalani test swab sekeluarga di Laboratorium Kesehatan Daerah Rejang Lebong, apa yang selama ini aku takutkan, harus aku hadapi juga ahirnya. Tapi ternyata Alhamdulillah tak semengerikan yg aku bayangkan. Kondisi fisik belum ada perubahan, masih lemas, perut mual, sesekali nyeri di lambung dan nafas agak sesak dan pendek. Nafsu makanpun belum ada sama sekali. 20 September, pagi ini terjaga pukul 03.44 WIB, diawali dengan perut mual dan sedikit nyeri, nafas agak sesak dan lemas sekali… Tetap diam di tempat tidur, mengumpulkan kekuatan dan tenaga. Minum air hangat, dan terus berzikir mohon kekuatan dari Allah.

Dengan kondisi lemas, tetap berdiri, berwuduk dan menunaikan shalat subuh…Ya Allah lemas sekali, Sholat subuh 2 rokaat, tapi capeknya kayak habis lari 100 meter, nafas tersengal, Ya Allaah… tersiksa sekali, Semoga Allah ampuni semua salah dan dosa-dosaku. Kira-kira pukul 8.00 pagi, Anak gadisku menyiapkan sarapan buatku, tapi kubilang kalo aku belum mau makan. Setelah beberapa saat, selesai mandi, badanku agak terasa enakan, lalu aku kasihan melihat makanan itu, lalu kucoba untuk mulai menyuapkannya ke mulutku.. dan diluar dugaan, mulutku merasakan bahwa nasi ini enak, tidak seperti biasanya langsung pengen muntah kalo ngeliat atau makan nasi. Luar biasa, aku terkejut, suap demi suap masuk ke mulutku, dan sampailah disuapan terakhir, Yeeee, Nasi sarapanku habis, Senang sekali rasanya.

Lalu kuteruskan dengan minum obat dan vitamin. Tapi ketika siang menjelang, semua keluhanku muncul lagi dan harus kunikmati lagi, nafasku makin terasa sesak, bergerak sedikit saja, aku sudah merasa sangat lelah, padahal cuma melakukan gerakan sholat saja. Ya Allaah, tapi aku harus kuat tidak boleh nagis,tidak boleh kalah, tidak boleh menyerah, Ya, aku harus bisa melewati semua ini.

21 September Alhamdulillah, tidurku tadi malam nyenyak sekali, tidak terjaga ditengah malam seperti malam-malam sebelumnya, aku terjaga kira-kira pukul 4.45 WIB ketika baru bangun, aku diam sambil merasakan apa yg tubuhku rasa pagi ini, perut langsung terasa mualnya, lemas sekali, Tapi kupaksa untuk bangun dan ke kamar mandi untuk siap-siap sholat subuh.

Dengan keadaan lemas dan dada ngilu, aku laksanakan sholat subuhku, Walaupun setelah sholat aku seakan tak kuat menyangga tubuhku sendiri, lelah sekali rasanya untuk sholat wajibku, sedapat mungkin kulakukan dengan berdiri, dan utk sholat sunat rawatib dan duha kulakukan dengan duduk. Untuk membaca Alquran, biasanya sekurang-kurangnya 1/2 juz setelah Isya, tapi sekarang, jangankan 1/2 juz, 1/2 halaman saja aku tak kuat. Akhirnya kuganti dengan mendengarkan murotal sebagai pengantar tidurku.. Hari ini aku Coba minum 1 kapsul stimuno, kupikir untuk tambahan vitamin tubuhku, Walhasil lambungku makin periiiihh, Air liur terasa pahit. Aku konsultasikan ke petugas kesehatan dan beliau bilang agar tak lagi diminum.

22 September bangun pagi hari ini terasa agak segar dan tidak terlalu lemas seperti hari-hari kemaren, Alhamdulillah, Sholat subuh pun kulaksanakan dengan biasa, tanpa rasa lemas seperti kemaren-kemaren. Merasa agak baikan, aku keramas karena udah beberapa hari ga cuci rambut karena udah lepek dan berminyak, merasa agak enakan, terus nyoba ganti seprei dan langsung mencucinya, Tapi belum selesai nyuci, tiba-tiba badanku lemas sekali.

Gak kuat, aku seperti kehabisan tenaga, padahal nyucinya pake mesin cuci, tiba-tiba kepalaku terasa sakit sekali dan timbul lagi mualnya, tubuhku sempoyongan, badanku lemas sekali. Belum selesai keluhan yang tadi, kok siang ini kayak pengen bersin terus ya ? Terus kepala juga makin sakit, Mual lagi, Ya Allah. Sore ini aku benar-benmar merasa keadaanku kembali memburuk, Tapi tak bisa berbuat apa-apa, karena kalau aku mengeluhkan sakitku, pasti keluargaku akan panik.

Terus seperti mau kena flu pula, Ya Allah aku kenapa? Ada apa dengan hidung dan kepalaku ini? Allaah. Kuminum saja Paracetamol dan obat magku dan vitamin, dan berdoa semoga besok keadaan akan membaik. 23 September keluhan baru hari ini, Pilek, hidung mampet dan sedikit batuk, Kepala agak pusing, otot sekitar mata agak sakit. Ketika sedang menikmati “rasaku”, kira-kira Jam 9.30 WIB, salah seorang teman kantor nelpon ngasih tau bahwa 10 org diantara kami terkonfirmasi positif covid.

Bagai petir disiang bolong dapat kabar ini. Semua panik dan galau apalagi yang tengah hamil dan sebagian lagi memiliki anak yang masih kecil-kecil, Sungguh situasi yang sangat menakutkan. WA grup seketika menjadi heboh, semua bertangisan, baik yg terkonfirmasi positif maupun teman-teman yang msh aktif bekerja, takut, panik dan galau. Akupun demikian akhirnya meyakini bahwa hasil swabkupun akan positif karena dari sekian banyak kawan-kawan yang dinyatakan positif, keadaankulah yang paling menghawatirkan. Meskipun yang lain menguatkanku, mendoakanku semoga hasilnya negatif, tapi hati kecilku tetap mengatakan bahwa swabkupun akan positif.

Kusampaikan berita ini ke petugas kesehatan yg mengawasiku, mereka semuanya terkejut dan meminta aku untuk tetap berfikir positif dan tidak terpengaruh denga situasi ini. Lalu kukatakan “aku tak berharap hasil swabku negatif, aku lebih memilih untuk menyiapkan mentalku menerima kenyataan nanti ketika hasil swabku ternyata positif. Sore harinya, suasana pembicaraan di grup sudah berubah, tak ada lagi yang menangis, tak ada lagi yang galau dan tak ada lagi yang takut, mereka semua orang-orang kuat dan hebat, seketika grup menjadi tempat bercanda, ketawa-ketawa, saling menguatkan dan saling menyemangati, sampa-sampai yang baca ngakak sendiri dan sakit perut karena tertawa. 24 September kondisi fisik lumayan membaik, hidung mampet mulai berkurang, dada tidak lagi terasa ngilu, tapi nafas masih tetap terasa agak pendek, Tapi secara umum sudah membaik.

Pagi ini cerah sekali, aku keluar kamar utk berjemur, sekalian jemur bantal dan selimutku setelah beberapa hari cuaca mendung dan hujan,hari ini puas berjemurnya. Obrolan di grup kantor bikin happy, ketawa ngakak sendiri,Alhamdulillah, banyak yang mensupport. Habis berjemur malah sakit kepala, Belum selesai ternyata keluhanku, Padahal waktu berjemur, enak banget ni badan rasanya, mualnya jug abalik lagi, sorenya mual lagi, sakit kepala lagi, minum obat lagiii.

25 September Seperti biasa, setiap bangun pagi, aku diam dulu ditempat tidur sambil merasakan, bagaimana tubuhku pagi ini, Alhamdulillah, pagi ini cuma rasa mual yang paling menonjol, tetap bersyukur ga pake perih berlebihan, Entah apa sebenarnya yang terjadi dengan lambungku, aku tak makan pedas, tak makan yang asam-asam, tapi sudahlah, tak apa, kunikmati saja, sambil terus berdoa semoga kondisiku terus membaik. #senyum.

Sampai sore ini, mualku masih tetap ada, sesekali terasa perih, nafsu makan belum sepenuhnya pulih, kalo bangun masih agak sempoyongan, tapi dibanding hari-hari kemarin, hari ini sudah jauh lebih baik. 26 September 2020 tetep mualnya yang dominan yah, hidung mampet lagi, kepala jadi agak pusing, Ada berita duka di grup pg ini, awalnya biasa saja, kemudian agak siang dapat kabar bahwa yang meninggal tadi karena covid, langsung down, Langsung sakit kepala lagi, Ayo semangat lagiii. Sarapan pagi ini pake pepes pedo asin, pengen banget dari kemarin, dan Alhamdulillah hari ini dibuatin sama adek ipar, dan ga sia-sia untuk pertamakalinya selama isolasi, makannya pake nambah. Tapi karena ada pedasnya walaupun sedikit, lambungku pedih lagi dan selalu saja di jam siang sampai sore, badan terasa lemas, badan sempoyongan dan perut perih, Ya Allah kenapa ini? Obat lagi, obat lagi.

27 September 2020 hari ini menjadi salah satu hari yang paling bersejarah dalam hidupku, Kira-kira jam 9 pagi dapat kabar dari bides bahwa hasil lab 4 orang anggota keluargaku udah keluar dan negatif, tapi aku dan ayahku malah belum. Ya sudahlah, kupikir mungkin besok, tapi sesaat setelah sholat zuhur, HPku berdering, ternyata dari petugas kesehatan Puskesmas Curup Timur yang selalu mengawasi kesehatanku selama isolasi, aku langsung berdebar, langsung kuangkat, dan ternyata dia memberitahu aku bahwa hasil swabku juga sudah keluar dan aku dinyatakan positif terinfeksi COVID-19. Kaget?Nggak sama sekali.. kuberitahu anak2ku,merekapun sudah siap,lalu kuberitahu juga atasanku, rekan-rekanku dan juga sebagian saudaraku.

Alhamdulillah mereka semua menguatkanku, menyemangatiku, mendoakanku dan tetap mensupport aku, semoga aku segera pulih kembali. Aamiin.. Nah, beginilah ceritanya, semoga bermanfaat dan mari jaga kesehatan kita masing-masing..Covid bukan untuk ditakuti, tapi diwaspadai. Tanaman perdu didalam kaca Salam rindu buat yang baca.

Wassalamu’alaykum wr. wb. Tulisan ini dibuat salah seoarang pasien Covid 19 dan saat ini masih dalah tahap pemulihan. Isi tulisan telah disetujui untuk angkat ke media dengan harapan semua orang lebih waspada dan tetap melaksanakan protokol kesehatan. [Julkifli Sembiring]