Oleh: Ummu Shiddiq
(Praktisi Pendidikan Kota Bengkulu)

Setiap idola mesti memiliki penggemar. Dan sebagian di antara mereka memiliki rasa cinta yang lebih besar sehingga cenderung fanatik. Begitu pula yang terjadi dengan K-Pop. Namun dari sudut pandang psikologi, kegandrungan para K-Popers ini menimbulkan ketertarikan sekaligus kecemasan.

Hal itu diakui oleh praktisi dan akademisi psikologi Vierra Adella. Dosen Universitas Atma Jaya Jakarta tersebut bahkan menyebut bahwa kegandrungan para K-Popers yang jumlahnya bisa dibilang masif sebagai sebuah “fenomena” dan jadi lahan baru bagi sebagian orang mendulang cuan.

“[Hiburan] Korea ini fenomenanya dipoles sedemikian [rupa] sehingga didukung semua [aspek]: media mendukung, bisnis dukung. terus sosial media enggak berhenti. Mereka [industri hiburan Korea] juga produktif,” kata Adella, dilansir dari cnnindonesia.com.

Beberapa hari yang lalu, Wapres Ma’ruf Amin mengeluarkan statement kontroversial di kalangan masyarakat. Beliau berharap budaya K-Pop dapat menginspirasi munculnya kreatifitas anak muda Indonesia. Pernyataan Ma’ruf Amin soal K-Pop dikritik politikus Partai Gerindra Ahmad Dhani.

“Jadi Pak Wapres kita memang tidak paham benar soal industri musik. Harusnya sebelum kasih statement, diskusi dulu sama saya sebagai orang yang sangat paham industri musik,” kata Ahmad Dhani kepada wartawan, dikutip dari detik.com, Minggu (20/9/2020).

Ahmad Dhani menyebut musisi Indonesia jauh lebih berkualitas ketimbang artis K-Pop dan tentu lebih kreatif. Menurut Dhani, yang dibutuhkan musisi Indonesia saat ini ialah dukungan dari pemerintah. “Di Korea, disiapkan dana besar untuk memajukan musik nasional Korsel. Pemerintah Korsel serius untuk mengangkat industri musik Korsel menjadi masuk ke industri musik dunia,” ucap Ahmad Dhani, dikutip dari news.detik.com (20/9/2020).

“Musisi Indonesia jauh lebih bermutu daripada Korsel, hanya saja selama ini belum ada presiden yang punya skill soal industri dunia,” sebut politikus berlatar belakang musisi ini.

Sejujurnya, Korea Selatan sendiri tengah menuju jurang kehancuran peradaban. Pernahkah kita mengukur seberapa kelam dunia selebritas Korea? Belum lagi kemerosotan generasi di tengah masyarakatnya.

Coba kita indra, bagaimana tingginya angka bunuh diri di kalangan artis Korea? Bagaimana tingginya angka operasi plastik di tengah masyarakat demi tetap bisa menyegarkan mata yang memandangnya? Pun betapa rendahnya angka pernikahan di sana akibat kaum perempuan sudah banyak yang enggan menikah?

Fungsi peradaban adalah sebagai hulu bagi kehidupan. Namun, kehidupan hakiki masyarakat pelaku dan pelaju K-Wave itu penuh balutan kepalsuan. Mereka tak ubahnya generasi rapuh yang menjalani peradaban lapuk. Kebenaran tak lagi menjadi sesuatu yang berarti, karena kebenaran sejati bisa diperjualbelikan dengan indahnya tampilan fisik melalui seonggok nominal.

Tujuan kehidupan saja mereka tak paham. Bagaimana bisa menjadi inspirator kemajuan peradaban? Betul-betul inspirasi yang omong kosong!

Mari renungkan sabda Rasulullah Saw. berikut ini, “Siapa saja yang bangun di pagi hari, sementara perhatiannya lebih banyak tertuju pada kepentingan dunia, maka ia tidak berurusan dengan Allah. Siapa saja yang tidak memperhatikan urusan kaum Muslim maka ia tidak termasuk golongan mereka (kaum muslim).” (HR. Al-Hakim dan Al-Khatib dari Hudzaifah ra).

Wallahualam