Bunga Rafflesia yang sedang mekar (Foto: pinterest.com).

Tahu Rafflesia kan? Bunga terbesar di dunia yang ditemukan pada tahun 1818 oleh Dr. Joseph Arnold -dokter, ahli botani dan penjelajah di abad ke-19 dan Sir Thomas Stamford Raffles -Gubernur Jendral Hindia Belanda abad ke-19- pada saat ekspedisi di hutan tropis Sumatera, tepatnya di hutan yang kini dikenal sebagai bagian dari Provinsi Bengkulu.

Nah, sudah hampir 200 tahun sejak penemuan Rafflesia dan tentunya bukan waktu yang sebentar. Ternyata, hingga saat ini tidak seorangpun di dunia ini yang dapat mengetahui kapan dan di mana Rafflesia akan tumbuh, apalagi mau membudidayakannya.

Beberapa dekade setelah penemuan Rafflesia arnoldii pada 1818 di hutan Bengkulu dan menjadi awal munculnya famili Rafflesiaceae di dunia, hingga saat ini telah dideskripsikan setidaknya ada 31 jenis Rafflesia di dunia.

Pakar Rafflesia, yang juga dosen jurusan Kehutanan, Universitas Bengkulu Dr.Agus Susatya mengkonfirmasi, dari 31 jenis Rafflesia yang ada di seluruh dunia, 15 diantaranya berada di Indonesia. Dari jumlah tersebut, 11 jenis berada di Sumatera. Hampir separuh jenis Rafflesia di dunia berada di hutan hujan tropis Sumatera, surga bagi sebagian besar jenis Rafflesia. Termasuk di dalamnya Rafflesia arnoldii, jenis pertama yang dideskripsikan dan juga memegang rekor sebagai bunga tunggal terbesar di dunia.

Rafflesia menjadi tumbuhan yang menyimpan banyak misteri. Tidak memiliki batang, daun dan akar sejati, hanya ada kuncup atau bunga. Rafflesia merupakan tumbuhan parasit sempurna yang sangat tergantung dengan inangnya. Oleh karena itu, sebaran Rafflesia sendiri mengikuti sebaran inangnya. Selama inangnya masih ada di dunia ini, Rafflesia masih mungkin untuk kembali mekar.

Rafflesia menjadi misteri bagi ilmu pengetahuan, tidak satupun orang bahkan ilmuwan di dunia ini yang dapat memastikan kapan dan di mana Rafflesia akan tumbuh. Susatya mengatakan hingga saat ini belum ada teori yang dapat menjelaskan bagaimana Rafflesia memperbanyak diri.

“Teori yang kita ketahui belum jelas, belum bisa menjelaskan. Ada teori yang menduga bahwa Rafflesia memperbanyak diri dengan penyerbukan. Tapi teori ini memilki kelemahan,” kata Agus Susatya, peneliti Rafflesia yang menyelesaikan studi lanjutnya di Department of Botany and Plant pathology, Michigan State University, East Lansing, Amerika Serikat dan Natural Resources Studies, Faculty of Sience and Technology, Universiti Kebangsaan Malaysia.

Susatya menjelaskan, Rafflesia adalah tumbuhan berumah dua, artinya bunga jantan dan betinanya berada pada dua individu yang berbeda, sehingga mungkin memang perlu penyerbukan. “Tapi selama ini yang berbunga adalah bunga jantan, adanya dua bunga mekar bersamaan itu sangat jarang,” jelasnya.

Teori lain, menyebutkan bahwa penyerbukan Rafflesia adalah secara silang. “Tapi sebagian besar yang mekar itu bunga jantan, bagaimana terjadi penyerbukan?,” lanjutnya. Hal yang sama sekali berbeda pengetahuan umum tumbuhan, kata Susatya. “Kalau di dunia tumbuhan sudah banyak kan yang kita tahu, itu jelas semua bagaimana tumbuhan itu memperbanyak diri. Kalau Rafflesia tidak jelas, termasuk dugaan biji Rafflesia disebarkan oleh Babi yang menginjaknya dan kemudian menginjak inangnya, ini juga tidak ada bukti ilmiahnya.”

Satu-satunya yang bisa dijelaskan adalah, bahwa sebaran Rafflesia mengikuti sebaran inangnya. Rafflesia memiliki haustorium, jaringan yang mirip akar, berfungsi untuk menghisap sari makanan dari inangnya. Inang dari Rafflesia adalah tumbuhan liana dari marga Tetrastigma yang termasuk ke dalam famili Vitaceae.

Misteri Rafflesia tidak hanya sampai di situ, jika tumbuhan lainnya memiliki siklus hidup yang bisa dijelaskan secara keseluruhan, tapi tidak dengan Rafflesia. Mengutip pendapat Jamili Nais, ahli botani yang juga panelis warisan dunia, minimnya informasi siklus hidup Rafflesia disebabkan karena panjangnya siklus hidup, kecilnya populasi, tingginya mortalitas, dan ketidak pastian sebuah kuncup untuk menjadi bunga.

Karena misteri itulah, lantas Rafflesia saat ini menjadi tumbuhan yang tidak dapat dipastikan keberlanjutannya. Rafflesia terancam punah karena tidak seorangpun juga dapat membudidayakannya. Meski demikian, kita harap bunga terbesar di dunia ini tidak hanya tinggal nama saja dan menjadi cerita dongeng bagi anak cucu nantinya. [Ricky]