Risma Masjid Al-Manar Pasar Minggu berbaur bersama para pemuda di sekitar kawasan Masjid Baitul Makmur Simpang Kandis, Kota Bengkulu.

Assalamualaikum Warohmatullahi Wabarokatuh.

Yooo, kawanmuda. Berjumpa lagi di perjalanan Khuruj Fi Sabilillah umatnya Rasulullah, Nabi Muhammad shalallahu ‘alaihi wa sallam. Alhamdulillah, Allah masih melimpahkan rezeki yang tak dapat dihitung dengan jumlah. Bahkan, untuk mencari tandingan saja sangat sulit.

Yaitu, nafas yang masih bersemayam dan tak henti memompa paru-paru dalam tubuh sampai detik ini. Sehingga, kita dipertemukan lagi pada cerita perjalanan wisata fi sabilillah pasukan Risma Masjid Al-Manar Jalan Bangka Kelurahan Belakang Pondok Kecamatan Ratu Samban Kota/Provinsi Bengkulu.

Lantas itu, jangan lupa untuk tetap bersyukur Kawanhijrah. Sebab, dengan bersyukur Insya Allah Sang Khalik akan menambahkan lagi dan lagi, nikmat-nikmat lainnya yang dibutuhkan.

Sebelum mencapai benang-merah cerita perjalanan. Boleh ya, kawanmuda. Pedomanbengkulu.com sedikit membocorkan kisi-kisi benang merah perjalanan menjelang 20 hari, dari 40 hari rencana Wisatanya Umat Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam.

Dalam wisata dengan syarat niat beribadah, tentu tidak berjalan semulus aspal jalanan yang baru di poles. Ya, pastinya cobaan menjadi pewangi dalam ibadah tersebut.

Nah, penasaran kan kawanhijrah. Cobaan seperti apa yang dialami pasukan Risma Al-manar. Ikuti sampain habis ya, hidangan eksklusive ini. He, he, he.

Dua pekan perjalanan telah diarungi. Pelajaran demi pelajaran hidup dalam mengamalkan agama pun, dicerna dengan baik oleh para pemuda hijrah. Hasil musyawarah ba’da shubuh (16/9/2020), pasca tadarus Yasin memutuskan pasukan Risma untuk menyusuri kawasan padat penduduk di Kecamatan Selebar Kota Bengkulu.

Masjid Baitul Makmur di Jalan Simpang Kandis menjadi next persinggahan, pemuda Risma dalam belajar menyempurnakan sunah-sunah Baginda Nabi Muhammad shalallahu ‘alaihi wa sallam. Pagi itu, langit di Kota Bengkulu terlihat galau. Antara terang dan mendung.

Setibanya di masjid itu, awan kelam pun menjatuhkan hujan yang lumayan deras. Di tengah gemuruh air yang menghantam Bumi, para pemuda hijrah tampak serius mendengar taklim wa ta’lum dari kitab fadhillah amal yang dibacakan Yoni (25).

Hari pertama suasana di Masjid yang buka 24 jam itu, berjalan dengan lancar. Selain disambut baik dengan masyarakat setempat, pasukan dakwah Masjid Al-Manar diterima dengan baik oleh pengunjung di kawasan taman rekreasi yang berjarak sekitar 80 meter daei Baitul Makmur.

Yaitu Taman Simpang Kandis yang menjadi, lokasi dakwah bagi pasukan hijrah tersebut. Setiap harinya, sejak hari ke-enam belas hingga memasuki hari ke-empat di Masjid Baitul Makmur. Selalu ada pemuda-pemuda dan remaja-remaja tempatan yang memudahkan langkah kakinya, untuk ikut meramaikan masjid. Serta, menyelami program Taklim Usaha Memakmurkan Masjid (UMM) yang dihidupkan, ba’da sholat Ashar.

Namun, lantaran estafet mesti terus dilanjutkan menuju lokasi wisata selanjutnya. Ibarat filosofi, dimana ada pertemuan disitu pula ada perpisahan. Waktu bertolak pun harus segera dilaksanakan. Pagi itu, Ahad (20/9/2020) musyawarah jilid ke dua puluh setelah sholat Shubuh dan Tadarus memutuskan pasukan Risma melangsungkan program di Masjid Al-Barokah di kawasan wisata Taman Mangrove Kelurahan Sumber Jaya.

Seperti biasa, sebelum melangkahkan kaki keluar dari masjid ke-lima dalam khuruj. Pasukan Jamaah, tidak lupa memanjatkan do’a guna bersyukur dan memohon perlindungan dari Allah suhanahu wa ta’ala. Dalam suasana do’a yang dipimpin Ibnu Sopian (36) menjelang pindah lokasi dakwah, para pemuda hijrah tak kuasa menahan airmata yang tumpah-ruah membasahi pipi masing-masing.

Airmata itu, jelas menunjukkan berbagai curahan hati dalam menjalani kehidupan di dunia yang sementara ini, bercampur aduk. Hingga, potongan kalimat tak bisa dirangkai guna mengungkapkannya. Suasananya, sangat spiritual. Sebab, segala bentuk emosi mengalir bersanding harapan.

Setelah saling memaafkan dan sarapan pagi terakhir dalam khuruj, empat puluh hari di Masjid Baitul Makmur. Pasukan Risma, mulai sibuk mengemas dan menata perlengkapan sehari-hari di mobil pick-up biru tumpangan setia pemuda hijrah.

Waktu terus berjalan, jarum jam pun mulai bergerak menuju angka ke-sepuluh. Pasukan hijrah yang telah melaksanakan sholat sunnah safar, tampak duduk bersila dan membentuk lingkaran musyawarah. Guna melakukan tahap-tahap dalam mengamalkan adab perjalanan.

Mulai dari do’a, adab keluar masjid hingga sikap menghadapi perjalanan dijabarkan secara detail oleh Ustad Dawam. Setelah itu, berselang sekira 15 menit Allah merencanakan pemuda Risma menapaki kaki sementara di Masjid Al-Barokah.

Saat tiba, Imam masjid yang namanya sengaja tidak dipublikasikan itu menyambut baik para Risma hijrah. Perkenalan dan sambung tali hati antara kaum anshar dan muhajirin pun berlangsung akrab.

Bahkan, sholat dzuhur, ashar, maghrib dan isya dipimpin Imam itu sesuai syariat. Serta, program memakmurkan masjid tetap berlangsung sesuai harapan.

Buktinya, dalam menunaikan program jaulah majelis ilmu ba’da Ashar. Pasukan pemuda hijrah dengan semangat, memecahkan diri menyusuri empat penjuru kawasan. Demi menyampaikan kalimat dakwah dan mengingatkan, para masyarakat dan pengunjung tentang pentingnya memakmurkan masjid.

Namun, ada hal yang sedikit mengganjal pandangan dalam lingkungan masjid tersebut. Bukan mengenai tempelan gambar Gubernur Bengkulu Rohidin Mersyah yang tertempel di dinding masjid dan tempat wudhu. Namun dikarenakan Provinsi Bengkulu sedang memasuki musim politik dan tengah dilanda Pandemi covid-19.

Seusai melaksanakan sholat isya berjamaah, tanpa isyarat suasana pun berubah sekejap mata. Lantaran, pasukan Risma diminta oleh pengurus untuk tidak beritikaf di masjid dan diharapkan untuk segera pulang malam itu juga.

Sontak, kabar itu mengundang rasa syukur sekaligus kesedihan dalam diri para pemuda hijrah. Rasa syukur karena yakin ada kandungan sunah di dalamnya, sebagaimana Nabi Muhammad shalallahu ‘alaihi wa sallam pernah mengalami duka karena penolakan dakwah yang beliau bawa di Thaif. Sedih karena belum sempat mengajak banyak pemuda di kawasan Masjid Al-Barokah tersebut untuk taat kepada Allah subhanahu wa ta’ala. 

“Maaf, karena Covid kami belum bisa mengizinkan untuk beritikaf di sini,” kata seorang tokoh masyarakat yang juga, namanya sengaja tak disebutkan.

Kendati demikian, pasukan Risma tetap tak patah arang untuk terus melakukan perjalanan Khuruj Di Sabilillah hingga menyelesaikan waktunya. Setelah makan malam, pasukan pemuda yang saat ini berjumlah 16 orang merangsek dari pemukiman nelayan tersebut.

Entah. Hal apa yang tengah direncanakan sang pencipta hingga malam ke-dua puluh satu, para pemuda hijrah mesti menutup program Tadarus surah As-Sajadah dan Al-Mulk di Masjid At-Taubah.

Ya, hanya Allah yang tahu. Alasan beserta rahasia, hingga para pemuda hijrah harus menjalani program-program khuruj di masjid yang berdiri di Ekslokalisasi RT 08 RW 02 Pulau Baai Kelurahan Kampung Melayu tersebut.

(Bersambung)

Al-Fatih